Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Gagalkan Pengiriman Minyak Iran Lewat Jaringan Shadow Fleet
AS cegat kapal komersial Iran yang diduga langgar sanksi. (AFP/US Central Command)
  • AS mencegat kapal tanker Iran bernama Sevan di Laut Arab sebagai bagian dari operasi CENTCOM untuk menegakkan sanksi internasional dan memutus sumber pendanaan energi Teheran.
  • Kapal Sevan termasuk dalam shadow fleet berisi 19 supertanker yang diduga mengangkut minyak dan gas Iran secara ilegal, dengan hasil penjualan digunakan untuk mendanai aktivitas militer Iran.
  • Sejak blokade maritim diperketat, 37 kapal telah dialihkan karena muatan terlarang, menunjukkan pengawasan ketat AS di Laut Arab dan Selat Hormuz yang berdampak pada stabilitas perdagangan energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mencegat sebuah kapal komersial yang diduga melanggar sanksi internasional di Laut Arab. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut kapal tersebut mencoba menghindari blokade maritim terhadap ekspor Iran.

Dalam pernyataan resmi pada Minggu (26/4/2026), CENTCOM mengumumkan operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memutus sumber pendanaan Teheran, khususnya dari sektor energi yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Iran.

Kapal yang diidentifikasi sebagai ‘Sevan’ disebut sebagai bagian dari jaringan yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan. Armada ini terdiri dari kapal-kapal tanker yang digunakan untuk mengangkut minyak dan gas Iran secara ilegal guna menghindari sanksi internasional.

Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer dan politik antara AS dan Iran, serta upaya Washington untuk memperketat pengawasan jalur laut strategis, termasuk Laut Arab dan Selat Hormuz.

1. Operasi militer di perairan internasional

kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pencegatan dilakukan oleh helikopter Angkatan Laut AS yang diluncurkan dari kapal perusak berpeluru kendali USS Pinckney. Operasi berlangsung di perairan internasional dan dilakukan sebagai bagian dari patroli rutin yang ditingkatkan.

Menurut laporan, helikopter tersebut berhasil menghentikan kapal target tanpa insiden besar. CENTCOM menyatakan, awak kapal segera merespons dan mematuhi instruksi dari militer AS.

Kapal tersebut kini diarahkan untuk kembali ke pelabuhan Iran dengan pengawalan ketat dari angkatan laut. Langkah ini menunjukkan kontrol operasional AS yang semakin kuat di jalur pelayaran strategis kawasan.

Pencegatan ini juga menegaskan AS tidak hanya mengandalkan sanksi ekonomi, tetapi juga kekuatan militer untuk memastikan kepatuhan terhadap pembatasan internasional terhadap Iran.

2. Target “Shadow Fleet” dan aliran dana Iran

potret bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)

CENTCOM menjelaskan, kapal Sevan merupakan bagian penting dari shadow fleet, yang terdiri dari 19 supertanker. Armada ini disebut berperan dalam mengangkut produk energi Iran secara ilegal ke pasar global.

Departemen Keuangan AS sebelumnya telah memasukkan kapal-kapal dalam jaringan ini ke dalam daftar sanksi. Tujuannya adalah menghentikan aliran miliaran dolar dari penjualan minyak dan gas Iran.

Menurut CENTCOM, pengiriman tersebut mencakup produk seperti propana dan butana, yang menjadi komoditas penting dalam perdagangan energi global. Pendapatan dari sektor ini dinilai digunakan Iran untuk mendanai aktivitas militer dan pengaruh regionalnya.

Upaya ini menjadi bagian dari strategi lebih luas Washington untuk “mengeringkan” sumber pendanaan Iran, sekaligus membatasi kemampuan negara tersebut dalam mempertahankan operasi militernya.

3. Skala blokade dan dampak regional

Selat Hormuz (Wikipedia.com)

Dalam pernyataannya, militer AS mengungkapkan sejak penerapan blokade maritim yang diperketat, setidaknya 37 kapal komersial telah dialihkan karena membawa muatan terlarang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran. Angka ini mencerminkan skala operasi pengawasan yang terus meningkat di kawasan, khususnya di Laut Arab dan Selat Hormuz—jalur vital bagi perdagangan energi global.

Pengawasan ketat ini tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas rantai pasok global. Selat Hormuz sendiri dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, menjadikannya titik krusial dalam ekonomi global.

Langkah AS ini menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kontrol atas jalur laut strategis di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, sekaligus memastikan sanksi ekonomi tetap efektif di tengah dinamika konflik yang terus berkembang.

Editorial Team