Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kedutaan Besar AS Imbau Warganya Tinggalkan Timur Tengah

Kedutaan Besar AS Imbau Warganya Tinggalkan Timur Tengah
bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Robert Linder)
Intinya Sih
  • Kedutaan Besar AS di 11 negara Timur Tengah mengimbau warga Amerika mempertimbangkan meninggalkan kawasan atau siap pergi, di tengah risiko eskalasi, pembatalan penerbangan, dan penutupan wilayah udara.
  • Warga AS di Yordania diminta menghindari pangkalan militer AS, sementara di Israel diminta mengetahui lokasi perlindungan bom; misi diplomatik AS di Lebanon tetap berstatus ordered departure.
  • Peringatan muncul setelah Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran usai mengklaim ada kerangka kesepakatan, sementara Iran mengancam negara yang mendukung atau melindungi AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di sejumlah ibu kota negara Timur Tengah, pada Sabtu (1/8/2026), memperingatkan warganya untuk selalu waspada di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Mereka juga diimbau untuk meninggalkan wilayah tersebut demi keamanan.

"Warga Amerika di kawasan ini sebaiknya mempertimbangkan untuk meninggalkan wilayah tersebut atau bersiap untuk pergi jika terjadi eskalasi," demikian bunyi peringatan keamanan yang diunggah oleh kedutaan besar AS di Bahrain, Mesir, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pihak berwenang juga meminta warga untuk memeriksa informasi penerbangan mereka dan mengikuti arahan keselamatan yang dikeluarkan oleh otoritas setempat.

"Warga Amerika yang saat ini berada di Timur Tengah harus tetap berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan, serta bersiap menghadapi kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara secara berkala dan risiko gangguan perjalanan," tambahnya.

1. Warga AS diminta tidak kunjungi pangkalan militer AS di Timur Tengah

serangan rudal Iran terhadap Israel
serangan rudal Iran terhadap Israel (x.com/@IRIran_Military)

Dilansir The New Arab, warga AS di Yordania diberitahu untuk tidak mengunjungi pangkalan militer AS di negara tersebut, yang baru-baru ini menjadi sasaran serangan rudal Iran. Sementara itu, warga AS di Israel diimbau untuk mencari lokasi tempat perlindungan bom terdekat.

"Rezim Iran sulit diprediksi, sebagaimana terlihat dari keputusan mereka baru-baru ini untuk menyerang wilayah-wilayah di kawasan tersebut tanpa peringatan atau provokasi, serta memperluas serangan ke wilayah yang sebelumnya tidak menjadi sasaran (seperti Mesir)," demikian bunyi unggahan yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar AS di Yerusalem.

Di Beirut, Kedutaan Besar AS menyatakan bahwa misi diplomatiknya masih berstatus ordered departure, yang berarti seluruh personel pemerintah AS yang tidak menjalankan tugas darurat tetap telah direlokasi ke luar Lebanon.

Pada Rabu (29/7/2026), sebuah kapal pengangkut gas milik AS yang sedang bersandar di pelabuhan Mesir dihantam drone hingga terbakar. Otoritas Mesir masih menyelidiki insiden tersebut dan sejauh ini belum menuduh kelompok mana pun sebagai pelaku serangan.

2. AS sempat mengancam akan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran

Presiden AS Donald Trump (Gage Skidmore, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)
Presiden AS Donald Trump (Gage Skidmore, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)

Peringatan keamanan terbaru ini dikeluarkan sehari setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menyerang Iran dengan keras pada akhir pekan ini. Namun, pada Sabtu malam, ia mengumumkan telah membatalkan rencana serangan tersebut setelah mengklaim bahwa kerangka dasar sebuah kesepakatan telah disetujui.

Dilansir Al Jazeera, Trump juga mengklaim bahwa kesepakatan tersebut akan membuka Selat Hormuz sepenuhnya dan mengakhiri apa yang disebutnya sebagai ancaman nuklir Iran. Hingga kini, belum ada tanggapan langsung dari Teheran terkait pernyataan tersebut.

Situs berita AS, Axios, melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, sempat menelepon Trump dan mendesaknya untuk membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan kembali ke meja perundingan.

3. Iran berikan ancaman kepada negara-negara Timur Tengah yang mendukung militer AS

bendera Iran
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Dilansir France24, militer Iran sebelumnya menuduh Washington telah meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. Pihaknya memperingatkan bahwa setiap negara yang mendukung atau melindungi AS akan menjadi sasaran serangan Iran.

Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, juga melontarkan peringatan keras terhadap segala bentuk serangan yang menyasar infrastruktur Iran.

"Kalian melakukan perhitungan berdasarkan kalkulasi militer, tetapi kami merespons dengan logika sejarah. Menyerang infrastruktur Iran secara langsung sama saja dengan membangunkan retakan-retakan yang menjadi fondasi bagi 250 tahun arsitektur hegemoni kalian," tulisnya di akun media sosial X.

AS dan Iran kembali saling serang pada Juli setelah jeda pertempuran selama beberapa hari. Perang antara keduanya pecah pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More