Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Prabowo Doyan ke Luar Negeri, Dino Patti Saran Videocall Lebih Hemat
Founder FPCI Dino Patti Djalal soal AS minta akses udara Indonesia. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Dino Patti Djalal mengkritik seringnya perjalanan luar negeri Presiden Prabowo yang dianggap tidak wajar dan berpotensi memboroskan anggaran negara.
  • Ia menyarankan efisiensi lewat teknologi seperti video call serta penerapan formula '1 plus 8' agar kunjungan luar negeri lebih terencana dan hemat biaya.
  • Dino menekankan pentingnya empati dan transparansi pemimpin terhadap penggunaan dana publik, karena masyarakat kini menuntut kepekaan dalam setiap aktivitas diplomatik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Presiden Prabowo sering banget pergi ke luar negeri. Pak Dino, yang dulu kerja di luar negeri juga, bilang itu kebanyakan dan bikin uang negara banyak keluar. Katanya, lebih baik pakai video call aja biar hemat. Sekarang orang-orang minta presiden lebih hati-hati pakai uang dan lebih peduli sama rakyatnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengkritik keras tingginya frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai tidak lazim dan memicu pemborosan anggaran negara. Dino mengingatkan adanya tanggung jawab moral untuk menyampaikan kondisi ini apa adanya demi merespons jeritan publik.

"Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri, dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran," kata Dino dalam rekaman video yang diunggah di akun X pribadinya, dikutip Sabtu (30/5/2026).

1. Manfaatkan video call yang benilai 0 rupiah

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal usai menerima penghargaan dari IDN Times di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan. (IDN Times/Santi Dewi)

Dino memaparkan satu kali perjalanan internasional bisa menelan biaya hingga ratusan miliar rupiah, karena mencakup logistik rombongan yang besar. Guna menghemat anggaran, dia memberikan lima saran konkret, salah satunya adalah mengoptimalkan teknologi komunikasi dan mencontoh efisiensi kepala negara lain, seperti Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum.

"Jadi dengan satu videocall yang benilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri, dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama," ujarnya.

2. Soroti kunjungan spontan yang dinilai tidak direncanakan

Founder FPCI Dino Patti Djalal. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Selain itu, Dino menyarankan Istana menerapkan formula "1 plus 8", yaitu memanfaatkan satu forum internasional untuk melakukan pertemuan bilateral dengan setidaknya delapan kepala negara lain yang hadir.

Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu juga menyoroti sejumlah kunjungan spontan yang dinilai tidak direncanakan dengan baik, serta mengusulkan agar misi diplomatik taktis didelegasikan kepada Menlu Sugiono, demi memangkas biaya protokoler kepresidenan.

3. Masyarakat menuntut adanya empati dan transparansi

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Dino menegaskan, di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, masyarakat menuntut adanya empati dan transparansi dari pemimpin negara terkait penggunaan anggaran publik. Kesan kemegahan protokoler diplomatik sudah tidak lagi membuat rakyat kagum, jika harus dibayar dengan biaya yang sangat besar.

"Rakyat mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri," kata dia.

Sebagaimana diketahui, hingga pertengahan 2026, Presiden Prabowo tercatat telah melakukan setidaknya sudah 49 kali lawatan atau kunjungan kerja ke luar negeri sejak awal masa jabatannya pada Oktober 2024. Dengan kunjungan terakhir ke Prancis, genap sudah kunjungan Prabowo ke luar negeri menjadi 50 kali. Di sisi lain, dia selalu gembar-gembor kebijakan efisiensi di jajaran pemerintahannya.

Editorial Team

Related Article