Petugas padamkan karhutla yang dekati masjid. (IDN Times/istimewa).
Berdasarkan deteksi panas satelit Copernicus, emisi karhutla jauh lebih besar, mencapai 65,18 Mt C atau setara sekitar 239 juta ton CO2. Artinya, 239 juta ton CO2 setara dengan seluruh emisi bahan bakar fosil tahunan Kazakhstan, mencakup pembangkit listrik batu bara, industri, transportasi, dan seluruh aktivitas ekonomi negara tersebut selama satu tahun penuh.
"Besarnya pelepasan emisi ini memperlihatkan kontradiksi serius dalam komitmen iklim Indonesia melalui FOLU Net Sink 2030. Pemerintah menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (FOLU) mampu menyerap emisi lebih besar daripada emisi yang dilepaskannya pada 2030," kata Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI, Patria Rizky Ananda, dalam keterangan pers dikutip Kamis (10/9/2026).
"Namun, ketika hutan, lahan, dan gambut terus terbakar, karbon yang seharusnya tersimpan, justru kembali dilepaskan ke atmosfer," sambungnya.
Patria menyebut bagaimana Indonesia dapat mencapai FOLU Net Sink, jika saat bersamaan puluhan hingga ratusan juta ton CO2 terus dilepaskan dari karhutla? Setiap kebakaran berarti karbon yang seharusnya tersimpan di dalam ekosistem dilepaskan kembali ke atmosfer.
"Ini bukan sekadar persoalan penanggulangan kebakaran, tetapi persoalan kredibilitas komitmen iklim Indonesia,” ujar dia.