Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Timbunan Sampah di Makassar Capai 1.644 Ton Per Hari, KLH Kebut PSEL
Pemerintah pusat mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar Raya (Dok. KLH)
  • Pemerintah pusat dan daerah menandatangani PKS percepatan pembangunan fasilitas PSEL di Makassar Raya sebagai langkah konkret menghadapi darurat sampah nasional dan menjalankan arahan Presiden.
  • Timbunan sampah di Makassar Raya mencapai 1.644 ton per hari, dengan rencana pengolahan 1.000 ton per hari melalui PSEL untuk menghasilkan energi bersih dan mengurangi beban TPA.
  • Gubernur Sulsel menyatakan kesiapan penuh mendukung proyek PSEL, menekankan kolaborasi lintas daerah serta edukasi masyarakat menuju sistem pengelolaan sampah modern yang berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah pusat mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar Raya melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Maros.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan, komitmen ini sebagai langkah konkret menjawab darurat sampah nasional sekaligus menjalankan arahan Presiden Republik Indonesia.

Ia juga menegaskan, pembangunan PSEL merupakan solusi strategis dalam memutus mata rantai persoalan sampah perkotaan yang kian mendesak.

“Dengan timbulan sampah yang mencapai hampir 2.000 ton per hari di Makassar Raya, pendekatan waste to energy menjadi solusi efektif untuk mengurangi beban TPA sekaligus menghasilkan energi bersih,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/4/2026).

1. 67 persen TPA di Indonesia masih open dumping

Pemerintah pusat mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar Raya (Dok. KLH)

Menteri Hanif menjelaskan, percepatan pembangunan PSEL merupakan bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah nasional menuju sistem yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.

“Pemerintah juga menargetkan penghentian praktik open dumping di seluruh TPA pada 2026, mengingat saat ini sekitar 66 persen TPA di Indonesia masih menggunakan sistem tersebut,” ujarnya.

2. Timbunan sampah di Makassar Raya mencapai 1.644 ton

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meninjau langsung kondisi TPA Tamangapa, Makassar, didampingi Wali Kota Munafri Arifuddin dan Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi, Jumat (30/5/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Berdasarkan data KLH 2025, timbunan sampah di Makassar Raya mencapai 1.644 ton per hari, terdiri dari Kota Makassar 1.034 ton per hari, Kabupaten Gowa 403 ton per hari, dan Kabupaten Maros 207 ton per hari.

“Melalui pembangunan PSEL, direncanakan pengolahan sebesar 1.000 ton per hari, dengan komposisi 800 ton per hari dari Kota Makassar, 150 ton per hari dari Kabupaten Gowa, dan 50 ton per hari dari Kabupaten Maros,” ujar Hanif.

3. Gubernur Sulsel menyatakan kesiapan penuh

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif mengunjungi pegunungan sampah di TPA Batulayang Pontianak. (IDN Times/istimewa).

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan kesiapan penuh pemerintah daerah dalam mendukung implementasi proyek ini.

“Provinsi dan kabupaten/kota siap berkolaborasi, termasuk melalui penguatan edukasi dan pembentukan budaya masyarakat yang adaptif terhadap sistem pengelolaan sampah modern,” ujarnya.

Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur, Makassar Raya dinilai memiliki urgensi tinggi dalam pengembangan fasilitas pengelolaan sampah modern.

Kondisi TPA Tamangapa yang telah overloaded dan masih menggunakan sistem open dumping menjadi salah satu alasan utama percepatan pembangunan PSEL di kawasan ini.

KLH menegaskan, penandatanganan PKS menjadi langkah awal implementasi nyata kolaborasi pusat dan daerah. Pemerintah akan terus memperkuat sinergi untuk memastikan keberhasilan proyek, mulai dari jaminan pasokan sampah, penguatan pengelolaan di hulu, hingga kesiapan operasional PSEL ke depannya.

Editorial Team