Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menkes: 7 Juta Anak Alami Depresi sampai Anxiety Disorder
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers, Senin (9/3/2026)/ IDN Times Dini Suciatiningrum
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 7 juta anak telah diskrining, dengan hampir 10 persen menunjukkan gejala kecemasan dan depresi melalui Program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026.
  • Data Global School-Based Student Health Survey mencatat peningkatan signifikan anak yang mencoba bunuh diri, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
  • Pemerintah memperluas skrining hingga 25 juta anak serta mempercepat penempatan psikolog klinis di Puskesmas dan menyiagakan layanan krisis kesehatan jiwa melalui platform Healing119.id.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2015

Data Global School-Based Student Health Survey mencatat 3,9 persen anak mencoba bunuh diri.

2023

Persentase anak yang mencoba bunuh diri meningkat menjadi 10,7 persen menurut survei yang sama.

2025–2026

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia dari hasil skrining terhadap sekitar 7 juta anak.

9 Maret 2026

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan hasil skrining CKG dan menyoroti tingginya angka kecemasan serta depresi pada anak dalam konferensi pers di Kemenkes Jakarta.

kini

Pemerintah mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas dan menyiagakan layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id untuk mendukung intervensi cepat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, terdeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan.

"Sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder). Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3/2026).

1. Tren angka akhiri hidup naik

Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)

Menurut dia, persoalan kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius karena dapat berujung pada kematian akibat bunuh diri.

"Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren peningkatan anak yang mencoba bunuh diri, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023," kata dia.

2. Berbagai faktor anak alami bunuh diri

Tangkap layar aksi percobaan bunuh diri korban AP di lantai 4 Mall Center Plaza. (IDN Times/Istimewa).

Menkes mengatakan, masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan keluarga, pertemanan, serta pendidikan.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu menyosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik,” kata dia.

3. Pemerintah mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis

Puskesmas Simpenan (IDN Times/Siti Fatimah)

Menindaklanjuti temuan tersebut, Kemenkes menargetkan perluasan skrining CKG hingga menjangkau 25 juta anak. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, mengatakanm hasil skrining akan ditindaklanjuti oleh puskesmas.

"Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas, yakni sekitar 203 orang. Selain itu, pemerintah menyiagakan layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id guna mendukung intervensi cepat," kata dia.

Editorial Team