Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah Partai Bulan Bintang, Parpol Era Reformasi yang Kini Dualisme
Lambang Partai Bulan Bintang (partaibulanbintang.or.id)
  • PBB lahir pada 17 Juli 1998 sebagai penerus semangat Masyumi, didukung berbagai ormas Islam, dan dipimpin Yusril Ihza Mahendra sejak awal berdiri di era Reformasi.
  • Partai ini pernah berperan penting di pemerintahan melalui tokoh-tokohnya seperti Yusril dan MS Kaban yang menjabat menteri pada masa Presiden Abdurrahman Wahid.
  • Dalam perjalanan pemilu dari 1999 hingga 2024, PBB mengalami pasang surut perolehan suara hingga kini menghadapi dualisme kepemimpinan antara kubu Yuri Kemal Fadlullah dan Gugum Ridho Putra.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1989

Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) digagas oleh Mohammad Natsir dan tokoh nasional lain sebagai wadah diskusi isu keumatan yang kelak menjadi embrio lahirnya PBB.

1960-an

Partai Masyumi dibubarkan, meninggalkan warisan perjuangan politik Islam yang kemudian ingin dihidupkan kembali melalui PBB.

17 Juli 1998

Partai Bulan Bintang didirikan tak lama setelah runtuhnya rezim Orde Baru sebagai penerus semangat Masyumi.

26 Juli 1998

PBB resmi dideklarasikan di halaman Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan dukungan berbagai organisasi Islam nasional.

Pemilu 1999

PBB meraih sekitar 2 juta suara atau 2 persen secara nasional dan memperoleh 13 kursi di DPR RI; Yusril Ihza Mahendra menjabat Menteri Hukum dan Perundang-undangan di pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Pemilu 2004

PBB memperoleh sekitar 2,97 juta suara atau 2,62 persen dan mendapatkan 11 kursi DPR RI; partai mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono–Jusuf Kalla dalam Pilpres yang dimenangkan pasangan tersebut.

Pemilu 2009

PBB meraih sekitar 1,8 juta suara atau 1,7 persen secara nasional dan tidak lolos ambang batas parlemen namun tetap mempertahankan kursi di DPRD daerah.

Pemilu 2014

PBB memperoleh sekitar 1,5 persen suara nasional sehingga belum memenuhi ambang batas parlemen tetapi tetap eksis melalui kader-kader di DPRD daerah.

Pemilu 2019

PBB mendapat sekitar 1 juta suara dan tidak lolos ke parlemen pusat; partai mendukung pasangan Joko Widodo–Ma’ruf Amin dalam Pilpres.

Pemilu 2024

PBB berupaya meningkatkan elektabilitas namun hanya meraih 484.486 suara atau 0,32 persen dan kembali tidak lolos parliamentary threshold; tetap memiliki kursi di tingkat daerah.

kini

PBB menghadapi dualisme kepengurusan antara kubu hasil Muktamar VI di Bali yang dipimpin Gugum Ridho Putra dan kubu hasil Musyawarah Dewan Partai (MDP) yang dipimpin Yuri Kemal Fadlullah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Partai Bulan Bintang (PBB) tengah menghadapi dualisme kepemimpinan antara kubu hasil Muktamar VI di Bali dan kubu hasil Musyawarah Dewan Partai (MDP), setelah perjalanan panjang sejak berdiri pada era Reformasi 1998.
  • Who?
    Kubu PBB hasil MDP dipimpin oleh Yuri Kemal Fadlullah, putra Yusril Ihza Mahendra, sementara kubu hasil Muktamar VI di Bali dipimpin oleh Gugum Ridho Putra, keponakan Yusril.
  • Where?
    Dinamika internal ini berlangsung di tingkat nasional dengan pusat kegiatan partai berada di Jakarta, termasuk deklarasi awal yang dilakukan di halaman Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
  • When?
    PBB didirikan pada 17 Juli 1998 dan dideklarasikan pada 26 Juli 1998. Dualisme kepengurusan muncul setelah pelaksanaan Muktamar VI dan Musyawarah Dewan Partai yang digelar dalam periode terkini.
  • Why?
    Dualisme terjadi akibat perbedaan hasil forum internal partai antara Muktamar VI dan Musyawarah Dewan Partai yang masing-masing menetapkan ketua umum berbeda dari keluarga besar Yusril Ihza Mahendra.
  • How?
    Kedua kubu menjalankan struktur organisasi masing-masing dengan klaim
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu ada partai namanya Partai Bulan Bintang. Partai ini dibuat tahun 1998 sesudah zaman Soeharto selesai. Yang pimpin dulu namanya Pak Yusril. Sekarang partainya punya dua kelompok yang beda, satu dipimpin anaknya Pak Yusril, satu lagi keponakannya. Mereka sama-sama bilang partainya yang benar dan masih belum akur sampai sekarang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan dinamika internal, Partai Bulan Bintang menunjukkan keteguhan dalam mempertahankan semangat reformasi dan nilai-nilai Islam yang menjadi dasar pendiriannya. Konsistensinya mengikuti setiap pemilu serta keberhasilan menjaga kursi di berbagai DPRD daerah mencerminkan daya tahan organisasi dan komitmen kadernya terhadap perjuangan politik yang berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Partai politik berbasis Islam, Partai Bulan Bintang (PBB), merupakan salah satu kekuatan politik yang lahir dari rahim Reformasi 1998.

Partai ini dikenal sebagai penerus semangat Masyumi, namun dalam perjalanannya tak lepas dari dinamika internal, termasuk konflik yang berujung dualisme kepemimpinan.

Kini PBB menjelma seperti fenomena yang dialami parpol pada umumnya, yakni dualisme kepengurusan. Ada PBB versi kubu hasil Muktamar VI di Bali dan kubu hasil Musyawarah Dewan Partai (MDP).

Uniknya, masing-masing ketua umum PBB adalah keluarga dari Ketua Dewan Pertimbangan Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra. Ketua umum kubu PBB hasil MDP adalah putra dari Yusril yakni Yuri Kemal Fadlullah. Sementara ketua umum kubu hasil Muktamar VI di Bali adalah keponakan Yusril, Gugum Ridho Putra.

Berikut ini sejarah mengenai Partai Bulan Bintang.

1. Awal berdiri: Warisan Masyumi di era reformasi

Partai Bulan Bintang (partaibulanbintang.or.id)

PBB didirikan pada 17 Juli 1998, tak lama setelah runtuhnya rezim Orde Baru. PBB secara resmi dideklarasikan pada 26 Juli 1998 di halaman Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

PBB didirikan dan didukung oleh berbagai organisasi kemasyarakatan Islam nasional, seperti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Persatuan Islam, serta berbagai organisasi lainnya seperti BKSPPI, FUI, PUI, Perti, Al-Irsyad, KISDI, dan PPMI. Organisasi kepemudaan dan lembaga dakwah seperti HMI, PII, BKPRMI, dan lainnya juga turut menjadi bagian dari kekuatan awal PBB.

Kelahirannya tidak lepas dari keinginan para tokoh Islam untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan politik Masyumi yang sempat dibubarkan pada 1960-an.

Cikal bakalnya bahkan sudah muncul jauh sebelumnya melalui Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) yang digagas sejumlah tokoh nasional seperti Mohammad Natsir dan kawan-kawan pada 1989. Forum ini menjadi wadah diskusi isu keumatan sekaligus embrio bagi lahirnya partai baru di era Reformasi.

Sejak awal berdiri, PBB dipimpin oleh Yusril Ihza Mahendra sebagai ketua umum, dengan MS Kaban sebagai sekretaris jenderal. Yusril dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam masa transisi Reformasi, termasuk berperan dalam amandemen UUD 1945 dan pernah menjabat menteri di beberapa kabinet.

Sebagai partai Islam modernis, PBB membawa gagasan integrasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara, termasuk mendorong penerapan prinsip syariat melalui jalur konstitusi. Sebagai partai Islam, PBB berlandaskan nilai-nilai Islam yang universal dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), serta berkomitmen memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan kedaulatan hukum di Indonesia.

2. Kepemimpinan awal dan peran di pemerintahan

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Musyawarah Dewan Partai (MDP) Partai Bulan Bintang (PBB) di Kelapa Gading, Jakarta Utara (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Pada awal berdirinya, PBB dipimpin oleh Yusril Ihza Mahendra sebagai Ketua Umum dan MS Kaban sebagai Sekretaris Jenderal. Yusril dikenal sebagai tokoh reformasi yang berperan dalam proses transisi kekuasaan dari Soeharto serta berkontribusi dalam amandemen UUD 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM serta Menteri Sekretaris Negara.

Sementara itu, MS Kaban merupakan tokoh yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Kehutanan dan dikenal tegas dalam isu lingkungan dan pemberantasan pembalakan liar.

3. Pasang surut PBB di setiap pemilu

Partai Bulan Bintang (PBB) deklarasi dukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) 2024 (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Menghimpun dari situs resmi PBB, pada Pemilu 1999 pasca bergulirnya reformasi, Partai Bulan Bintang melangkah ke panggung demokrasi dengan semangat baru yang lahir dari perubahan zaman. Di tengah dinamika politik yang masih mencari bentuk, PBB hadir membawa idealisme dan harapan akan tegaknya keadilan serta kepastian hukum.

Dengan keterbatasan sebagai partai yang relatif baru, PBB tetap mampu meraih sekitar 2 juta suara atau sekitar 2 persen secara nasional. Perolehan tersebut mengantarkan PBB memperoleh 13 kursi di DPR RI—sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan kepercayaan publik, tetapi juga menjadi pijakan awal dalam memperjuangkan aspirasi umat di parlemen.

Perjalanan itu kemudian berlanjut ketika PBB turut mengambil bagian dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Abdurrahman Wahid. Dalam fase penting tersebut, salah satu tokoh utama PBB, Yusril Ihza Mahendra, dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri Hukum dan Perundang-undangan.

Di posisi tersebut, Yusril tidak hanya menjalankan fungsi pemerintahan, tetapi juga membawa semangat reformasi hukum yang menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sistem hukum yang lebih adil dan demokratis. Kehadiran kader PBB dalam lingkar pemerintahan menjadi bukti bahwa perjuangan politik tidak berhenti di pemilu, tetapi berlanjut dalam kerja nyata untuk bangsa.

Momen ini menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan PBB—sebuah fase awal yang menegaskan bahwa meski lahir di tengah perubahan, PBB mampu mengambil peran strategis dalam menentukan arah masa depan Indonesia.

Kemudian, pada Pemilu 2004, PBB berhasil meraih kepercayaan rakyat dengan perolehan sekitar 2,97 juta suara atau 2,62 persen secara nasional, yang mengantarkannya memperoleh 11 kursi di DPR RI. Capaian ini menjadi bukti bahwa semangat perjuangan yang diusung PBB tetap mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.

Momentum tersebut semakin menguat ketika dalam Pilpres 2004, PBB memberikan dukungan kepada pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Dukungan tersebut berbuah hasil dengan kemenangan pasangan tersebut dalam pemilihan presiden, sekaligus menandai babak baru dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Seiring dengan kemenangan tersebut, kader-kader PBB turut mengambil peran dalam pemerintahan dengan mengisi sejumlah posisi strategis.

Selanjutnya, dinamika politik yang terus berubah, perjalanan Partai Bulan Bintang tidak selalu berjalan mulus. Pada Pemilu 2009, PBB menghadapi tantangan besar ketika perolehan suara berada di angka sekitar 1,8 juta suara atau 1,7 persen secara nasional.

Angka tersebut memang belum cukup untuk membawa PBB melampaui ambang batas parlemen (parliamentary threshold), sehingga langkahnya harus terhenti di tingkat DPR RI. Namun, bagi PBB, perjuangan tidak pernah semata diukur dari kursi di parlemen pusat.

Di balik hasil tersebut, semangat dan kepercayaan rakyat tetap hidup di berbagai daerah. Hal ini tercermin dari keberhasilan PBB mempertahankan ratusan kursi di DPRD provinsi maupun kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Perjalanan politik Partai Bulan Bintang kembali diuji dalam pada Pemilu 2014. Dengan perolehan sekitar 1,5 persen suara nasional, langkah menuju parlemen pusat kembali belum dapat terwujud karena belum memenuhi ambang batas yang ditetapkan.

Namun, bagi PBB, perjalanan ini bukanlah akhir. Di tengah keterbatasan hasil di tingkat nasional, denyut perjuangan justru tetap terasa kuat di daerah. Banyak kader PBB berhasil menduduki kursi DPRD di berbagai daerah.

Lalu pada gelaran Pemilu 2019, perjalanan Partai Bulan Bintang kembali memasuki fase penuh ujian dalam dinamika demokrasi nasional. Dengan perolehan sekitar 1 juta suara, langkah menuju parlemen pusat kembali belum dapat ditembus.

Di tengah tantangan itu, PBB tetap mengambil peran strategis dalam arah politik nasional. Dalam kontestasi pemilihan presiden, PBB memberikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.

Terakhir pada Pemilu 2024, PBB berupaya meningkatkan elektabilitas dengan memperkuat basis pemilih Islam, konsolidasi organisasi, serta strategi komunikasi politik yang lebih modern.

Namun, berdasarkan hasil Pemilu 2024, PBB kembali belum berhasil lolos parliamentary threshold 4 persen, sehingga belum memiliki perwakilan di DPR RI. PBB cumaa bisa meraup 484.486 suara atau 0,32 persen.

Meski demikian, PBB tetap mempertahankan eksistensinya di tingkat daerah melalui kursi DPRD provinsi dan kabupaten/kota.

.

Editorial Team