Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif dan salah satu pendiri Project Murtatuli Evi Mariani membantah tudingan berulang terkait narasi "antek asing" yang selalu disematkan terhadap organisasi media yang dipimpin sejak 2021.
Kolaborasi beberapa media yang melibatkan Tempo, Kompas.com, Suara, Tribunnews, dan Drone Emprit yang menyelidiki operasi informasi yang menargetkan Konde.co dan Direktur Eksekutif Yayasan Lokataru, Delpedro Marhaen membongkar operasi pembentukan narasi di media sosial terkait demonstrasi di Indonesia pada akhir Agustus 2025.
Berdasarkan temuan dari kolaborasi tersebut, terungkap adanya dugaan operasi Foreign Information Manipulation Interference (FIMI). Operasi FIMI melibatkan aktor asing pro Rusia dan China yang diamplifikasi aktor domestik.
Tempo dituduh telah mendapatkan pendanaan dari seorang filantropis asal Amerika Serikat (AS), George Soros. Bahkan sejumlah media juga dituding sebagai "antek asing", termasuk di antaranya Project Multatuli.
Evi Mariani menegaskan, Project Multatuli mendapatkan mandat dari para pembacanya untuk melayani mereka yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan yang ugal-ugalan. Ia juga menegaskan, sebagai gerakan jurnalisme publik, kesetiaan Project Murtatuli adalah rakyat Indonesia.
"Mandat kami dari pembaca adalah melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan yang ugal-ugalan. Sebagai gerakan jurnalisme publik, kesetiaan kami pada publik, atau rakyat Indonesia," kata Evi kepada IDN Times, Kamis (28/5/2026).
