Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wamen LH Ingatkan Sumber Air Tawar Sudah Kritis
Wawancara Wamen LH Terkait Isu Air dan Lingkungan di Cisarua. IDN Times/Linna Susanti
  • Wamen LH Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyoroti krisis air tawar yang hanya sekitar 0,9 persen dari total air di bumi dan rentan tercemar akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan.
  • Diaz mendorong penggunaan lubang biopori sebagai solusi praktis untuk meningkatkan daya serap tanah dan mengurangi risiko banjir di tingkat rumah tangga, terutama di wilayah padat penduduk.
  • Ia juga menegaskan pentingnya penanaman pohon karena satu pohon mampu menghasilkan sekitar 400 liter oksigen per hari serta berperan menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
5 April 2026

Wamen LH Diaz Faisal Malik Hendropriyono di Cisarua, Bogor memperingatkan bahwa sumber air tawar kini berada di titik kritis dan hanya sekitar 2 persen dari total ketersediaan air di bumi. Ia menyoroti ancaman polusi akibat pembuangan sampah ke sungai serta dampaknya terhadap kesehatan manusia.

kini

Diaz mendorong mitigasi banjir dengan penggunaan lubang biopori di setiap rumah dan pembagian sekitar 50 alat biopori ke 10 desa di Cisarua. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan ruang terbuka hijau karena satu pohon dapat menghasilkan sekitar 400 liter oksigen per hari.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Wakil Menteri Lingkungan Hidup memperingatkan kondisi kritis sumber air tawar di Indonesia serta mendorong langkah mitigasi lingkungan seperti penggunaan lubang biopori dan peningkatan ruang terbuka hijau.
  • Who?
    Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, bersama masyarakat di wilayah Cisarua, Bogor.
  • Where?
    Kegiatan dan pernyataan berlangsung di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Minggu, 5 April 2026.
  • Why?
    Peringatan disampaikan karena ketersediaan air tawar semakin terbatas akibat polusi dan perubahan iklim yang mengancam ketahanan lingkungan serta kesehatan manusia.
  • How?
    Pemerintah mendorong masyarakat menjaga kebersihan sungai, membuat lubang biopori sebagai alternatif sumur resapan, serta menanam pohon untuk meningkatkan daya serap tanah dan produksi oksigen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Diaz bilang air bersih di bumi sudah sedikit sekali. Banyak orang buang sampah ke sungai, jadi airnya kotor dan bisa bikin sakit. Dia juga bilang hujan sekarang sering banget, bisa bikin banjir. Supaya air bisa masuk tanah, orang disuruh bikin lubang biopori di rumah. Pak Diaz juga bilang tanam pohon penting supaya kita bisa bernapas dan tidak kebanjiran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peringatan Wamen LH Diaz Faisal Malik Hendropriyono menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap keberlanjutan sumber air tawar dan lingkungan. Upaya konkret seperti pembagian alat biopori di desa-desa Cisarua mencerminkan solusi praktis yang memberdayakan masyarakat. Penekanan pada penghijauan dan kesadaran menjaga kebersihan air juga menegaskan komitmen untuk melindungi keseimbangan ekosistem secara nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bogor, IDN Times – Ancaman kelangkaan air bersih dan dampak perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global, melainkan risiko nyata yang menghantui ketahanan domestik.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, memperingatkan bahwa ketergantungan manusia pada sumber air tawar yang sangat terbatas kini berada di titik kritis.

"Air yang bisa kita gunakan jumlahnya sangat terbatas, hanya sekitar 2 persen dari ketersediaan air yang ada. Jadi, air tawar yang ada di laut, sungai, danau, dan sumur itu jumlahnya sangat sedikit, hanya sekitar 0,9 persen," ujar Diaz di Cisarua Bogor pada Minggu (5/4/2026).

1. Polusi air jadi ancaman

ilustrasi polusi air (unsplash.com/Xianyu hao)

Diaz menyoroti tentang kondisi bumi yang terlihat penuh air, tetapi faktanya mayoritas air asin. Dia memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan membuang sampah ke sungai karena air tawar yang sedikit tersebut sangat rentan terhadap kontaminasi yang membahayakan kesehatan manusia.

"Masalahnya, jika kita masih sering membuang sampah di sungai atau danau, air yang sedikit itu akan terpolusi. Akibat dari polusi itu macam-macam, mulai dari virus, bakteri, hingga mikroplastik," kata Diaz.

2. Mitigasi banjir lewat lubang biopori di setiap rumah

ILustrasi Implementasi Lubang Serapan Biopori. IDN Times/Linna Susanti

Untuk menghadapi perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem, Diaz mendorong masyarakat menjaga keseimbangan daya serap tanah.

Diaz mengungkapkan, salah satu solusinya adalah dengan menggunakan sumur resapan. Namun karna sulitnya membangun sumur resapan di setiap rumah dia menyarankan lubang biopori sebagai alternatif.

"Sumur resapan yang dalamnya 1 sampai 3 meter mungkin tidak bisa dibangun dengan cepat dan mudah oleh setiap rumah tangga. Maka dari itu, solusinya bisa menggunakan lubang biopori," kata Diaz.

Ada sekitar 50 alat biopori yang dibagikan kepada 10 desa di wilayah Cisarua sebagai solusi praktis dan murah untuk memitigasi risiko banjir di tingkat rumah tangga.

"Biopori ini hanya menggunakan pipa paralon yang tinggal dipasang saja, tidak repot seperti membuat sumur resapan. Alatnya memang kecil, tapi bisa membantu mengurangi risiko banjir," kata dia.

3. Satu pohon, 400 liter oksigen per hari

ilustrasi pohon (pexels.com/Jan van der Wolf)

Diaz juga menekankan pentingnya meningkatkan ruang terbuka hijau (RTH) yang masih rendah di banyak daerah. Dia mengatakan, keberadaan pohon adalah faktor hidup dan mati bagi manusia, mengingat fungsinya sebagai penyedia oksigen utama dan penahan laju air.

"Satu pohon bisa memproduksi oksigen sekitar 400 liter per hari. Artinya, kalau semua pohon ditebang, bukan hanya banjir yang datang, tapi manusia lama-lama tidak bisa bernapas," ucap dia.

Editorial Team