Ekspor Senjata Israel Pecah Rekor Sepanjang 2025

- Ekspor senjata Israel tembus rekor 19,2 miliar dolar AS pada 2025, naik 30 persen dari tahun sebelumnya dengan Eropa menjadi pembeli utama dan sistem pertahanan udara paling diminati.
- Lonjakan penjualan dipicu reputasi senjata Israel yang teruji di medan perang serta pelonggaran aturan ekspor untuk memperluas pasar dan menopang kebutuhan militer di tengah konflik.
- Meski mencetak rekor, industri pertahanan Israel menghadapi sanksi dari negara Eropa dan persaingan ketat dengan produsen lain yang memperkuat produksi amunisi domestik.
Jakarta, IDN Times - Penjualan senjata Israel mencapai rekor tertinggi baru senilai 19,2 miliar dolar AS (Rp344 triliun) sepanjang tahun 2025. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 30 persen dibandingkan rekor sebelumnya yang tercatat pada 2024.
Kementerian Pertahanan Israel menyebut ekspor pertahanan ini meroket di tengah konflik yang sedang berlangsung di berbagai wilayah. Sistem persenjataan buatan Israel semakin diminati karena dianggap telah teruji langsung di medan pertempuran.
"Lonjakan tajam ekspor pertahanan ini mencerminkan kualitas industri kami dan keberhasilan operasional pasukan militer," tutur Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, dilansir JNS pada Selasa (2/6/2026).
1. Negara-negara Eropa jadi pembeli utama senjata Israel

Eropa tercatat sebagai pelanggan terbesar dengan memborong 36 persen dari total ekspor senjata Israel. Posisi berikutnya ditempati oleh kawasan Asia-Pasifik yang memborong 32 persen, disusul negara Timur Tengah dan Afrika Utara sebesar 15 persen.
Lebih dari setengah ekspor pada 2025 adalah perjanjian antarpemerintah yang nilainya mencapai sekitar 10 miliar dolar AS (Rp179 triliun). Mayoritas kesepakatan tersebut masuk dalam kategori transaksi berskala besar yang bernilai di atas 100 juta dolar AS (Rp1,79 triliun).
Sistem pertahanan udara, rudal, dan roket mendominasi produk paling dicari dengan porsi pesanan mencapai 29 persen. Sistem pengawasan dan optronik juga mengalami lonjakan permintaan drastis menjadi 22 persen dari yang sebelumnya hanya 6 persen.
Kategori lain seperti pesawat berawak dan sistem radar masing-masing menyumbang 11 persen dari total penjualan. Sementara itu, teknologi siber Israel yang kerap disorot dunia hanya mengambil porsi 2 persen dari keseluruhan ekspor Israel.
2. Senjata Israel diminati karena dianggap teruji di medan perang

Peningkatan penjualan senjata Israel dinilai terkait dengan operasi militer negara itu yang semakin intensif. Produk senjata Israel menarik minat pembeli asing karena telah diuji di Gaza, Lebanon, dan perang melawan Iran.
Pemerintah Israel juga sengaja melonggarkan aturan ekspor untuk menambah daftar negara calon pembeli potensial. Pendapatan dari sektor ini digunakan untuk membiayai kebutuhan militer Israel di tengah konflik. Selain itu, Tel Aviv berhasil memanfaatkannya untuk memperkuat diplomasi dan kebijakan luar negeri mereka.
"Fakta bahwa Israel terus memecahkan rekor ekspor pertahanan pada tahun ketiga pertempuran membuktikan tingginya penghargaan dunia," ujar Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dilansir The Times of Israel.
3. Industri senjata Israel hadapi sanksi dan kompetitor

Kendati meningkat, industri pertahanan Israel masih digempur gelombang sanksi dari sejumlah negara di Eropa. Sejumlah pemerintahan Barat telah membatalkan kontrak pembelian senjata Israel sebagai bentuk protes terhadap perang di Gaza.
Baru-baru ini, Prancis melarang perusahaan pertahanan Israel berpartisipasi dalam pameran militer Eurosatory di Paris. Akibatnya, delegasi nasional Israel akan absen di ajang jual beli senjata terbesar dunia tahun ini.
Kementerian Pertahanan Israel juga mulai merasakan ketatnya persaingan dengan produsen militer lain yang senjatanya digunakan di wilayah Ukraina. Beberapa negara Eropa kini menggenjot produksi amunisi domestik sehingga kompetisi semakin menantang.


















