Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WALHIi: Folu Net Sink 2030 Terancam Gagal akibat Karhutla
Petugas Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Wirakarya Sakti (WKS) beristirahat di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Jumat (28/8/2026). (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
  • WALHI memperkirakan emisi karhutla Januari–awal September 2026 mencapai 31 juta ton CO2; berdasarkan deteksi Copernicus, angkanya mencapai sekitar 239 juta ton CO2.
  • WALHI menilai emisi kebakaran yang berulang mengancam target FOLU Net Sink 2030, karena hutan dan gambut yang seharusnya menyimpan karbon justru terus melepaskannya.
  • WALHI mendesak pencegahan berbasis risiko, perlindungan serta restorasi gambut, pengawasan konsesi, penegakan hukum, dan pelibatan masyarakat adat serta komunitas lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

Emisi CO2 dari karhutla tercatat sebesar 53.527.407 ton CO2 menurut data SiPongi+.

2025

Emisi CO2 dari karhutla meningkat menjadi 56.204.535 ton CO2, atau sekitar 2,7 juta ton CO2 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Januari hingga awal September 2026

WALHI memperkirakan emisi dari vegetasi yang terbakar mencapai sekitar 31 juta ton CO2.

sepanjang 2026

Karhutla kembali menjadi sumber pelepasan emisi besar. Deteksi satelit Copernicus mencatat emisi sekitar 239 juta ton CO2.

2030

Pemerintah menargetkan FOLU Net Sink tercapai, tetapi WALHI menilai target itu terancam oleh karhutla yang terus melepaskan karbon.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    WALHI menilai kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari hingga awal September 2026 melepaskan emisi besar yang mengancam pencapaian target FOLU Net Sink 2030 Indonesia.
  • Who?
    WALHI, termasuk Pengkampanye Iklim dan Isu Global Patria Rizky Ananda serta Koordinator Pengkampanye WALHI Nasional Uli Arta Siagian, menyampaikan penilaian tersebut kepada pemerintah.
  • Where?
    Karhutla terjadi di Indonesia, terutama menjadi perhatian pada ekosistem hutan, lahan, gambut, kawasan berulang terbakar, dan wilayah konsesi.
  • When?
    Penghitungan mencakup kebakaran dari Januari hingga awal September 2026; pernyataan WALHI dikutip pada Kamis, 10 September 2026.
  • Why?
    Karhutla melepaskan karbon yang tersimpan di hutan, lahan, dan gambut, sementara target FOLU Net Sink 2030 mengharuskan sektor kehutanan dan penggunaan lahan menyerap emisi lebih besar daripada pelepasannya.
  • How?
    WALHI memperkirakan 31 juta ton CO2 dari vegetasi terbakar dan, berdasarkan deteksi panas satelit Copernicus, 65,18 Mt C atau sekitar 239 juta ton CO2 dari karhutla.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hutan dan tanah di Indonesia banyak terbakar pada 2026. WALHI bilang api itu membuat banyak gas kotor naik ke udara. Gasnya bisa sampai 239 juta ton CO2. Pemerintah ingin hutan menyimpan lebih banyak gas pada 2030, tapi ini bisa gagal kalau hutan dan gambut masih terbakar. WALHI minta pemerintah lebih mencegah kebakaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sorotan WALHI terhadap emisi karhutla memberi gambaran yang lebih terukur mengenai tantangan FOLU Net Sink 2030 sekaligus memperjelas ruang pembenahan. Penekanan pada pencegahan berbasis risiko, perlindungan gambut, pengawasan konsesi, penegakan hukum, serta peran masyarakat adat dan komunitas lokal menunjukkan unsur-unsur penting telah diidentifikasi dalam agenda iklim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 kembali menjadi sumber pelepasan emisi dalam skala besar. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) melakukan penghitungan emisi dari karhutla yang terjadi. Estimasi emisi dari vegetasi yang terbakar sepanjang Januari hingga awal September 2026, mencapai sekitar 31 juta ton CO2.

Emisi akibat karhutla ini setara dengan hampir seluruh emisi gas rumah kaca tahunan Kuba, negara dengan populasi sekitar 11,3 juta jiwa, mencakup seluruh sektor energi, transportasi, industri, dan pertanian mereka selama satu tahun penuh.

1. Emisi karhutla sekitar 239 juta ton CO2

Petugas padamkan karhutla yang dekati masjid. (IDN Times/istimewa).

Berdasarkan deteksi panas satelit Copernicus, emisi karhutla jauh lebih besar, mencapai 65,18 Mt C atau setara sekitar 239 juta ton CO2. Artinya, 239 juta ton CO2 setara dengan seluruh emisi bahan bakar fosil tahunan Kazakhstan, mencakup pembangkit listrik batu bara, industri, transportasi, dan seluruh aktivitas ekonomi negara tersebut selama satu tahun penuh.

"Besarnya pelepasan emisi ini memperlihatkan kontradiksi serius dalam komitmen iklim Indonesia melalui FOLU Net Sink 2030. Pemerintah menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (FOLU) mampu menyerap emisi lebih besar daripada emisi yang dilepaskannya pada 2030," kata Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI, Patria Rizky Ananda, dalam keterangan pers dikutip Kamis (10/9/2026).

"Namun, ketika hutan, lahan, dan gambut terus terbakar, karbon yang seharusnya tersimpan, justru kembali dilepaskan ke atmosfer," sambungnya.

Patria menyebut bagaimana Indonesia dapat mencapai FOLU Net Sink, jika saat bersamaan puluhan hingga ratusan juta ton CO2 terus dilepaskan dari karhutla? Setiap kebakaran berarti karbon yang seharusnya tersimpan di dalam ekosistem dilepaskan kembali ke atmosfer.

"Ini bukan sekadar persoalan penanggulangan kebakaran, tetapi persoalan kredibilitas komitmen iklim Indonesia,” ujar dia.

2. FOLU Net Sink 2030 ditargetkan dicapai melalui sejumlah intervensi

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) tepatnya di wilayah Rata Agung, Kabupaten Pesisir Barat. (Dok. Balai Besar TNBBS).

FOLU Net Sink 2030 ditargetkan dicapai melalui sejumlah intervensi, termasuk pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, peningkatan sekuestrasi karbon, serta pengurangan emisi dari kebakaran dan dekomposisi gambut.

Namun, kata Patria, karhutla yang terus berulang di Indonesia menunjukkan salah satu sumber emisi utama sektor FOLU tersebut, belum berhasil dikendalikan.

"Bahkan FOLU ini sebenarnya telah gagal sejak disusun. Logika FOLU yang masih memberikan kuota besar bagi perubahan hutan menjadi konsesi bisnis berkorelasi dengan karhutla yang terus terjadi," ujar Patria.

Merujuk data SiPongi+, misalnya, Emisi CO2 dari karhutla tercatat 53.527.407 ton CO2 pada 2024, kemudian meningkat menjadi 56.204.535 ton CO2 pada 2025. Artinya, terjadi peningkatan sekitar 2,7 juta ton CO2 dalam satu tahun.

"Kondisi ini menunjukkan kontradiksi mendasar: pemerintah menargetkan peningkatan penyerapan karbon, tetapi belum berhasil menghentikan pelepasan karbon dari ekosistem yang sama,” kata Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye WALHI Nasional.

3. Karhutla dinilai harus ditempatkan sebagai persoalan utama kebijakan iklim

Suasana karhutla di Kalbar. (IDN Times/adpim).

Bagi WALHI, karhutla harus ditempatkan sebagai persoalan utama kebijakan iklim Indonesia. Pemerintah harus memastikan pencegahan dilakukan berdasarkan risiko, terutama pada ekosistem gambut dan kawasan yang berulang kali terbakar, sekaligus menghentikan tata kelola yang membuat kawasan penyimpan karbon semakin rentan terhadap kebakaran.

Perlindungan dan restorasi gambut, kata Uli, harus ditempatkan sebagai bagian inti dari strategi FOLU, bukan hanya menjadi agenda ketika kebakaran telah terjadi.

Pada saat yang sama, pemerintah harus memperketat pengawasan terhadap konsesi dan menegakkan hukum terhadap korporasi yang terbukti menyebabkan atau membiarkan terjadinya karhutla.

Integrasi kebijakan iklim dengan tata ruang dan perizinan juga mutlak dilakukan agar kebijakan pemanfaatan lahan tidak justru menghasilkan pelepasan emisi yang bertentangan dengan target FOLU Net Sink. Upaya ini harus berjalan bersama dengan penguatan peran masyarakat adat dan komunitas lokal dalam menjaga dan memulihkan ekosistem yang rentan terbakar.

"Keberhasilan FOLU Net Sink 2030 tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak karbon yang diklaim berhasil diserap, tetapi juga dari seberapa jauh pemerintah mampu menghentikan karbon yang terus dilepaskan," kata Patria.

"Karhutla 2026 menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut belum selesai. Selama hutan dan gambut masih terus terbakar, jutaan ton emisi masih dilepaskan, dan sumber pelepasan tersebut tidak dihentikan, maka komitmen FOLU Net Sink 2030 patut dipertanyakan. Indonesia tidak bisa mengklaim diri menuju net sink dengan membiarkan ekosistem penyimpan karbon terus menjadi sumber emisi," kata Uli.

Curated For You

Editorial Team

Related Article