Korban Jiwa Topan Maysak di China Melonjak Jadi 159 Orang

- Korban tewas akibat Topan Maysak dan banjir susulan di Guangxi mencapai 159 orang per 21 Agustus 2026, sementara 10 warga masih hilang setelah verifikasi di wilayah terisolasi.
- Hujan ekstrem memicu banjir bandang dan jebolnya tanggul; enam waduk di Nanning menewaskan 107 orang, sedangkan tanggul Waduk Liulan menewaskan sedikitnya 26 warga.
- Bencana berdampak pada 1,65 juta warga, memaksa lebih dari 320 ribu mengungsi, dengan kerugian 14 miliar yuan; pemerintah memulai pembersihan, perbaikan akses, dan rekonstruksi.
Jakarta, IDN Times - Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana Topan Maysak dan banjir susulan di wilayah Guangxi, China, meningkat drastis menjadi 159 jiwa hingga Jumat (21/8/2026). Otoritas setempat mengonfirmasi data terbaru tersebut setelah tim SAR menyelesaikan verifikasi lapangan di kawasan terdampak.
Bencana akibat cuaca ekstrem ini menghancurkan kawasan pemukiman serta fasilitas publik di sejumlah kota. Pemerintah daerah kini mulai mengalihkan fokus operasional dari pencarian korban menuju penanganan masa pemulihan.
1. Kenaikan drastis jumlah korban jiwa dan warga yang hilang

Ilustrasi topan. (unsplash.com/Ganesh Partheeban) Angka kematian akibat Topan Maysak di Guangxi melonjak signifikan dari laporan awal bulan Juli yang mencatat 39 jiwa. Selain 159 korban tewas, pihak berwenang mengonfirmasi sedikitnya 10 warga masih dinyatakan hilang.
Lonjakan angka korban terungkap setelah tim penanggulangan bencana berhasil menembus pemukiman yang sempat terisolasi. Ribuan personel dikerahkan untuk menyisir aliran sungai dan reruntuhan bangunan guna memastikan keberadaan para korban.
2. Jebolnya tanggul waduk menjadi pemicu utama timbulnya korban

ilustrasi banjir (Freepik/peerafoto) Curah hujan tinggi akibat Topan Maysak melampaui kapasitas penampungan air di Guangxi hingga memicu banjir bandang. Luapan air merusak pemukiman warga secara mendadak akibat jebolnya sejumlah tanggul penahan.
"Wilayah ini mengalami curah hujan deras yang sangat langka secara historis, meluas, dan persisten," kata pejabat pemerintah daerah Guangxi, dilansir Free Malaysia Today.
Sebagian besar korban jiwa disebabkan oleh hancurnya struktur penampung air. Runtuhnya enam waduk di Kota Nanning merenggut 107 nyawa, sementara kerusakan tanggul Waduk Liulan menewaskan sedikitnya 26 penduduk setempat serta merusak belasan ribu hektar lahan pertanian.
3. Dampak ekonomi dan mulainya fase pemulihan pascabencana

ilustrasi bendera China (pexels.com/Hao Liang) Bencana cuaca ekstrem ini berdampak pada 1,65 juta warga di Nanning dan Guigang, dengan lebih dari 320 ribu penduduk dipindahkan ke tempat pengungsian. Total kerugian ekonomi langsung di Guangxi ditaksir mencapai 14 miliar yuan (Rp36,75 triliun).
Pemerintah daerah kini memfokuskan kegiatan pada pembersihan puing material, perbaikan akses transportasi, serta penguatan struktur bendungan guna mengantisipasi badai susulan. Program rekonstruksi kawasan terdampak ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun.
"Saat ini, kedua wilayah telah sepenuhnya memasuki fase pemulihan dan rekonstruksi pascabencana," kata pejabat lokal dalam rapat penanganan bencana.





















