Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
KDM Tegaskan Sekolah Maung Bukan Mau Ciptakan Kesenjangan Baru
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Sekolah Maung dibentuk bukan untuk menciptakan kesenjangan, melainkan wadah bagi siswa berprestasi tinggi agar bisa berkembang dan berkompetisi secara sehat.
  • Dedi menjelaskan sistem zonasi sebelumnya membuat komposisi siswa di sekolah favorit menjadi beragam, sehingga muncul berbagai persoalan yang mendorong lahirnya kembali sekolah unggulan seperti Sekolah Maung.
  • Pemerintah tetap memberi perhatian pada siswa yang masuk melalui zonasi dengan menyediakan beasiswa di sekolah swasta, memastikan akses pendidikan tetap merata bagi semua kalangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
tahun-tahun sebelumnya

Pemerintah menerapkan sistem zonasi dalam penerimaan siswa, membuat komposisi sekolah favorit menjadi lebih beragam dan menimbulkan berbagai persoalan.

17 Juni 2026

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan konsep Sekolah Maung dalam program Indonesia Summit 2026 di Jakarta, menegaskan kebijakan ini bukan untuk menciptakan kesenjangan pendidikan.

17–18 Juni 2026

IDN menggelar Indonesia Summit 2026 di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, serta meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa Sekolah Maung dibentuk untuk memberi ruang bagi siswa berprestasi tinggi, bukan menciptakan kesenjangan baru dalam sistem pendidikan di wilayahnya.
  • Who?
    Pernyataan disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam kegiatan Indonesia Summit 2026 yang digelar oleh IDN Media.
  • Where?
    Pemaparan dilakukan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, sementara program Sekolah Maung diterapkan di berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat.
  • When?
    Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu, 17 Juni 2026, dalam rangkaian acara Indonesia Summit 2026 yang berlangsung hingga 18 Juni 2026.
  • Why?
    Kebijakan ini dibuat karena sistem zonasi sebelumnya dianggap membuat komposisi siswa di sekolah unggulan menjadi terlalu beragam dan memunculkan sejumlah persoalan akademik serta kedisiplinan.
  • How?
    Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka kembali sekolah unggulan bernama Sekolah Maung bagi siswa berprestasi tinggi dan memberikan beasiswa bagi siswa zonasi yang tidak tertampung di sekolah tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Dedi, Gubernur Jawa Barat, bilang Sekolah Maung itu buat anak-anak yang pinter biar bisa belajar bareng dan lomba jadi lebih pinter. Katanya bukan buat bikin orang jadi beda-beda. Anak yang nggak masuk situ tetap dibantu sama pemerintah, bisa sekolah di tempat lain. Sekarang sekolah itu lagi disiapin supaya adil buat semua anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kebijakan Sekolah Maung yang dijelaskan Gubernur Dedi Mulyadi menunjukkan upaya pemerintah Jawa Barat menyeimbangkan kebutuhan siswa berprestasi dengan pemerataan kesempatan pendidikan. Melalui sistem ini, siswa berkemampuan tinggi mendapat ruang untuk berkembang optimal, sementara mereka yang terimbas zonasi tetap memperoleh dukungan beasiswa, mencerminkan komitmen terhadap keadilan dan penghargaan atas potensi setiap anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan Sekolah Manusia Unggul (Maung) di Jawa Barat melaksanakan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) bukan untuk menimbulkan kesenjangan sistem pendidikan di daerahnya, melainkan ruang bagi siswa dengan kemampuan akademik tinggi untuk berkembang dan berkompetisi.

Dedi mengatakan, sejak dahulu setiap daerah memiliki sekolah yang dikenal sebagai sekolah favorit. Di tingkat kabupaten, sekolah tersebut umumnya adalah SMA Negeri 1, sedangkan di Kota Bandung dikenal SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 5.

“Di situ berkumpulnya anak-anak yang punya IQ yang tinggi, punya nilai akademis yang tinggi. Nah, sehingga mereka bisa berkumpul pada satu sekolah untuk berkompetisi sama-sama pinter,” kata Dedi dalam program Indonesia Summit 2026 by IDN Times, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut dia, penerapan sistem zonasi pada tahun-tahun sebelumnya membuat komposisi siswa di sekolah favorit menjadi lebih beragam. Dengan zonasi, siswa berprestasi, siswa dengan kemampuan akademik biasa, hingga siswa yang memiliki masalah kedisiplinan berada dalam satu lingkungan yang sama.

Dedi menilai, kondisi tersebut memunculkan berbagai persoalan di sejumlah sekolah yang sebelumnya dikenal sebagai sekolah unggulan.

Oleh karena itu, Pemprov Jawa Barat kembali memberikan ruang bagi siswa dengan prestasi akademik tinggi untuk bersekolah di sekolah unggulan yang disebut Sekolah Maung.

Dia menegaskan, siswa yang secara wilayah atau zonasi berhak masuk ke sekolah tersebut tetap akan mendapatkan perhatian dari pemerintah.

"Untuk itu saya punya kebijakan, sudah, anak-anak yang punya kepandaian yang lebih, kalau dulu NEM (nilai)-nya paling tinggi, tetap masuk di sekolah-sekolah favorit, disebutnya Sekolah Maung. Yang lain, itu masuk di sekolah yang lainnya," kata dia.

"Tetapi anak-anak yang berhak masuk ke Sekolah Maung karena zonasi, tetap dia diberikan beasiswa di sekolah swasta oleh pemerintah," lanjut dia.

IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Editorial Team

Related Article