PNM berpeluang besar membantu pemerintah dalam pemerataan ekonomi khususnya di wilayah Kalimantan Timur. (dok. PNM)
Pemimpin Cabang Medan, Muhammad Wazir, membenarkan peran aktif Zulhaida di lingkungan PNM. Ia menyebut Zulhaida kerap diminta menjadi pemateri dalam kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) bagi sesama nasabah di wilayah binaannya. "Bu Aida sering kita ajak untuk jadi pemateri untuk kegiatan PKU buat nasabah lainnya," ujar Muhammad Wazir.
"Kisah Ibu Zulhaida adalah contoh nyata bagaimana pembiayaan dari PNM bukan sekadar bantuan modal, tapi pintu masuk bagi perempuan Indonesia untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi. PNM hadir bukan hanya untuk membiayai, tapi mendampingi hingga nasabah seperti Ibu Zulhaida bisa berbalik menjadi pemberdaya bagi sesama nasabah lainnya. Inilah semangat yang terus kami bawa, tumbuh bersama, berdaya bersama," ujar Kindaris, Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero).
Jangkauan Zulhaida sebagai pemberdaya bahkan meluas hingga ke luar jaringan PNM. Permintaan sebuah program pemberdayaan di kawasan pesisir yang tak memiliki kulit jagung membawanya merambah bahan baku baru berupa limbah plastik, langkah yang membuatnya dikenal Ikatan Pemulung Indonesia dan mengantarkannya melatih 175 ibu-ibu se-Kota Medan, hingga diundang Bank Indonesia mempelajari langsung pengolahan limbah di Bali.
"Tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha dan berdoa. Saya memulai dari sampah, tapi saya tidak pernah merasa hidup saya sampah justru penuh berkah," kata Zulhaida.
Perjalanan itu kini bermuara pada langkah baru. Di rumahnya yang juga berfungsi sebagai ruang pelatihan, Zulhaida tengah menyiapkan program kursus kerajinan bagi siapa saja yang ingin belajar, termasuk mereka yang tidak mampu membayar penuh, keberlanjutan dari perjalanan yang ia mulai dari keterbatasan di masa pandemi. #PNMuntukUMKM #PNMPemberdayaanUMKM(WEB)