Sistem Kesehatan Yaman di Ambang Kehancuran akibat Perang

- Pertempuran Houthi dan pasukan pemerintah memperparah krisis kesehatan Yaman, menewaskan ratusan orang dan memaksa 145 ribu warga mengungsi dalam sebulan terakhir.
- Kerusakan fasilitas, keterbatasan obat, keluarnya tenaga medis, serta pendanaan yang baru 17 persen dari kebutuhan mengancam layanan darurat, ibu-anak, vaksinasi, dialisis, dan kanker.
- Kepadatan pengungsian, minim air bersih, sanitasi buruk, malnutrisi, serta lumpuhnya pemantauan kesehatan meningkatkan risiko kolera, demam berdarah, dan campak.
Jakarta, IDN Times – Sistem kesehatan Yaman berada di ambang kehancuran akibat pertempuran darat yang semakin sengit. Bentrokan antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah yang disokong Arab Saudi telah menewaskan ratusan orang serta memicu pengungsian besar-besaran.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan sebanyak 145 ribu orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut turut mengancam jutaan warga yang bergantung pada layanan medis dasar.
Direktur Darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Kawasan Mediterania Timur, Annette Heinzelmann, memperingatkan kondisi sistem kesehatan yang semakin buruk.
“Eskalasi terbaru di Yaman mendorong sistem kesehatan yang sudah rapuh menuju titik kehancuran,” kata Heinzelmann seperti dilaporkan France 24.
1. Akses kesehatan Yaman terhambat konflik

ilustrasi tenda pengungsian (pexels.com/Hosny salah) Rasa tidak aman, kerusakan infrastruktur, serta keluarnya tenaga medis membuat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan semakin terbatas. Ketersediaan obat dan perlengkapan medis juga terbatas, sementara akses menuju kawasan pesisir barat Yaman sulit dijangkau sehingga banyak warga tak memperoleh bantuan.
Sebanyak sembilan fasilitas kesehatan di Taiz, Lahj, dan Hodeidah dilaporkan rusak, tak beroperasi, ditutup, atau menjadi sasaran serangan langsung. Kondisi serupa turut memengaruhi layanan perawatan kritis bagi ibu dan anak di sejumlah wilayah konflik.
Dua rumah sakit utama di Marib dan Ras Al-Arah bahkan menghentikan layanan kebidanan darurat komprehensif serta perawatan bayi baru lahir. Seluruh staf dan kapasitas medis dialihkan untuk menampung serta menangani korban luka akibat perang.
2. Pendanaan Yaman menghambat layanan medis

ilustrasi krisis kemanusiaan (pexels.com/Ahmed akacha) Selain ancaman pertempuran, minimnya pendanaan turut membayangi keberlangsungan layanan medis di Yaman. Per Juni 2026, sebanyak 19,3 juta jiwa membutuhkan bantuan kesehatan, sedangkan dana yang tersedia baru mencapai 17 persen dari total kebutuhan.
WHO baru menerima 2 juta dolar AS (setara Rp35,9 miliar) dari target 9 juta dolar AS (setara Rp161 miliar). Kekurangan dana tersebut membuat persediaan penyelamat jiwa, termasuk kit trauma dan obat-obatan penting, di gudang Aden habis total.
Menteri Kesehatan Masyarakat dan Kependudukan Yaman, Qasim Buhaibeh, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa beberapa wilayah dapat kehilangan layanan kesehatan secara total jika penurunan pendanaan terus berlanjut.
Buhaibeh menyebut sektor kesehatan tak akan mampu menampung gelombang pengungsian baru. Situasi itu dapat memicu penutupan fasilitas dan mengancam layanan penting, mulai dari perawatan darurat, kesehatan ibu dan anak, vaksinasi, gizi, dialisis, hingga pengobatan kanker.
Sebelum eskalasi memuncak, WHO mencatat sekitar 60 persen fasilitas kesehatan masih beroperasi penuh. Buhaibeh memperkirakan angka tersebut kini turun hingga di bawah 50 persen.
3. Pengungsian Yaman memperbesar ancaman epidemi

ilustrasi krisis kemanusiaan (pexels.com/Hosny salah) Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat hampir 130 ribu orang atau sekitar 30 ribu rumah tangga mengungsi di tujuh kegubernuran sejak awal September. Jumlah itu menambah 134.550 pengungsi yang tercatat sejak Juni hingga 22 September dan tersebar terutama di Taiz, Lahij, serta Aden.
Kepadatan tempat pengungsian, keterbatasan air bersih, dan buruknya sanitasi meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular seperti kolera. Ancaman epidemi juga muncul ketika sistem pemantauan kesehatan nasional mengalami kelumpuhan.
Sepanjang tahun ini, tercatat hampir 8 ribu dugaan kasus kolera dengan 22 kematian dan lebih dari 9.600 kasus demam berdarah dengan 37 kematian. Selain itu, terdapat lebih dari 22 ribu dugaan kasus campak dengan 128 kematian, melanjutkan catatan pada 2025 yang mencapai lebih dari 27 ribu kasus campak terkonfirmasi.
Kondisi tersebut turut dipengaruhi malnutrisi kronis yang dialami separuh anak berusia di bawah lima tahun. Pelaporan data kesehatan dari wilayah kekuasaan Houthi juga dihentikan selama hampir satu tahun sehingga pemetaan epidemiologi nasional menjadi tak lengkap.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















