Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
RI Bakal Pulangkan Lima Bayi Orangutan Sumatra yang Ditemukan di India
Orangutan di Nyaru, Menteng, Kalimantan Tengah (dok. Kemenhut)
  • Kemenhut RI mengupayakan repatriasi lima bayi orangutan yang ditemukan di Distrik Balasore, Odisha, India.
  • Kelima satwa berusia sekitar 1 hingga 1,5 tahun, dalam kondisi sehat, dan kini dirawat di Nandankan Zoological Park.
  • Pemerintah Indonesia berkoordinasi dengan otoritas India dan mitra konservasi sambil menunggu pemeriksaan DNA untuk memastikan asal-usulnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa, 8 September 2026

Lima bayi orangutan ditemukan Dinas Kehutanan setempat di kawasan hutan Distrik Balasore, Negara Bagian Odisha, India.

Jumat (11/9/2026)

Ristianto Pribadi menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia telah melakukan koordinasi untuk penanganan, verifikasi asal-usul, dan repatriasi lima orangutan.

Saat ini

Seluruh satwa ditempatkan untuk perawatan dan penanganan di Nandankan Zoological Park, Bhubaneswar, India. Identifikasi jenis dan asal-usul genetik masih menunggu pemeriksaan DNA.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kemenhut RI mengupayakan pemulangan atau repatriasi lima bayi orangutan yang ditemukan di India.
  • Who?
    Kementerian Kehutanan RI, Ristianto Pribadi, otoritas India, BRIN, Kementerian Pertanian, dan mitra konservasi terlibat dalam penanganan.
  • Where?
    Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Negara Bagian Odisha, India, dan ditempatkan di Nandankan Zoological Park, Bhubaneswar.
  • When?
    Satwa ditemukan pada Selasa, 8 September 2026. Ristianto menyampaikan keterangan tertulis pada Jumat (11/9/2026).
  • Why?
    Keberadaan lima bayi orangutan di India menimbulkan dugaan kuat adanya aktivitas perdagangan dan penyelundupan satwa liar ilegal lintas negara.
  • How?
    Penanganan dilakukan melalui koordinasi, verifikasi asal-usul, pemeriksaan DNA, serta prosedur konservasi setelah repatriasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lima bayi orangutan ditemukan di hutan di India. Mereka sehat dan sekarang dirawat di kebun binatang di Bhubaneswar. Kementerian Kehutanan Indonesia mau membawa mereka pulang ke Indonesia. Om dan tante dari Indonesia serta India sedang bekerja bersama. Mereka juga akan memeriksa DNA supaya tahu asal bayi orangutan itu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Koordinasi Kementerian Kehutanan dengan otoritas India, lembaga ilmiah, dan mitra konservasi membuka ruang penanganan yang terukur bagi lima bayi orangutan. Perawatan yang sedang diberikan di India, disertai rencana pemeriksaan DNA dan rehabilitasi setelah pemulangan, menempatkan keselamatan serta kesejahteraan satwa sebagai prioritas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI akan mengupayakan pemulangan atau repatriasi lima bayi orangutan yang ditemukan Dinas Kehutanan setempat pada Selasa, 8 September 2026 di kawasan hutan Distrik Balasore, Negara Bagian Odisha, India.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan, kelima orangutan tersebut masih berusia sekitar 1 hingga 1,5 tahun dan ditemukan dalam kondisi sehat.

Saat ini, seluruh satwa telah ditempatkan untuk mendapatkan perawatan dan penanganan di Nandankan Zoological Park, Bhubaneswar, India.

“Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah langkah konkret melalui koordinasi dengan otoritas terkait di India maupun di dalam negeri untuk memastikan penanganan, verifikasi asal-usul, serta mengupayakan pemulangan atau repatriasi kelima orangutan tersebut ke Indonesia,” kata Ristianto dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/9/2026).

1. Identifikasi masih bersifat awal

Orangutan di Nyaru, Menteng, Kalimantan Tengah (dok. Kemenhut)

Ristianto menjelaskan, dari pengamatan awal terhadap ciri fisik dan morfologinya, kelima satwa tersebut diduga merupakan orangutan yang berasal dari Pulau Sumatra.

Namun demikian, Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa identifikasi tersebut masih bersifat awal dan kepastian jenis serta asal-usul genetiknya akan dilakukan melalui pemeriksaan DNA oleh otoritas ilmiah yang berwenang.

“Orangutan bukan merupakan satwa asli India. Habitat alami orangutan hanya terdapat di Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Sumatra dan Borneo,” ujar Ristianto.

2. Kelima orangutan diduga korban dari aktivitas perdagangan

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan 87 ribu hektare kawasan preservasi untuk orangutan di Kalimantan Timur (Kaltim). (Dok. Kemenhut)

Keberadaan lima bayi orangutan di India menimbulkan dugaan kuat bahwa satwa tersebut merupakan korban dari aktivitas perdagangan dan penyelundupan satwa liar secara ilegal yang melibatkan jaringan lintas negara.

Ristianto mengatakan, saat ini pihaknya telah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak, antara lain Management Authority CITES India, Kedutaan Besar India di Jakarta, Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) selaku Scientific Authority, serta Kementerian Pertanian untuk mendukung proses penanganan dan percepatan repatriasi.

“Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses berjalan sesuai dengan ketentuan hukum nasional maupun mekanisme internasional, termasuk ketentuan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES),” kata dia.

Kemenhut juga telah berkomunikasi dengan sejumlah mitra konservasi yang memiliki pengalaman dalam penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan, antara lain Yayasan Ekosistem Leuser (YEL), Jaringan Satwa Indonesia (JSI), Center for Orangutan Protection (COP), dan Forum Orangutan Indonesia (FORINA).

“Para mitra tersebut telah menyatakan kesiapan untuk mendukung Kementerian Kehutanan dalam proses repatriasi dan selanjutnya penanganan serta rehabilitasi kelima bayi orangutan tersebut apabila telah dipulangkan ke Indonesia,” ujar dia.

3. Kelima orangutan akan mengikuti prosedur konservasi

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melakukan repatriasi atau pemulangan empat individu orangutan dari Thailand ke Indonesia. (Dok. Kemenhut)

Setelah proses repatriasi dapat dilakukan, penanganan terhadap satwa akan mengikuti prosedur konservasi yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, karantina, identifikasi genetik, asesmen perilaku, serta rehabilitasi sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

Selanjutnya, apabila memenuhi persyaratan, satwa akan dipertimbangkan untuk mengikuti tahapan rehabilitasi menuju pelepasliaran ke habitat alaminya.

Kementerian Kehutanan menegaskan, keselamatan dan kesejahteraan kelima bayi orangutan tersebut menjadi prioritas, sekaligus memastikan proses pemulangan dilakukan secara hati-hati, terukur, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kasus ini sekaligus menunjukkan bahwa upaya perlindungan satwa liar tidak dapat dilakukan oleh satu negara saja. Perdagangan dan penyelundupan satwa liar merupakan kejahatan yang dapat melintasi batas negara sehingga membutuhkan kerja sama internasional yang kuat.

“Pemerintah Indonesia terus memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain, CITES, lembaga penegak hukum, otoritas ilmiah, serta organisasi konservasi untuk mencegah perdagangan ilegal satwa liar dan mengembalikan satwa Indonesia yang ditemukan di luar negeri,” kata dia.

Kementerian Kehutanan juga memastikan akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kelima bayi orangutan dapat kembali ke Indonesia, sekaligus mendukung proses investigasi untuk mengungkap asal-usul dan kemungkinan jaringan perdagangan ilegal yang terlibat.

“Pemerintah juga mengajak seluruh pihak, baik di dalam maupun luar negeri, untuk bersama-sama memperkuat upaya pemberantasan perdagangan ilegal satwa liar dan memastikan orangutan sebagai bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia tetap terlindungi,” ucap Ristianto.

Curated For You

Editorial Team

Related Article