Salah satu korban kursus Bahasa Arab bonus Umrah, Muhsin Budiono (IDN Times/Irfan Fathurohman)
Salah satu korban, Muhsin Budiono mengaku tergiur untuk memberangkatkan anaknya yang juga lulusan pondok pesantren karena bisa mendapatkan pelatihan sekaligus umrah.
"Saya mendaftarkan anak untuk belajar di Universitas Islam Madinah, belajar bahasa Arab. Anak saya sebelumnya juga jebolan pondok. Meskipun bahasa Arabnya sudah bagus, tapi kami ingin memperdalam," jelasnya.
Muhsin mengaku telah membayar biaya sebesar Rp48,5 juta agar anaknya bisa mendapatkan pelatihan selama 15 hari di salah satu universitas di Madinah. Awalnya, kata dia, pihak kursus menjanjikan keberangkatan pada Agustus 2025.
Akan tetapi, dia sudah merasa curiga karena pihak kursus tidak kunjung memberikan visa ataupun tiket pesawat. Muhsin mengatakan kecurigaan itu akhirnya terbukti pada H-3 keberangkatan, saat pihak kursus membatalkan secara sepihak.
Dia menambahkan, sampai saat ini tidak ada alasan pasti dari pihak kursus terkait alasan pembatalan tersebut. Selain itu, dalih penjadwalan ulang pelatihan juga tidak kunjung terlaksana hingga hampir satu tahun.
"Ketika kami tanya visanya seperti apa, udah turun apa belum, mereka enggak bisa menjawab. Mereka hanya mengatakan ini reschedule, diganti jadwalnya, diundur, nanti akan diganti jadwal berikutnya, tapi sampai hari ini tidak berangkat," tuturnya.
Sementara itu, korban penipuan lain, Ni Putu Titin, juga batal diberangkatkan ke Madinah untuk kursus bahasa Arab dengan dalih kuota yang belum cukup serta akibat perang di Timur Tengah.
Putu mengatakan dirinya kemudian sempat dijadwalkan ulang untuk berangkat pada Desember 2025. Kendati demikian, ketika dirinya tiba di bandara, ternyata bukti yang diberikan oleh pihak kursus palsu.
"Dialihkan keberangkatan ke Desember. Sudah diterbitkan itinerary, kemudian sudah disuruh berkumpul di hotel transit di airport tanggal 19 tengah malam, tapi itinerarynya itu ternyata hoaks," tuturnya.