Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Adik Kim Jong Un Berniat Perketat Perbatasan dengan Korsel
Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)
  • Kim Yo-jong menyatakan Korea Utara akan memperketat pengamanan di perbatasan selatan setelah insiden drone asal Korea Selatan yang melanggar wilayah udara Korut.
  • Pemerintah Korsel mengonfirmasi pelanggaran udara oleh warga sipil dan berencana memberlakukan kembali zona larangan terbang serta menghidupkan pakta militer 2018 dengan Korut.
  • Meski ada sinyal damai dari Seoul, Pyongyang tetap waspada dan mempertahankan sikap militer agresif, menunjukkan komunikasi antar Korea masih rapuh namun terus berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo-jong, menyatakan bahwa negaranya akan memperketat pengamanan di sepanjang perbatasan antar Korea. Langkah ini diambil menyusul insiden penyusupan drone atau pesawat tak berawak yang berasal dari Korea Selatan (Korsel).

Dalam pernyataan yang dirilis kantor berita pemerintah KCNA pada 19 Februari 2026, Kim menyampaikan sikap kontradiktif yang memberikan apresiasi atas diplomasi Seoul. Namun, ia tetap menyampaikan peringatan militer yang keras.

1. Kim Yo-jong hargai penyesalan Korsel terkait pesawat tak berawak

Kim mengaku sangat menghargai langkah Menteri Unifikasi Korsel, Chung Dong-young, yang secara resmi mengakui adanya pelanggaran kedaulatan wilayah udara Korut oleh warga sipil. Ia juga menegaskan bahwa setiap pelanggaran kedaulatan di masa depan akan menghadapi konsekuensi mengerikan.

Meski menyambut baik penyesalan Seoul, Kim memerintahkan kepemimpinan militer Korut untuk meningkatkan kewaspadaan di seluruh sektor di sepanjang perbatasan selatan dengan Korsel.

"Ini bukan ancaman, melainkan peringatan yang jelas. Menjamin pencegahan pelanggaran berulang terhadap kedaulatan Korut adalah hal mendesak bagi keberlangsungan Korsel," ujar Kim Yo-jong, dikutip dari Yonhap.

2. Korsel telah mengonfirmasi bahwa drone warga sipil melanggar wilayah udara Korut

Ilustrasi drone. (unsplash.com/Jason Mavrommatis)

Sehari sebelumnya, Menteri Chung mengungkapkan hasil penyelidikan yang mengonfirmasi bahwa warga sipil Korsel telah mengirimkan drone ke wilayah utara sebanyak empat kali, yakni antara September 2025 hingga Februari 2026. Ini termasuk dua kejadian yang dikonfirmasi oleh Pyongyang, yang menuduh Seoul mengirimkan drone yang dilengkapi dengan peralatan pengawasan pada September dan Januari yang mendorong pemerintah Korsel untuk meluncurkan penyelidikan resmi.

Sebagai langkah menghentikan permusuhan di sepanjang perbatasan antar Korea dan antara militer mereka, Seoul berencana untuk memberlakukan kembali zona larangan terbang di perbatasan. Pihaknya juga akan menghidupkan kembali pakta militer 2018 yang sempat ditangguhkan dengan Korut.

3. Korut memantau dengan cermat pesan damai dari Korsel

Ilustrasi bendera Korea Utara (kiri) dan bendera Korea Selatan (kanan). (pixabay.com/www_slon_pics)

Ketegangan ini terjadi di tengah kebijakan baru Kim Jong Un yang ditetapkan sejak akhir 2023. Saat itu, ia mendefinisikan hubungan antar Korea sebagai interaksi antara dua negara yang yang saling bermusuhan. Meskipun ada sinyal dialog dari Seoul, Pyongyang tetap mempertahankan posisi militer yang agresif di sepanjang perbatasan.

Seorang profesor di University of North Korean Studies, Yang Moo-jin, mengatakan pernyataan Kim Yo-jong menunjukkan adanya komunikasi yang berkelanjutan, meskipun rapuh, antara kedua Korea.

"Reaksi cepat Korut menunjukkan bahwa mereka memantau dengan cermat dan secara langsung pesan-pesan konsisten dari Korsel. Pernyataan Kim menunjukkan bahwa penekanan Korsel pada upaya meredakan ketegangan dan mengejar hidup berdampingan secara damai telah diakui," ungkapnya, dikutip dari Korea Herald.

Meski begitu, Yang memperingatkan agar tidak menafsirkan terlalu dalam. Menurutnya, hal tersebut bukanlah ungkapan baru dan tidak perlu bereaksi berlebihan. Ia menekankan pentingnya Seoul menunjukkan kemauan konsisten dan langkah-langkah pencegahan untuk perdamaian, guna mempertahankan upaya membangun kepercayaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team