Ilustrasi bendera Korea Utara (kiri) dan bendera Korea Selatan (kanan). (pixabay.com/www_slon_pics)
Ketegangan ini terjadi di tengah kebijakan baru Kim Jong Un yang ditetapkan sejak akhir 2023. Saat itu, ia mendefinisikan hubungan antar Korea sebagai interaksi antara dua negara yang yang saling bermusuhan. Meskipun ada sinyal dialog dari Seoul, Pyongyang tetap mempertahankan posisi militer yang agresif di sepanjang perbatasan.
Seorang profesor di University of North Korean Studies, Yang Moo-jin, mengatakan pernyataan Kim Yo-jong menunjukkan adanya komunikasi yang berkelanjutan, meskipun rapuh, antara kedua Korea.
"Reaksi cepat Korut menunjukkan bahwa mereka memantau dengan cermat dan secara langsung pesan-pesan konsisten dari Korsel. Pernyataan Kim menunjukkan bahwa penekanan Korsel pada upaya meredakan ketegangan dan mengejar hidup berdampingan secara damai telah diakui," ungkapnya, dikutip dari Korea Herald.
Meski begitu, Yang memperingatkan agar tidak menafsirkan terlalu dalam. Menurutnya, hal tersebut bukanlah ungkapan baru dan tidak perlu bereaksi berlebihan. Ia menekankan pentingnya Seoul menunjukkan kemauan konsisten dan langkah-langkah pencegahan untuk perdamaian, guna mempertahankan upaya membangun kepercayaan.