Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KPAI Peringatkan Bahaya Normalisasi Vape di Medsos
Ilustrasi vape (IDN Times/Aryodamar)
  • KPAI memperingatkan media sosial mulai menormalisasi vape sebagai gaya hidup, simbol pergaulan, dan identitas anak muda, sehingga ruang digital berisiko membentuk persepsi anak dan remaja.
  • Promosi rokok elektronik dinilai makin dekat dengan anak melalui algoritma, influencer, bahasa gaul, kemasan menarik, dan visual relevan; KPAI juga menemukan promosi terselubung di Manado.
  • KPAI meminta aparat, kementerian, platform, influencer, sekolah, dan orang tua memperkuat pengawasan promosi zat adiktif, sambil melanjutkan penelaahan bersama pihak terkait.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
KPAI bilang vape sering dibuat terlihat keren di media sosial untuk anak dan remaja. Ada orang terkenal, gambar bagus, dan kata-kata gaul yang bisa membuat anak ingin ikut. KPAI pernah menemukan promosi diam-diam di Manado. Sekarang KPAI mengajak orang tua, sekolah, media sosial, dan pemerintah menjaga anak dari iklan vape.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai media sosial mulai menjadi ruang normalisasi penggunaan vape di kalangan anak dan remaja. KPAI mengingatkan ruang digital tidak boleh dimanfaatkan untuk membentuk citra vape sebagai bagian dari gaya hidup anak muda.

"Kami melihat adanya upaya normalisasi penggunaan vape di ruang digital. Anak-anak dibentuk untuk menganggap vape sebagai bagian dari gaya hidup, simbol pergaulan, bahkan identitas anak muda," kata Wakil Ketua KPAI Jasra Putra kepada IDN Times, Senin (2/8/2026).

1. Strategi promosi dinilai makin dekat dengan anak

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra (Dok/Istimewa)

Jasra mengatakan promosi produk tembakau dan rokok elektronik kini memanfaatkan algoritma media sosial, influencer, bahasa gaul, kemasan menarik, hingga visual yang dekat dengan anak.

"Pola seperti ini sangat mengkhawatirkan karena anak merupakan kelompok yang masih berada dalam proses perkembangan psikologis dan sangat mudah dipengaruhi oleh figur yang mereka kagumi," ujar Jasra.

2. KPAI temukan promosi terselubung

ilustrasi vape pod (pexels.com/Jonathan Cooper)

KPAI mengaku sebelumnya menemukan berbagai bentuk promosi terselubung saat melakukan pengawasan meningkatnya prevalensi perokok anak di Manado. Temuan itu menunjukkan strategi pemasaran terus berubah mengikuti perilaku digital anak.

3. KPAI minta ruang digital dibuat aman

ilustrasi seorang ibu yang menggunakan gadget untuk mengajarkan anak (pexels.com/Robo Wunderkind)

KPAI meminta aparat, kementerian, platform media sosial, influencer, sekolah, dan orang tua memperkuat pengawasan agar anak tidak menjadi sasaran promosi produk zat adiktif. Saat ini KPAI masih melakukan penelaahan bersama kementerian, lembaga, dan pihak terkait.

Editorial Team

Related Article