Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengamat Sebut Pernyataan Prabowo ke Pakar sebagai Anti-sains
Presiden Prabowo Subianto di HUT PAN (IDN Times/M. Ilman Nafi’an)
  • PVRI menilai pernyataan Prabowo Subianto tentang pakar menunjukkan sikap anti-pengetahuan.
  • Muhammad Naziful Haq menekankan data, fakta, dan kajian ilmiah diperlukan dalam menentukan kebijakan negara.
  • PVRI menilai kemauan mendengar dan sikap ilmiah merupakan kompetensi dasar dalam demokrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jumat (18/9/2026)

Prabowo menyampaikan pernyataan soal pakar saat menghadiri HUT ke-28 PAN di Jakarta. Dalam pidatonya, dia juga berbicara mengenai keinginannya melihat Indonesia sejahtera.

Sabtu (19/9/2026)

Muhammad Naziful Haq dikutip menyatakan pernyataan Prabowo menandai sikap anti-pengetahuan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    PVRI mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang pakar yang dinilai menunjukkan sikap anti-pengetahuan.
  • Who?
    Presiden Prabowo Subianto, Direktur Eksekutif PVRI Muhammad Naziful Haq, dan Peneliti PVRI Alva Maldini.
  • Where?
    Peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) berlangsung di Jakarta.
  • When?
    Pernyataan Prabowo disampaikan Jumat (18/9/2026), sedangkan Nazif dikutip Sabtu (19/9/2026).
  • Why?
    PVRI menilai sikap ilmiah, data, fakta, dan kajian diperlukan untuk menelaah kemakmuran rakyat serta menentukan kebijakan negara.
  • How?
    Nazif menyampaikan kritik setelah Prabowo menyebut sejumlah pakar, sementara Alva menyoroti perlakuan terhadap ilmuwan dan masyarakat sipil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Prabowo berkata tentang pakar saat acara PAN di Jakarta. Lalu Kak Nazif dari PVRI bilang kata-kata itu seperti tidak mau memakai pengetahuan. Ia bilang orang yang membuat aturan negara perlu mendengar pakar, melihat data dan fakta. Kak Alva juga bilang cara pemimpin memperlakukan ilmuwan bisa memengaruhi citra Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sorotan PVRI menempatkan data, fakta, dan kajian ilmiah sebagai unsur yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kebijakan. Penekanan pada kemauan mendengar serta sikap ilmiah menunjukkan adanya ruang untuk membicarakan prioritas dan target kebijakan secara berbasis pengetahuan, termasuk dalam kaitannya dengan kemakmuran rakyat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Public Virtue Research Institute (PVRI) menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pakar “saking pintarnya jadi goblok” menunjukkan sikap anti-pengetahuan. Kritik itu disampaikan Direktur Eksekutif PVRI, Muhammad Naziful Haq, setelah pernyataan Prabowo dalam HUT ke-28 PAN di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

“Pernyataan yang bersifat umpatan itu bukan kali pertama dilontarkan Presiden secara terbuka. Itu menandai sikap anti-pengetahuan,” kata Nazif, dikutip Sabtu (19/9/2026).

1. PVRI soroti sikap ilmiah

Presiden Prabowo Subianto mencoba menggunakan moda LRT Jakarta dari Kelapa Gading-Manggarai, pada Rabu (16/9/2026). (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Nazif menilai sikap ilmiah penting dalam menentukan kebijakan negara, karena kemakmuran rakyat perlu ditelaah melalui data, fakta, dan kajian. Dia juga mengkritik sikap yang mengabaikan peran pakar dalam penyusunan kebijakan.

“Dia tidak peduli dengan pakar dan hanya ingin rakyat tidak lapar. Padahal kemakmuran rakyat perlu ditelaah melalui data, fakta, dan kajian ilmiah. Di situlah fungsi sains dan pakar," kata dia.

2. Demokrasi dinilai butuh pengetahuan

Presiden Prabowo Subianto menghadiri HUT Ke-25 Partai Demokrat. (Youtube.com/Partai Demokrat)

Menurut Nazif, pernyataan Prabowo tersebut membuat pemimpin kehilangan dua kompetensi dasar dalam demokrasi, yakni mau mendengar dan memiliki sikap ilmiah. Dia menyebut keduanya diperlukan saat menentukan prioritas dan target kebijakan.

“Pernyataan itu membuat seorang pemimpin kehilangan dua kompetensi dasar dalam berdemokrasi, yaitu mau mendengar dan punya sikap ilmiah," katanya.

Nazif menyebut krisis sikap ilmiah dalam pemerintahan dapat memunculkan persoalan dan biaya baru.

3. PVRI soroti dampak terhadap citra Indonesia

Presiden Prabowo Subianto ketika bertemu Presiden Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia pada September 2026. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)

Sementara, Peneliti PVRI Alva Maldini menilai perlakuan terhadap ilmuwan dan masyarakat sipil ikut memengaruhi citra Indonesia.

“Citra suatu negara tergantung pada bagaimana seorang pemimpin menampilkan diri di depan publik," katanya.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal pakar disampaikan saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo berbicara mengenai keinginannya melihat Indonesia sejahtera, termasuk tidak adanya rakyat yang kelaparan, serta anak-anak yang mengalami stunting dan kekurangan gizi.

Selain itu, dia menyinggung sejumlah pakar yang menurutnya menyampaikan kritik berupa fitnah. Dia juga menyebut seorang cendekiawan harus memiliki kejujuran intelektual ketika menggunakan kepakarannya.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok," kata Prabowo.

Curated For You

Editorial Team

Related Article