Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menlu AS Sebut Rezim Iran Harus Berganti, Serukan Revolusi!

Menlu AS Sebut Rezim Iran Harus Berganti, Serukan Revolusi!
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sedang diwawancarai oleh Brian Kilmeade dari Fox News di Gedung Departemen Luar Negeri di Washington D.C., pada 25 Februari 2025. (flickr.com/U.S. Department of State via commons.wikimedia.org/U.S. Department of State)
Intinya Sih
  • Menlu AS Marco Rubio menyerukan perubahan rezim Iran yang dipimpin Mojtaba Khamenei, bahkan mendorong warga melakukan revolusi karena kondisi negara dinilai carut-marut.
  • Rubio menuding Iran terobsesi mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan tekanan AS di bawah Donald Trump membuat Teheran lebih terbuka membahas denuklirisasi serta Selat Hormuz.
  • Intelijen AS menilai Mojtaba Khamenei lebih berminat pada senjata nuklir; di tengah krisis ekonomi, protes warga sebelumnya dibalas hukuman dan eksekusi demonstran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, mengatakan rezim pemerintahan Iran harus segera berganti. Sebab, menurutnya, rezim Iran yang kini dipimpin Mojtaba Khamenei sudah membuat kondisi negara menjadi carut marut. Oleh karena itu, Rubio menyerukan warga Iran melakukan revolusi untuk mengubah rezim pemerintahan di negaranya. 

“Mungkin tidak akan terjadi perubahan rezim, tetapi rezim itu harus berubah. Mereka ingin mengekspor revolusi. Itu harus berubah dan satu-satunya cara untuk mengubahnya adalah dengan menetapkan harga yang terlalu tinggi bagi mereka untuk mampu membayarnya,” kata Rubio dalam wawancara bersama Lara Trump dari Fox News, Sabtu (1/8/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.

1. Rezim Pemerintahan Iran sangat terobsesi dengan nuklir

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Dalam pernyataannya, Rubio juga menyebut bahwa rezim Pemerintahan Iran sangat terobsesi dengan pengembangan program senjata nuklir. Padahal, program tersebut sudah dikecam banyak pihak, termasuk oleh AS, karena bisa mengancam keamanan di Timur Tengah. 

Kendati demikian, Rubio merasa beruntung memiliki presiden seperti Donald Trump. Sebab, Trump berani menyerang Iran agar mereka mau menghentikan program senjata nuklirnya. Rubio menyebut Trump adalah satu-satunya pemimpin negara di dunia yang berani melakukan konfrontasi tersebut.  

“Itulah satu-satunya alasan mengapa mereka sekarang bersedia dan dalam beberapa kasus tampak bersemangat untuk melakukan kesepakatan tentang denuklirisasi untuk melakukan kesepakatan tentang selat tersebut (Selat Hormuz). Sebab, sekarang, kita mendekati mereka dari posisi yang kuat, bukan dari posisi yang lemah,” lanjut Rubio. 

2. Intelijen AS menyebut Mojtaba lebih tertarik mengembangkan senjata nuklir

Mojtaba Khamenei sedang berjalan menggandeng kedua anaknya.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sedang berjalan menggandeng kedua anaknya. (commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)

Klaim Rubio soal obsesi rezim Iran terhadap pengembangan senjata nuklir tadi ada benarnya. Sebab, beberapa waktu lalu, intelijen AS melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, lebih tertarik untuk mengembangkan senjata nuklir daripada mendiang sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei. 

Sebetulnya, Mojtaba tidak pernah mengungkapkan kepada publik bahwa dirinya tertarik mengembangkan senjata nuklir. Kendati demikian, hasil investigasi intelijen AS menunjukkan bahwa Mojtaba dan para jajarannya akan melanjutkan pengembangan senjata nuklir yang tertunda pada era sang ayah. Sebab, saat masih memimpin Iran, Khamenei sudah bersumpah untuk mengembangkan senjata nuklir.

3. Rezim Pemerintahan Iran sudah banyak mendapat protes

Ayatollah Ali Khamenei sedang melambaikan tangan.
potret eks Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (tasnimnews.ir/Mahmoud Hosseini via commons.wikimedia.org/Mahmoud Hosseini)

Sebelum era kepemimpinan Mojtaba, rezim Pemerintahan Iran sebetulnya sudah mendapat banyak protes dari warganya. Hal ini karena kondisi ekonomi di Iran yang kian hari kian memburuk. Harga barang pokok naik membuat inflasi turut meningkat sehingga warga menjadi tercekik. Kondisi inilah yang akhirnya memicu gelombang protes besar pada Desember 2025 dan Januari 2026 lalu. 

Alih-alih merespons protes warganya dengan bijak, rezim Iran yang kala itu masih dipimpin Khamenei malah menghukum para demonstran. Bahkan, beberapa dari mereka juga ada yang dieksekusi mati karena protesnya terhadap pemerintah. Aksi ini lantas membuat warga Iran semakin geram. 

Kendati demikian, kegeraman warga Iran terhadap rezim pemerintahnnya seakan hilang ketika Khamenei tewas terbunuh dalam serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Saat Khamenei dimakamkan pada 9 Juli pun, warga Iran banyak yang melayat. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan warga Iran terhadap pemimpinnya begitu besar meski kondisi negara sedang carut marut. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More