KRI dr Soeharso-990 melaksanakan penanganan medis operasi patah tulang terhadap korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) (dok. Dispenal)
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan penanganan gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT), serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, dalam konferensi pers mengenai penanganan Gempa NTT dan karhutla, Minggu (23/8/2026).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penanganan gempa sudah memasuki hari ke sembilan, BNPB mencatat masih terjadi ribuan gempa susulan. Di sisi lain, pemerintah terus mengoptimalkan operasi darat dan udara untuk menangani karhutla di enam provinsi prioritas.
BNPB mencatat gempa susulan di NTT hingga Minggu (23/8/2026) mencapai 6.688 kali. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo (M)6,2, sedangkan yang terkecil M 1,1. Sebanyak 130 gempa susulan dirasakan warga.
BNPB memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu sejak gempa utama. Masyarakat juga diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.
Sementara, jumlah korban meninggal dunia mencapai 91 jiwa atau bertambah empat orang dibandingkan data sebelumnya. Adapun 1.286 orang mengalami luka-luka dan 161.084 lainnya mengungsi.
"Dari 91 korban meninggal, 51 persen disebut meninggal akibat dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara 49 persen lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung seperti memiliki penyakit bawaan, seperti jantung, hipertensi, dan diabetes," ungkap Berton.