Kerusuhan di Penjara Mahara Sri Lanka, Satu Napi Tewas

- Kerusuhan di Penjara Mahara, Sri Lanka, pada 1 Agustus 2026 menewaskan satu narapidana dan melukai sedikitnya enam lainnya; polisi serta militer dikerahkan untuk mengamankan lokasi.
- Bentrokan merusak total sejumlah fasilitas, termasuk dapur, rumah sakit, gedung rehabilitasi, dan pusat pelatihan vokasional; aparat kemudian mengendalikan situasi dan mengembalikan narapidana ke sel.
- Penjara Mahara dihuni sekitar 4.100 narapidana, hampir empat kali kapasitas resmi. Kelebihan penghuni dinilai memicu ketegangan, sementara pemerintah mempertimbangkan bangunan negara kosong sebagai penjara tambahan.
Jakarta, IDN Times - Kerusuhan pecah di Penjara Mahara, sebuah fasilitas pemasyarakatan berpengamanan tinggi di luar ibu kota Kolombo, Sri Lanka, pada Sabtu (1/8/2026). Insiden tersebut menyebabkan satu narapidana meninggal dunia dan sedikitnya enam orang lainnya mengalami luka-luka.
Aparat kepolisian dan militer langsung dikerahkan untuk mengamankan lokasi serta mencegah kerusuhan meluas. Hingga saat ini, otoritas setempat masih menyelidiki pemicu bentrokan tersebut.
1. Pengerahan pasukan gabungan untuk pengamanan penjara
Kerusuhan mulai terjadi pada Sabtu pagi di dalam Penjara Mahara. Pihak kepolisian segera mengirim personel tambahan, termasuk Pasukan Tugas Khusus (STF), untuk mengisolasi kawasan penjara.
Personel militer juga disiagakan untuk membantu percepatan penanganan situasi. Sementara itu, para narapidana yang terluka langsung dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
"Tujuh tahanan yang terluka telah dievakuasi dari penjara, tetapi satu orang di antaranya meninggal dunia," kata pejabat kepolisian Sri Lanka, dilansir The Straits Times.
Otoritas menegaskan fokus utama saat ini adalah mencegah bentrokan susulan dan memastikan situasi di dalam penjara kembali terkendali.
2. Dampak kerusakan fasilitas bangunan di penjara
Kerusuhan ini mengakibatkan kerusakan parah pada sejumlah bangunan di dalam kompleks penjara. Fasilitas yang rusak meliputi area dapur, rumah sakit, gedung rehabilitasi, hingga pusat pelatihan vokasional.
Aparat gabungan akhirnya berhasil menguasai keadaan dan mengembalikan para narapidana ke dalam sel masing-masing.
"Para narapidana merusak total area dapur, rumah sakit, gedung rehabilitasi yang baru dibangun, serta fasilitas pelatihan vokasional," ujar Deputi Inspektur Jenderal Polisi Sanjeewa Medawatte.
Pihak berwenang kini mulai mendata secara menyeluruh kerugian dan tingkat kerusakan fasilitas akibat peristiwa tersebut.
3. Kelebihan kapasitas penghuni jadi pemicu utama ketegangan
Kepolisian mengungkapkan Penjara Mahara saat ini dihuni sekitar 4.100 narapidana. Jumlah tersebut membengkak hingga hampir empat kali lipat dari kapasitas penampungan yang tersedia.
Kondisi kelebihan kapasitas ini dinilai menjadi faktor utama yang memicu ketegangan di antara para penghuni penjara.
Insiden ini terjadi hanya berselang satu bulan setelah kerusuhan di penjara wilayah Negombo yang menewaskan puluhan orang. Pemerintah Sri Lanka kini berupaya merumuskan solusi untuk mengurangi kepadatan di lembaga pemasyarakatan.
"Penjara ini dihuni oleh 4.100 narapidana, atau sekitar empat kali lipat dari daya tampung resminya," kata Deputi Inspektur Jenderal Polisi Sanjeewa Medawatte.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah berencana mengalihfungsikan sejumlah bangunan milik negara yang tidak terpakai menjadi fasilitas pemasyarakatan tambahan.



















