Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Angka Wafat Turun, Kebanyakan Jemaah Sakit Mengeluhkan Sesak Napas

Angka Wafat Turun, Kebanyakan Jemaah Sakit Mengeluhkan Sesak Napas
Sebuah ambulans terparkir di depan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Intinya Sih
  • Angka kesakitan dan kematian jemaah haji Indonesia 1447 H/2026 M menurun signifikan dibanding tahun lalu, dengan total wafat sekitar 134 jiwa dan banyak pasien telah dinyatakan sembuh.
  • Kasus terbanyak pasca-Armuzna adalah sesak napas dan serangan jantung, terutama dialami jemaah lansia dengan penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, atau gangguan pernapasan.
  • Penerapan regulasi istitha’ah kesehatan serta skema Tanazul mempercepat pemulangan jemaah yang baru pulih, membantu menekan risiko sakit ulang dan menjaga keselamatan selama kepulangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Makkah, IDN Times – Fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) senantiasa menjadi titik kritis bagi kondisi fisik jemaah haji Indonesia. Kelelahan ekstrem kerap memicu kambuhnya penyakit bawaan. Kendati demikian, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI membawa kabar baik: tren angka kesakitan dan angka kematian jemaah haji pada musim 1447 H/2026 M ini mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data terakhir yang dirilis, wafatnya jemaah berjumlah 134 jiwa. “Sampai tanggal yang sama, tahun lalu jumlah jemaah yang meninggal sudah mencapai 267 orang, sedangkan tahun ini berada di angka sekitar 130-an," ujar Dahnil, Sabtu (30/5/2026).

Sementara, data dasbor operasional Kemenhaj yang diakses pada Sabtu, 6 Juni 2026 pukul 09.00 Waktu Arab Saudi (WAS), menunjukkan penanganan medis di lapangan. Tercatat sebanyak 1.074 jemaah haji yang sebelumnya sakit telah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang, sementara jemaah yang masih dalam perawatan aktif berada di angka 235 orang.

Terkait sebaran wilayah perawatan, mayoritas jemaah atau sekitar 66,46 persen dirawat di wilayah Makkah, disusul Madinah (17,04 persen), Mina (7,03 persen), dan Jeddah (3,90 persen). Dari segi usia, pasien lanjut usia (lansia) masih mendominasi fasilitas perawatan.

1. Sesak napas dan serangan jantung pasca-Armuzna

Infografis kesehatan jemaah haji per 6 Juni 2026 menampilkan data kesembuhan, distribusi jenis kelamin, usia, dan lokasi perawatan di Makkah, Madinah, serta Jeddah.
Infografis kesehatan jemaah haji per 6 Juni 2026 menunjukkan 1.074 jemaah telah sembuh dan 235 masih dirawat. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj RI, dr. Dani Pramudya, mengungkapkan bahwa pasca-Armuzna, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah mencatat lonjakan pasien yang didominasi oleh kasus sesak napas dan serangan jantung.

"Kasus yang terbanyak memang sesak napas ya. Jemaah kita yang usia lanjut memang ada kendala di pernapasan. Banyak dari mereka yang kecapekan, memicu sesak. Terutama bagi yang punya riwayat batuk lama atau TBC dari daerah asalnya, paru-parunya rentan dan terpicu oleh kelelahan," jelas dr. Dani kepada Tim Media Center Haji (MCH) di KKHI Makkah, Kamis (4/6/2026).

Faktor kedua yang paling banyak ditangani adalah serangan jantung, yang umumnya menyerang jemaah dengan komorbid (penyakit penyerta) hipertensi (darah tinggi) dan diabetes (kencing manis).

"Yang dari darah tinggi dan kencing manis itu banyak. Bahkan ada yang malam-malam kakinya terbakar melepuh karena menginjak aspal panas tanpa alas kaki dan dia tidak terasa karena komorbid gulanya tinggi," ungkap dr. Dani.

Secara akumulatif, dr. Dani menyebutkan bahwa pasien rawat inap pasca-Armuzna di KKHI Makkah saat ini menyentuh angka 210 pasien. Angka ini sebenarnya lebih kecil jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang bisa menembus 300 jemaah.

2. Penurunan angka Jemaah sakit berkat istitha'ah

20260426_135537.jpg
Suasana di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Klaim penurunan jumlah jemaah sakit selaras dengan menurunnya angka kematian. Dr. Dani membeberkan bahwa hingga hari ini, total jemaah yang wafat berada di angka 210 jemaah.

"Untuk tahun lalu di hari yang sama, itu ada 260 jemaah yang wafat. Jadi memang sudah turun drastis," tegasnya.

Apa rahasianya? Kemenhaj meyakini bahwa penurunan angka kesakitan dan kematian ini adalah buah manis dari penerapan regulasi istitha'ah (kemampuan) kesehatan yang diperketat sejak di Tanah Air.

"Kebijakan istitha'ah itulah yang benar-benar berkesan. Di saat embarkasi, sudah memotong jemaah-jemaah yang tidak layak terbang. Ada hampir 300 calon jemaah yang tidak diloloskan. Alhamdulillah dengan pendekatan istitha'ah ini, angka kesakitan berkurang dan tren keparahan penyakit membaik," paparnya bangga.

3. Skema pemulangan jemaah sakit (Tanazul)

Seorang pejabat Kementerian Haji Indonesia mengenakan seragam krem sedang memberikan keterangan kepada wartawan di depan papan Klinik Kesehatan Haji Indonesia Makkah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj RI, dr. Dani Pramudya (Dok. MCH 2026)

Bagi jemaah yang baru saja pulih atau dinyatakan laik terbang, KKHI dan Kemenhaj langsung menerapkan skema percepatan kepulangan atau yang dikenal dengan Tanazul. Jemaah ini tidak perlu menunggu jadwal kloter asalnya jika kloter tersebut pulangnya masih lama.

"Untuk pemulangan ini, apalagi jemaah yang baru sakit, kita dahulukan. Walaupun dia belum sampai ke Madinah (untuk ibadah Arbain), tetap kita usahakan cepat dipulangkan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan," jelas dr. Dani.

Pihak KKHI telah menyiapkan tim khusus untuk berkoordinasi dengan petugas kloter. Jemaah yang bersangkutan akan dititipkan pada kloter dari embarkasi yang sama namun memiliki jadwal penerbangan lebih awal ke Tanah Air. Pertimbangan medisnya jelas: jemaah yang baru recovery rentan mengalami stres atau kelelahan kembali jika dibiarkan berlama-lama menunggu di Arab Saudi.

Sebagai penutup, dr. Dani mewanti-wanti jemaah yang tengah bersiap pulang agar tidak memforsir diri.

"Pesan kami, jemaah harus banyak istirahat dan makan yang cukup. Jangan lakukan kegiatan yang tidak perlu yang membuat capek. Sempat ada kasus jemaah pas mau pulang malah jadi tambah sakit karena telat makan dan kepikiran," pungkas dr. Dani.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila

Related Articles

See More