ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Laporan The Guardian menyebut pejabat militer senior AS menyarankan Presiden Donald Trump mengakhiri kampanye pengeboman karena dinilai telah mencapai batas efektivitas. Laksamana Bradley Cooper menyampaikan daftar sasaran di Iran hampir habis, sementara operasi tempur lanjutan hanya memberi nilai tambahan yang minim dan pejabat administrasi turut memperingatkan stok amunisi, termasuk pencegat Patriot serta rudal jelajah Tomahawk, semakin menipis.
Pemberitaan NPR menjelaskan penghentian serangan terjadi setelah hampir dua pekan operasi AS yang menyasar lokasi pesisir dan infrastruktur Iran sebagai respons atas penembakan kapal-kapal di Selat Hormuz. Pentagon belum mengungkap waktu pasti penghentian itu, sedangkan Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menyatakan Trump tetap mengutamakan jalur diplomatik sambil mempertahankan seluruh opsi apabila Iran kembali melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu.
Menurut laporan Axios, penilaian Cooper ikut memengaruhi keputusan Trump menangguhkan serangan setelah Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Joint Chiefs of Staff Jenderal Dan Caine memperingatkan risiko dimulainya kembali operasi militer dalam pertemuan di Ruang Oval pada Jumat (24/7/2026). Trump kemudian membatalkan rencana serangan baru, menyampaikan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan semakin serius, meski pada malam harinya ia mengaku belum percaya Iran siap mencapai kesepakatan walau tetap bersedia mendengarkan.
Laporan NBC dalam acara Meet the Press menyebut Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz mengatakan serangan tambahan belum dikesampingkan. Presiden juga disebut tetap membuka semua opsi.