Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mahasiswa Iran Demo Aturan Wajib Hijab dan Kondisi Ekonomi

3 min read
Mahasiswa Iran Demo Aturan Wajib Hijab dan Kondisi Ekonomi
ilustrasi demo (pexels.com/Alfo Medeiros)
  • Ratusan mahasiswa Allameh Tabataba'i University berdemonstrasi menolak wajib hijab dan memburuknya ekonomi yang menaikkan biaya studi serta menekan kesejahteraan mahasiswa.
  • Aksi diawasi milisi Basij yang dituding mengancam demonstran; protes serupa berlangsung di Alzahra, Lorestan, dan Razi University, termasuk boikot kantin akibat harga makanan mahal.
  • Protes ekonomi telah berulang di Iran sejak kondisi memburuk pascaperang pada Februari; pemerintah dituduh menindak demonstran, dengan laporan lebih dari 30 ribu orang tewas awal 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Para mahasiswa dari salah satu kampus negeri terbesar di Iran, Allameh Tabataba'i University, dikabarkan menggelar demo besar pada Senin (28/9/2026). Demo tersebut bertujuan untuk memprotes aturan wajib hijab dan kondisi ekonomi di Iran yang carut marut. Kondisi ini lantas membuat biaya studi meningkat dan berdampak pada kesejahteraan mahasiswa.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial X, terlihat ada ratusan mahasiswa yang menggelar demo di luar gedung Allameh Tabataba'i University. Mereka meneriakkan sejumlah kata yang mengandung kritik terhadap Pemerintah Iran, seperti "Matilah tirani, hijab, dan polisi moral!" serta "Slogan rezim adalah dialog, tetapi senjata mereka diarahkan kepada kami!".

  1. 1. Aksi demo diawasi oleh Basij

    Aksi demo tersebut diawasi oleh Basij, milisi yang menjadi salah satu bagian dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Basij sengaja mengawasi para mahasiswa yang sedang berdemo dengan dalih untuk mendengarkan keluhan yang mereka sampaikan. Namun, menurut keterangan media independen mahasiswa, Amirkabir, Basij justru mengancam para mahasiswa yang melontarkan protes.

    Berdasarkan laporan Amirkabir Basij mengancam akan memasukkan mahasiswa yang anti-pemerintah ke dalam karung goni. Para mahasiswa lantas menyebut ancaman itu sebagai tindakan kekerasan yang mengancam keamanan dan keselamatan mereka.

  2. 2. Demo serupa juga terjadi di kampus lain

    Selain di Allameh Tabataba'i University, demo serupa juga terjadi di salah satu kampus khusus perempuan di Iran, Alzahra University. Di sana, dikabarkan ada sekitar 165 mahasiswa yang melakukan protes di dalam kampus terkait kondisi ekonomi di Iran. Namun, sejumlah mahasiswa melaporkan bahwa mereka menerima penolakan saat mencoba masuk ke kampus untuk melakukan protes.

    Di sisi lain, ratusan mahasiwa di Lorestan University dan Razi University juga kompak melakukan demo. Bahkan, mereka dikabarkan sampai memboikot kantin-kantin di kampus sebagai bentuk protes karena harga makanan dan minuman di sana terlalu mahal. Rektor Lorestan University, Mehrdad Dadistani, mengatakan, mahalnya harga makanan dan munuman di kampusnya disebabkan inflasi di Iran yang tinggi. Inflasi ini lantas membuat harga bahan pokok naik.

  3. 3. Demo soal kondisi ekonomi sudah sering terjadi di Iran

    Warga Iran sedang bekerja.
    Warga Iran sedang bekerja. (unsplash.com/omid armin)

    Aksi demo yang dipicu kondisi ekonomi sebetulnya sudah sering terjadi di Iran. Sebab, kondisi ekonomi Teheran memang sedang tidak baik-baik saja. Terlebih, kondisi ekonomi mereka kian memburuk sejak berperang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu.

    Pada Desember 2025 dan Januari 2026, misalnya, ribuan warga Iran ramai-ramai melakukan protes di seluruh kota. Isu yang diangkat dalam aksi tersebut juga berkaitan dengan kondisi ekonomi Iran yang melemah. Para pendemo menilai pemerintah gagal mendongkrak perekonomian sehingga kondisi negara terus menurun.

    Ironisnya, bukannya mendengar keluhan para pendemo, Pemerintah Iran justru bersikap intoleran terhadap mereka. Sebab, militer Iran malah menangkap dan membunuh para pendemo yang dianggap anti-pemerintah. Dilansir Jerusalem Post, ada lebih dari 30 ribu peserta demo yang dibunuh militer Iran pada awal 2026 ini. Tindakan ini lantas memicu kecaman global karena dianggap melanggar hak asasi manusia untuk menyampaikan pendapat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More