Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Psikolog UNAIR: Kekerasan Seksual Keluarga Bisa Ganggu Relasi Anak
Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)
  • Kekerasan seksual dalam keluarga dapat mengganggu tumbuh kembang, emosi, serta hubungan sosial anak di masa depan.
  • Korban dapat mengalami masalah kepercayaan, menarik diri, perubahan perilaku, rasa takut, malu, dan kesulitan tidur atau berkonsentrasi.
  • Keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu menciptakan ruang aman agar anak berani bercerita dan mendapat respons yang melindungi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (12/8/2026)

Primatia Yogi Wulandari menjelaskan kekerasan seksual dalam keluarga dapat mengganggu emosi dan proses perkembangan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kekerasan seksual dalam keluarga dapat mengganggu tumbuh kembang, emosi, dan hubungan sosial anak.
  • Who?
    Dr Primatia Yogi Wulandari, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, menyampaikan penjelasan tersebut.
  • Where?
    Jakarta.
  • When?
    Rabu (12/8/2026).
  • Why?
    Pelaku yang merupakan orang terdekat dapat memanfaatkan ketimpangan kuasa terhadap anak.
  • How?
    Korban dapat mengalami masalah kepercayaan, menarik diri, perubahan perilaku, rasa takut, malu, kesulitan tidur, dan berkonsentrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kekerasan seksual di keluarga bisa membuat anak takut, malu, dan susah percaya kepada orang lain. Bu Primatia dari UNAIR bilang orang dekat yang harusnya melindungi anak bisa memakai kuasa mereka. Anak kadang berubah, kadang terlihat baik saja. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus membuat anak merasa aman untuk bercerita.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernyataan Primatia menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pihak yang dapat menciptakan ruang aman bagi anak. Penekanan pada respons orang dewasa untuk mendengarkan, mempercayai, dan melindungi memberi dasar agar pengalaman anak dapat diungkapkan tanpa disertai penyalahkan atau pertanyaan terhadap ceritanya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kekerasan seksual dalam keluarga dapat mengganggu tumbuh kembang anak hingga hubungan sosialnya di masa depan. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) Primatia Yogi Wulandari mengatakan, pelaku yang merupakan orang terdekat dapat memanfaatkan ketimpangan kuasa terhadap anak.

“Dalam perspektif psikologi perkembangan, pelecehan seksual dalam keluarga menjadi hal yang sangat serius karena pelakunya adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi sosok pelindung. Ketika kepercayaan itu dikhianati, yang terganggu bukan hanya emosi anak, tetapi juga proses perkembangannya,” ujarnya dikutip Rabu (12/8/2026).

1. Anak bisa keehilangan kepercayaan

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Primatia mengatakan, kekerasan seksual dapat memengaruhi cara anak memandang diri sendiri, orang lain, dan hubungan sosial.

Korban berpotensi mengalami masalah kepercayaan, menarik diri dari lingkungan, hingga kesulitan membangun relasi ketika memasuki usia remaja. Namun, respons setiap anak terhadap kekerasan seksual tidak selalu sama.

2. Dampak psikologis tak selalu terlihat

Tim Trauma Healing Dinas Psikologi Angkatan Laut (Dispsial), TNI AL melaksanakan kegiatan pemulihan psikologis bagi warga, khususnya anak-anak dan orang tua, di Kabupaten Bireuen, Aceh, Rabu (31/12/2025) (dok. Dinas Penerangan TNI AL)

Dia mengatakan, sebagian korban dapat menunjukkan perubahan perilaku, sedangkan korban lain tampak baik-baik saja meski mengalami luka psikologis.

“Korban dapat mengalami rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan tidur dan berkonsentrasi. Namun, tidak semua anak memperlihatkan tanda yang sama. Karena itu, kita tidak bisa menilai berat atau ringannya dampak hanya dari perilaku yang tampak,” kata dia.

3. Anak harus aman untuk bercerita

Memarahi di depan umum bisa meninggalkan luka psikologis. (Pexels.com/RDNE Stock project)

Primatia mengungkapkan, pencegahan kekerasan seksual tidak dapat dibebankan kepada anak. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus menciptakan ruang aman agar anak berani mengungkapkan pengalaman.

"Yang perlu kita ciptakan bukan hanya anak yang aman secara fisik, tetapi juga anak yang merasa aman untuk bercerita. Ketika anak berani mengungkapkan pengalamannya, respons pertama orang dewasa haruslah mendengarkan, mempercayai, dan melindungi, bukan menyalahkan atau mempertanyakan ceritanya,” kata dia.

Editorial Team

Related Article