Jakarta, IDN Times - "PDIP tidak memosisikan sebagai oposisi dan juga tidak semata-mata membangun koalisi kekuasaan. Kita adalah partai ideologis yang berdiri di atas kebenaran, berpihak pada rakyat dan bersikap tegas sebagai partai penyeimbang demi menjaga arah pembangunan nasional tetap berada dalam rel konstitusi dan kepentingan rakyat banyak."
Kalimat itu lantang disuarakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya, pada kongres ke-6 PDIP di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 2 Agutus 2025 silam. Taklimat tersebut sekaligus mempertegas standing position PDIP dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di tengah konfigurasi politik paska pemilu 2024.
Meskipun di luar pemerintah, publik beberapa kali menyaksikan hubungan personal yang hangat antara Megawati dan Prabowo. Kedua tokoh kerap menampilkan simbol keakraban dan penghormatan. Pada peringatan Hari Pancasila 2026, Megawati terlihat menggandeng tangan Prabowo setelah Kepala Negara selesai berpidato lebih kurang 30 menit di atas mimbar di halaman Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada Senin (1/6/2026) pagi. Momen hangat itu jadi simbol relasi kedua tokoh dalam landscape politik nasional.
Sementara pada kesempatan yang berbeda, Megawati justru membela mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa. Mereka diminta agar jangan takut menyalurkan aspirasinya di ruang publik karena Indonesia negara demokrasi.
Situasi ini justru memunculkan pertanyaan ketika relasi personal tokoh utamanya terjalin baik, sejauh mana PDIP mampu menjaga jarak politik dari pemerintah sebagai partai yang berada di luar kekuasaan?
