Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
140 Ribu Gen Z di Jerman Bakal Demo Tolak Rencana Wajib Militer
bendera Jerman (unsplash.com/Maheshkumar Painam)
  • Lebih dari 140 ribu pelajar dan kaum muda Jerman mendaftar demo serentak di 23 kota pada 31 Oktober 2026, menolak wajib militer serta pemangkasan anggaran pendidikan dan sosial.
  • Inisiatif Gen Z steht auf menuntut investasi untuk pendidikan, jaminan sosial, kesehatan, dan hunian terjangkau, sembari menolak kebijakan penghematan yang dinilai mengorbankan masa depan generasi muda.
  • Penyelenggara memastikan aksi berlangsung damai, sementara polisi menyiagakan personel, kendaraan khusus, serta pemantauan udara untuk mengamankan demonstrasi dan mengantisipasi potensi gangguan ekstremis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Lebih dari 140 ribu pelajar dan kaum muda di Jerman telah mendaftarkan diri secara daring untuk menggelar aksi demonstrasi serentak di 23 kota pada Sabtu (31/10/2026). Gerakan yang dimotori oleh inisiatif generasi Z ini menolak rencana wajib militer dari pemerintah serta memprotes pemangkasan anggaran pendidikan dan sosial di tengah kenaikan biaya hidup.

Demonstrasi serentak tersebut dijadwalkan mulai berlangsung pada pukul 14.00 waktu setempat dengan mengusung slogan "Our future is in our hands". Pusat aksi utama akan dipusatkan di Berlin, Hamburg, Munich, Frankfurt, dan Cologne, sementara aksi lokal lainnya digelar serentak di 18 kota.

1. Tuntutan investasi masa depan dan penolakan wajib militer

ilustrasi wajib militer (Teresa H. Hawkins, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Dalam dokumen bersikap mereka, kelompok Gen Z steht auf mendesak pemerintah agar menerapkan kebijakan yang berpihak kepada generasi muda. Mereka menuntut adanya investasi pada sektor pendidikan, jaminan sosial, layanan kesehatan, dan hunian yang terjangkau. Inisiatif ini menolak langkah penghematan anggaran negara yang dilakukan dengan mengorbankan masa depan kaum muda.

Penyelenggara aksi menyatakan bahwa kaum muda tidak ingin lagi hanya berdiam diri ketika keputusan mengenai masa depan mereka dibuat tanpa mendengarkan suara mereka. "Kami adalah anak-anak muda yang tidak ingin lagi menyaksikan keputusan tentang masa depan kami dibuat tanpa mendengarkan suara kami," ungkap pihak penyelenggara seperti dilaporkan Anadolu Agency. Mereka juga menegaskan bahwa demonstrasi pada akhir Oktober tersebut hanyalah langkah awal. "31 Oktober hanyalah permulaan," tegas inisiator gerakan tersebut.

2. Jumlah pendaftar aksi membeludak di berbagai kota

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/James Eades)

Tingginya antusiasme generasi muda di Jerman tecermin dari banyaknya komitmen kehadiran yang dihimpun melalui situs resmi kelompok unjuk rasa. Kota Cologne mencatatkan angka pendaftaran daring tertinggi dengan melampaui 12 ribu orang. Frankfurt menyusul di urutan kedua dengan catatan pendaftar sedikit di bawah 11 ribu orang.

Dukungan massa dalam jumlah besar juga terlihat di sejumlah kota besar Jerman lainnya. Hamburg dan Berlin masing-masing mengumpulkan komitmen lebih dari 8 ribu pendaftar daring. Sementara itu, Munich mencatat hampir 7 ribu pemuda yang telah mendaftarkan diri untuk ikut turun ke jalan.

3. Aksi dipastikan damai dan polisi siagakan pengamanan ketat

ilustrasi polisi (unsplash.com/AJ Colores)

Salah satu penggagas inisiatif Gen Z steht auf, Akram Selo, menegaskan bahwa seluruh rangkaian demonstrasi akan diselenggarakan secara damai. Kepada media, dia menyampaikan bahwa organisasinya mengambil jarak secara tegas dari segala potensi tindakan kekerasan.

Mengutip sumber keamanan, tabloid Bild melaporkan bahwa kepolisian di berbagai penjuru wilayah Jerman telah menerima perintah pengerahan personel serta pembagian titik pengamanan untuk aksi 31 Oktober. Petugas disiagakan untuk menjaga lokasi-lokasi yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi. Di kota-kota besar, ratusan personel polisi direncanakan akan dikerahkan, sementara meriam air dan kendaraan lapis baja diperkirakan disiagakan.

Pemantauan situasi demonstrasi dari udara direncanakan menggunakan helikopter dan pesawat nirawak (drone) kepolisian jika dibutuhkan. Selain pengamanan di area unjuk rasa, pihak berwenang berencana mencegat kelompok ekstremis yang berpotensi memicu kekerasan di stasiun-stasiun kereta api. Langkah tersebut disiapkan guna memisahkan kelompok berpotensi rusuh dari rombongan penumpang umum di stasiun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article