Jakarta, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan sepanjang Agustus 2026, tidak bisa hanya dikaitkan dengan fenomena El Nino. Organisasi lingkungan tersebut melihat, persoalan karhutla berkaitan erat dengan tata kelola ekosistem hutan dan gambut yang belum berjalan optimal, lemahnya pengawasan, serta penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Walhi menyebut, karhutla sebagai persoalan yang terbentuk dari rangkaian kebijakan dan praktik pengelolaan lingkungan yang bermasalah. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika kepentingan korporasi berhadapan dengan lemahnya pengawasan negara terhadap kawasan hutan dan lahan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran.
Berdasarkan pemantauan Walhi, sebanyak 202.848 titik hotspot terdeteksi di seluruh Indonesia selama periode 1-24 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 12.165 titik masuk dalam kategori tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Peningkatan titik panas juga terlihat dalam pola harian. Terdapat lonjakan hingga 872 titik pada 8 Agustus, kemudian meningkat menjadi 1.330 titik pada 19 Agustus dan mencapai 1.046 titik pada 22 Agustus. Data tersebut memperlihatkan intensitas kebakaran yang masih tinggi menjelang penghujung Agustus.
Kalimantan Barat tercatat sebagai provinsi dengan hotspot high confidence terbanyak, yakni 4.472 titik. Posisi berikutnya ditempati Kalimantan Tengah dengan 1.954 titik, sedangkan Sumatera Selatan mencatat 770 titik.
Di wilayah Sumatra, Walhi menemukan 72 hotspot high confidence berada dalam area konsesi perusahaan. Sebanyak 56 titik terdapat pada sektor kehutanan atau Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), sementara 16 titik lainnya berada pada konsesi perkebunan sawit.
PT BMH di Sumatra Selatan menjadi konsesi dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni 33 titik. Temuan tersebut memperkuat perhatian Walhi terhadap kawasan konsesi perusahaan yang kembali mengalami kebakaran.
Kondisi serupa terlihat di Kalimantan dengan skala lebih besar. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, terdapat 1.259 hotspot high confidence di dalam konsesi perusahaan. Jumlah tersebut lebih dari 17 kali lipat dibandingkan temuan pada konsesi di Sumatra.
Dari angka tersebut, sektor perkebunan atau sawit menyumbang 776 hotspot, sedangkan PBPH mencatat 483 hotspot. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar, masing-masing 573 hotspot dari sektor sawit dan 251 hotspot dari sektor PBPH.
Direktur Walhi Kalimantan Barat, Sri Hartini, menyoroti dampak karhutla terhadap kesehatan warga, terutama kelompok rentan. Sri menilai persoalan tersebut belum diikuti langkah perlindungan masyarakat yang memadai.
“Kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi, sampai hari ini belum ada upaya kongkrit yang dilakukan oleh Pemerintah. Meski Prabowo sudah berkunjung ke Kalimantan barat. Ada banyak anak kecil, lansia dan perempuan yang mengalami penyakit paru-paru namun tidak ada upaya pemenuhan dan perlindungan hak atas kesehatan bagi masyarakat di tengah kebakaran hutan dan lahan," ujar Sri dilansir dari laman resmi Walhi, Jumat (4/9/2026).
