Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Operasi Patuh Jaya 2026: Dorong Penggunaan Helm SNI dan Sabuk Pengaman
Operasi Patuh Jaya 2026 (Dok. Korlantas Polri)
  • Operasi Patuh Jaya 2026 menyoroti rendahnya konsistensi penggunaan helm dan sabuk pengaman di kalangan masyarakat.

  • Korlantas Polri menggabungkan edukasi keselamatan dengan penindakan melalui ETLE statis dan handheld.

  • Keberhasilan operasi diukur dari perubahan perilaku, bukan hanya jumlah penindakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
26 Oktober 2026

Operasi Patuh Jaya 2026 berlangsung sejak tanggal ini. Korlantas menargetkan sekitar 60 persen penindakan melalui tilang elektronik.

Kamis (29/10/2026)

Aries Syahbudin menyampaikan keterangan tertulis mengenai penggunaan perlengkapan keselamatan dan pelaksanaan operasi.

26 Oktober hingga 8 November 2026

Operasi Patuh 2026 dilaksanakan dengan target sekitar 60 persen penindakan melalui tilang elektronik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Operasi Patuh Jaya 2026 mendorong penggunaan helm SNI dan sabuk pengaman serta menindak pelanggaran melalui ETLE.
  • Who?
    Korlantas Polri, Kakorlantas Polri Brigjen Pol. Aries Syahbudin, petugas Satlantas, pengemudi, dan penumpang.
  • Where?
    Edukasi keselamatan dilakukan di terminal, kampus, dan kawasan industri; penindakan menggunakan ETLE statis dan handheld.
  • When?
    Operasi berlangsung sejak 26 Oktober hingga 8 November 2026. Pernyataan Aries disampaikan pada Kamis, 29 Oktober 2026.
  • Why?
    Kesadaran masyarakat memakai helm dan sabuk pengaman secara konsisten masih rendah.
  • How?
    Korlantas memberikan edukasi preemtif, menampilkan materi keselamatan, serta merekam pelanggaran dengan ETLE tanpa harus menghentikan kendaraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Operasi Patuh Jaya sedang mengingatkan orang-orang supaya memakai helm SNI dan sabuk pengaman. Kakorlantas Polri Aries Syahbudin bilang, alat keselamatan harus dipakai sebelum kendaraan berjalan. Petugas memberi penjelasan dan memakai kamera ETLE untuk mencatat pelanggaran. Sekarang, perubahan perilaku pengendara menjadi hal yang penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Upaya Korlantas Polri memadukan edukasi dan teknologi penindakan memberi ruang bagi masyarakat untuk memahami alasan penggunaan perlengkapan keselamatan sekaligus memperkuat kepatuhan. Fokus pada perubahan perilaku juga menempatkan keselamatan pengemudi dan penumpang sebagai ukuran penting, bukan sekadar banyaknya pelanggaran yang ditindak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Operasi Patuh Jaya 2026 yang berlangsung sejak Senin (26/10/2026) mencatat masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memakai helm dan sabuk pengaman secara konsisten.

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Brigjen Pol Aries Syahbudin mengatakan, banyak pengendara masih memakai helm dan sabuk pengaman hanya ketika melihat petugas di depan mata.

“Cara pandang itu keliru. Perlengkapan keselamatan bukan formalitas untuk lolos dari tilang, melainkan perlindungan utama ketika risiko benar-benar terjadi,” kata Aries dalam keterangan tertulisnya, Kamis (29/10/2026).

Oleh karena itu, Aries menyebut Korlantas Polri kini mendorong kesadaran itu dari dua arah sekaligus. Edukasi preemtif menyasar pemahaman masyarakat, sementara kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) statis dan perangkat ETLE handheld menindak pelanggaran secara pasif tanpa harus menghentikan kendaraan.

1. Aturan soal penggunaan helm SNI

Ilustrasi tilang elektronik. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Aries menjelaskan, helm dipastikan bisa melindungi jika berstandar SNI dan terpasang dengan tali terkunci. Helm yang hanya diletakkan di kepala berisiko terlepas tepat pada detik benturan, saat pengendara paling membutuhkannya.

“Tinjauan sistematis Cochrane terhadap 61 studi memperkirakan helm menurunkan risiko kematian pengendara sepeda motor sekitar 42 persen dan risiko cedera kepala sekitar 69 persen. Angka itu menjelaskan mengapa helm tidak bisa diperlakukan sebagai aksesori,” kata Aries.

Ia membeberkan, kewajiban yang sama melekat pada penumpang. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) mewajibkan pengemudi dan pembonceng sepeda motor memakai helm SNI. Pasal 291 mengancam pelanggarnya dengan kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250.000, termasuk pengemudi yang membiarkan penumpangnya tanpa helm.

Pengemudi mobil memikul tanggung jawab serupa. Pasal 289 UU LLAJ mengancam pengemudi tanpa sabuk pengaman dengan denda paling banyak Rp250.000.

2. Edukasi preemtif menjangkau ruang publik

Ilustrasi tilang elektronik atau ETLE (Dok.Polda Riau)

Aries mengatakan, kegiatan preemtif helm SNI dan sabuk pengaman hadir dalam bentuk yang mudah dicerna. Petugas menampilkan checklist visual keselamatan berkendara, memutar video demonstrasi benturan, dan membuka tanya jawab langsung dengan masyarakat.

“Petugas juga membagikan leaflet dan stiker imbauan keselamatan di terminal, kampus, dan kawasan industri. Ketiga lokasi itu mempertemukan pengemudi angkutan, mahasiswa, dan pekerja yang setiap hari bergantung pada kendaraan,” ujarnya.

3. ETLE statis dan handheld menindak secara pasif

ilustrasi tilang (IDN Times/Mia Amalia)

Kamera ETLE statis kata Aries, merekam pelanggaran secara otomatis, sehingga petugas dapat mengidentifikasi pelanggar tanpa menghentikan kendaraan. Pengemudi tanpa sabuk pengaman menjadi salah satu sasaran utama kamera ini.

ETLE handheld melengkapi kamera statis. Petugas Satlantas memakai perangkat genggam ini untuk merekam bukti, membaca pelat nomor, dan menindak pelanggaran seperti pengendara tanpa helm SNI.

Dalam Operasi Patuh 2026 pada 26 Oktober hingga 8 November 2026, Korlantas menargetkan sekitar 60 persen penindakan melalui tilang elektronik. Aries menegaskan, keberhasilan operasi tidak semata-mata diukur dari jumlah penindakan. Perubahan perilaku masyarakat menjadi indikator penting dalam membangun budaya berlalu lintas yang aman dan tertib.

“Kita tidak mengukur keberhasilan dari besarnya jumlah penindakan, tetapi dari perubahan perilaku masyarakat yang semakin tertib dan patuh terhadap aturan lalu lintas,” kata dia.

“Kamera ETLE dapat merekam pelanggaran, tetapi tidak dapat mengunci tali helm atau memasang sabuk pengaman. Keputusan itu tetap berada di tangan pengemudi dan penumpang sebelum kendaraan melaju. Helm bukan aksesori perjalanan. Sabuk pengaman bukan sekadar aturan. Keduanya adalah perlindungan,” lanjutnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article