Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Iran Bantah Lanjut Negosiasi Damai dengan AS

Iran Bantah Lanjut Negosiasi Damai dengan AS
potret Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei (commons.wikimedia.org/Foad Ashtari)
Intinya Sih
  • Iran membantah melanjutkan negosiasi damai dengan AS dan menegaskan tidak dilibatkan dalam pembicaraan yang diklaim Washington.
  • Iran dan Oman bernegosiasi untuk membuka dua koridor sementara di Selat Hormuz demi menjamin pelayaran komersial yang aman dan bebas.
  • Donald Trump mengklaim negosiasi dengan Iran akan membahas program nuklir dan pembukaan Selat Hormuz, setelah menahan rencana serangan lanjutan AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran membantah akan melanjutkan negosiasi damai dengan Amerika Serikat (AS). Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan, AS memang dikabarkan akan melanjutkan negosiasi untuk menyelesaikan konflik dengan negaranya. Namun, ia mengatakan bahwa Iran tidak dilibatkan dalam negosiasi tersebut.    

Baghaei mengatakan, Iran saat ini akan melakukan negosiasi dengan Pemerintah Oman soal Selat Hormuz. Negosiasi tersebut akan berfokus pada pembahasan jalur khusus agar kapal-kapal komersial bisa berlayar di selat tersebut dengan bebas dan aman. “Kita tidak melakukan negosiasi dengan AS,” tegas Baghaei kepada kantor berita Iran, Fars News Agency, pada Senin (3/8/2026).

1. Iran dan Oman akan membuka dua jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz

Peta Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Menurut Baghaei, Iran dan Oman berencana membuka jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz. Ada dua jalur yang akan dibuka. Namun, Baghaei tidak menjelaskan secara rinci soal kedua jalur tersebut.  

“Diskusi kami dengan Oman saat ini berfokus pada memastikan jalur pelayaran yang aman bagi kapal-kapal di Selat Hormuz. Kami sedang berupaya untuk membangun jalur sementara, bekerja sama dengan Oman, sesegera mungkin, agar kami dapat memastikan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Diskusi saat ini adalah tentang koridor dua arah, bukan dua atau tiga rute terpisah,” kata Baghaei dikutip Anadolu Agency.

2. Donald Trump mengklaim akan melanjutkan negosiasi dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengikuti wawancara dengan Trey Yingst, koresponden luar negeri Fox News, di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, Washington D.C., pada 14 Juli 2026.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengikuti wawancara dengan Trey Yingst, koresponden luar negeri Fox News, di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, Washington D.C., pada 14 Juli 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim akan melanjutkan negosiasi damai dengan Iran pada Senin sore waktu setempat. Menurut Trump, negosiasi tersebut akan berfokus pada penghentian program senjata nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Trump mendesak Iran untuk menyetujui kedua hal tersebut jika tidak ingin kembali diserang AS.

“Jelas, mereka (Iran) tidak ingin diserang. Mereka tahu skala serangan itu karena mereka melihat serangan itu mulai terbentuk. Sekarang yang kami lakukan adalah berbicara dengan mereka dalam bentuk negosiasi. Ini akan dimulai besok sore,” jelas Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan AS, Air Force One, pada Minggu (2/8/2026) dilansir Al Jazeera.

3. Trump menahan serangan lanjutan ke Iran

Ledakan yang sangat kuat hingga menimbulkan api.
ilustrasi serangan (unsplash.com/Emanuel Kypreos)

Klaim Trump soal negosiasi dengan Iran ini disampaikan usai dirinya memutuskan untuk menahan serangan lanjutan ke Iran. Keputusan itu diambil pada Sabtu (1/8/2026). Langkah ini diambil karena Trump mengklaim AS dan Iran bakal melanjutkan negosiasi sehingga serangan tidak lagi diperlukan. 

Sebetulnya, Trump sudah berencana melakukan serangan gabungan bersama pasukan Israel terhadap infrastruktur energi Iran. Rencana itu sudah dibahas dalam rapat kabinet di Camp David, Maryland, pada Jumat (31/7/2026) pekan lalu. Menurut Trump, itu akan menjadi serangan terbesar sejak Perang Dunia II jika benar-benar dilakukan ke Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More