Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

KRI dr. Soeharso Sukses Operasi Patah Tulang Korban Gempa NTT

KRI dr. Soeharso Sukses Operasi Patah Tulang Korban Gempa NTT
KRI dr Soeharso-990 melaksanakan penanganan medis operasi patah tulang terhadap korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) (dok. Dispenal)

  • KRI dr. Soeharso-990 mengoperasi Arnol Dus, petani 69 tahun yang mengalami patah bahu kiri dan panggul setelah tertimpa dinding rumah saat gempa M7,7 di NTT.
  • Setelah mendapat penanganan awal di IGD, Arnol dioperasi dokter spesialis ortopedi TNI AL Letkol Laut (K) Pieter Giarso; prosedur pada pukul 08.00 WIT berjalan lancar.
  • Hingga 23 Agustus 2026, gempa NTT menewaskan 91 orang, melukai 1.286 orang, dan mengungsikan 161.084 warga; BNPB mencatat 6.688 gempa susulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa yang paling dibutuhkan korban gempa?
Share Article

Jakarta, IDN Times - KRI dr Soeharso-990 melaksanakan penanganan medis operasi patah tulang terhadap korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya, seorang petani berusia 69 tahun yang mengalami cedera akibat tertimpa dinding rumah bernama Arnol Dus.

Arnol Dus mengalami musibah pada 15 Agustus 2026 setelah dinding rumahnya roboh dan menimpa dirinya karena gempa bumi 7,7 SR. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami patah tulang pada bahu kiri dan patah tulang panggul.

  1. 1. Dioperasi oleh dokter spesialis ortopedi TNI AL

    IMG-20260824-WA0008.jpg
    KRI dr Soeharso-990 melaksanakan penanganan medis operasi patah tulang terhadap korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) (dok. Dispenal)

    Setibanya di KRI dr. Soeharso-990, korban diterima di Instalasi Gawat Darurat (IGD) oleh Lettu Laut (K), Aditya Firmansyah untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis awal.

    Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, korban kemudian ditangani dan dioperasi oleh Letkol Laut (K) Pieter Giarso yaitu dokter spesialis ortopedi yang dimiliki oleh TNI AL.

  2. 2. Operasi berjalan lancar

    IMG-20260824-WA0007.jpg
    KRI dr Soeharso-990 melaksanakan penanganan medis operasi patah tulang terhadap korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) (dok. Dispenal)

    Operasi berjalan lancar pada 08.00 WIT. Operasi tersebut merupakan bagian dari upaya KRI dr Soeharso-990 dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah NTT.

    Melalui kehadiran KRI dr Soeharso-990, TNI AL memastikan, terus berkomitmen memberikan dukungan kemanusiaan, khususnya dalam membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis di wilayah terdampak bencana.

  3. 3. Korban jiwa Gempa NTT capai 91 orang dan 161.084 mengungsi

    IMG-20260824-WA0005.jpg
    KRI dr Soeharso-990 melaksanakan penanganan medis operasi patah tulang terhadap korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) (dok. Dispenal)

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan penanganan gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT), serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, dalam konferensi pers mengenai penanganan Gempa NTT dan karhutla, Minggu (23/8/2026).

    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penanganan gempa sudah memasuki hari ke sembilan, BNPB mencatat masih terjadi ribuan gempa susulan. Di sisi lain, pemerintah terus mengoptimalkan operasi darat dan udara untuk menangani karhutla di enam provinsi prioritas.

    BNPB mencatat gempa susulan di NTT hingga Minggu (23/8/2026) mencapai 6.688 kali. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo (M)6,2, sedangkan yang terkecil M 1,1. Sebanyak 130 gempa susulan dirasakan warga.

    BNPB memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu sejak gempa utama. Masyarakat juga diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.

    Sementara, jumlah korban meninggal dunia mencapai 91 jiwa atau bertambah empat orang dibandingkan data sebelumnya. Adapun 1.286 orang mengalami luka-luka dan 161.084 lainnya mengungsi.

    "Dari 91 korban meninggal, 51 persen disebut meninggal akibat dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara 49 persen lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung seperti memiliki penyakit bawaan, seperti jantung, hipertensi, dan diabetes," ungkap Berton.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More