Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di depan Temple of Heaven di Beijing. (AFP/Pool/BRENDAN SMIALOWSKI)
Langkah AS terhadap hubungan ekonomi China-Iran juga berpotensi memengaruhi hubungan Washington dan Beijing. Trump dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan dengan Xi pada 24 September, yang akan menjadi pertemuan tatap muka kedua mereka untuk menurunkan ketegangan hubungan AS-China sejak perang terhadap Iran dimulai.
Zichen Wang, wakil sekretaris jenderal Center for China and Globalization (CCG), mengatakan baik Beijing maupun Washington kemungkinan tidak ingin persoalan Iran mendominasi agenda pertemuan Trump dan Xi.
“Kecuali langkah-langkah AS menjadi sangat luas atau secara langsung menargetkan kepentingan utama China, kedua pihak kemungkinan akan berusaha agar perselisihan ini tidak menguasai agenda yang lebih luas,” kata Wang.
Meski demikian, ia mengatakan sikap China yang menahan diri tidak berarti Beijing tidak akan merespons. Menurutnya, China semakin menunjukkan kesediaan mengambil tindakan balasan ketika kebijakan sepihak AS berdampak secara material terhadap perusahaan atau kepentingan China lainnya.
Iran sendiri telah mengancam akan melakukan pembalasan terhadap negara-negara yang mendukung langkah AS. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei pada Sabtu memperingatkan bahwa negara mana pun yang ikut menerapkan sanksi akan dianggap sebagai musuh. Ia juga mengancam tidak setetes pun minyak akan keluar dari Teluk apabila negara-negara tetangga Iran bergabung dengan kampanye AS.
Erickson menilai sanksi AS dapat membuat hubungan ekonomi China-Iran menjadi lebih sulit dan mahal, tetapi Washington kemungkinan tidak dapat menghentikan Beijing apabila China memutuskan mempertahankan hubungan dengan Teheran.
“Sanksi AS benar-benar dapat memaksa perusahaan melakukan de-risk untuk menghindari paparan, tetapi akan selalu ada entitas yang bersedia mengisi peran tersebut,” kata Erickson.
Ia juga meragukan tekanan ekonomi saja dapat membuat pemerintahan Trump mencapai tujuan perangnya terhadap Iran. Menurutnya, AS perlu menggunakan seluruh instrumen tekanan ekonomi yang tersisa secara bersamaan jika ingin menghasilkan hasil yang signifikan.
“Kecuali pemerintahan Trump bersedia membakar jembatan-jembatan penting dan menggunakan semua pengungkit perang ekonomi yang tersisa secara bersamaan, tidak ada dasar yang masuk akal untuk menyatakan bahwa hal itu akan mampu menghasilkan kemenangan yang tidak dapat dicapai melalui perang kinetik,” ujar Erickson.