Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PKP: Indonesia Emas 2045 Harus Lahirkan Manusia yang Adil dan Beradab
Ketua Umum PKP, Isfan Try Sutrisno. (Dok. PKP)
  • PKP menegaskan Indonesia Emas 2045 tidak cukup diukur dari ekonomi, infrastruktur, dan teknologi, melainkan harus membentuk manusia bermartabat serta masyarakat adil dan beradab.
  • Menurut Ketua Umum PKP Isfan Try Sutrisno, ancaman Pancasila kini dapat muncul secara halus melalui perubahan sosial-budaya ketika nilainya tak tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
  • PKP mendorong Pancasila menjadi cara hidup dan pembangunan manusia berkarakter, berintegritas, toleran, serta gotong royong, seiring kemajuan material, keadilan sosial, persatuan, dan demokrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) mengingatkan perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan infrastruktur, dan kemajuan teknologi. Kemajuan juga harus diukur dari kualitas manusia dan peradaban yang berhasil dibangun.

Ketua Umum PKP, Isfan Try Sutrisno, mengatakan Indonesia perlu mulai berani mengajukan pertanyaan yang lebih fundamental di tengah optimisme menuju satu abad kemerdekaan: manusia dan masyarakat Indonesia seperti apa yang sesungguhnya sedang dibangun?

“Indonesia Emas tidak boleh hanya berarti Indonesia yang lebih kaya, lebih modern, dan lebih maju secara fisik. Indonesia Emas harus melahirkan manusia Indonesia yang bermartabat dan masyarakat yang semakin adil dan beradab,” kata Isfan dalam keterangannya.

Menurut Isfan, tantangan terhadap Pancasila hari ini juga telah mengalami perubahan. Jika pada masa lalu ancaman terhadap Pancasila lebih mudah dikenali karena hadir melalui benturan ideologi secara terbuka, tantangan masa kini justru dapat berlangsung lebih halus melalui perubahan sosial dan budaya.

“Ancaman terhadap Pancasila hari ini tidak selalu datang dalam bentuk ideologi yang secara terbuka ingin menggantikannya. Yang perlu kita waspadai justru ketika Pancasila tetap kita ucapkan, tetapi perlahan tidak lagi tercermin dalam cara kita hidup, memperlakukan sesama, menjalankan kekuasaan, dan mengelola perbedaan,” ujar Isfan.

1. Keadilan dan keberadaban tidak dapat dipisahkan

Ilustrasi Pancasila (unsplash.com/Mufid Majnun)

PKP memandang rumusan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dalam sila kedua Pancasila perlu kembali ditempatkan sebagai salah satu fondasi penting pembangunan nasional.

“Keadilan tanpa keberadaban akan kehilangan dimensi kemanusiaannya. Sebaliknya, kita juga sulit berbicara tentang masyarakat yang beradab apabila ketidakadilan masih dianggap biasa. Karena itu, adil dan beradab harus kembali kita baca sebagai satu kesatuan,” kata Isfan.

PKP menilai sejumlah perkembangan sosial patut menjadi peringatan dini, mulai dari ketimpangan, menurunnya kualitas interaksi di ruang digital, polarisasi, intoleransi, hingga persoalan integritas dan kepercayaan terhadap institusi.

2. Pancasila sebagai cara hidup

Ilustrasi Pancasila (unsplash.com/Lighten Up)

PKP berpandangan penguatan Pancasila tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan formal, simbolik, atau hafalan. Pancasila harus kembali hadir sebagai cara hidup bangsa Indonesia.

Ketuhanan harus melahirkan moralitas sekaligus toleransi. Kemanusiaan harus terlihat dalam penghormatan terhadap martabat setiap orang. Persatuan harus membuat bangsa mampu hidup bersama di tengah perbedaan. Permusyawaratan harus membuka ruang bagi dialog, kritik, dan partisipasi. Sementara keadilan sosial harus memastikan kemajuan nasional dapat dirasakan seluas-luasnya oleh rakyat.

“Pancasila tidak pertama-tama kehilangan makna ketika simbolnya tidak terlihat. Pancasila kehilangan daya hidup ketika nilai-nilainya tidak lagi dapat kita temukan dalam kehidupan sosial, budaya, kebijakan, dan perilaku kita sehari-hari,” ujar Isfan.

3. Pembangunan manusia jadi agenda perjuangan PKP

Ketua Umum PKP, Isfan Try Sutrisno. (Dok. PKP)

Bagi PKP, pembangunan manusia tidak boleh berhenti pada upaya menciptakan tenaga kerja yang produktif. Indonesia membutuhkan manusia yang cerdas sekaligus berkarakter, kompeten sekaligus berintegritas, religius sekaligus toleran, kompetitif sekaligus mampu bergotong royong, serta modern tanpa kehilangan identitas kebangsaannya.

“Kita tidak sedang memilih antara kemajuan dan tradisi. Tugas kita adalah memastikan kemajuan memperkuat manusia Indonesia, bukan justru membuat kita kehilangan karakter sebagai bangsa,” ujar Isfan.

Menjelang satu abad Republik Indonesia pada 2045, PKP mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperluas ukuran keberhasilan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi dan kemajuan material tetap penting, tetapi keduanya harus berjalan bersama dengan keadilan sosial, integritas, persatuan, kualitas demokrasi, dan pembangunan karakter bangsa.

“Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh gedung, jalan, industri, teknologi, atau besarnya ekonominya. Kekuatan bangsa ditentukan oleh manusia seperti apa yang berhasil dibentuknya. Karena itu, Indonesia Emas harus sekaligus menjadi Indonesia yang adil dan beradab,” ujar Isfan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article