Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan akan melakukan penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan Arab Saudi dalam tragedi 9/11 yang terjadi pada 2001. Sebab, Trump mengatakan dirinya ingin memenuhi permintaan dari warga AS yang keluarganya menjadi korban dalam tragedi nahas tersebut.
Trump Mau Selidiki Dugaan Keterlibatan Arab Saudi di Tragedi 9/11

- Presiden AS Donald Trump menyatakan akan meninjau dugaan keterlibatan Arab Saudi dalam tragedi 9/11 setelah menerima permintaan keluarga korban.
- Serangan Al-Qaeda pada 11 September 2001 melibatkan pembajakan empat pesawat, menewaskan 2.977 orang, dan tercatat sebagai serangan teroris terparah dalam sejarah AS.
- Keluarga korban telah bertahun-tahun mendesak penyelidikan terhadap Arab Saudi, dengan dugaan ada pejabat Saudi yang membantu pembajakan; Terry Strada menilai Trump melindungi Riyadh.
"Saya akan melihatnya setelah kembali (ke AS). Saya tahu mereka (keluarga korban 9/11) telah meminta kepadaku pada Jumat," kata Trump kepada wartawan di Irlandia pada Minggu (13/9/2026) sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One untuk terbang kembali ke AS, seperti dikutip Jerusalem Post, Senin (14/9/2026).
1. Sekelompok teroris membajak empat pesawat penumpang AS di Tragedi 9/11

potret pesawat American Airlines (pexels.com/Jeffry Surianto) Sebagai informasi, 9/11 sendiri merupakan tragedi pembajakan pesawat oleh kelompok teroris Al-Qaeda yang terjadi pada 11 September 2001. Ketika itu, sekelompok teroris membajak empat pesawat penumpang yang terdiri dari American Airlines Flight 11, American Airlines Flight 175, American Airlines Flight 77, dan United Airlines Flight 93. Saat melakukan pembajakan, para teroris tersebut meminta pilot dari masing-masing pesawat untuk menabrakkan pesawatnya ke sejumlah lokasi berbeda.
Imbasnya, pesawat American Airlines Flight 11 dan American Airlines Flight 175 ketika itu terpaksa menabrakkan dirinya ke gedung kembar World Trade Center di New York. Sementara itu, pesawat American Airlines Flight 77 dan United Airlines Flight 93 masing-masing menabrakkan dirinya ke Kantor Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) dan ke sebuah lapangan terbuka di Kabupaten Somerset, Negara Bagian Pennsylvania.
2. Tragedi 9/11 menjadi insiden serangan teroris terparah dalam sejarah AS

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Renan Tagliaferro) Dilansir laman Miller Center, tragedi 9/11 ini memakan korban tewas sebanyak 2.977 orang. Dari jumlah tersebut, beberapa di antaranya adalah warga negara asing. Ketika itu, tragedi ini tidak hanya menjadi berita besar di AS, tetapi juga di seluruh dunia. Semua media kala itu menyoroti insiden tersebut.
Tragedi 9/11 ini lantas menjadi insiden serangan teroris terparah dalam sejarah AS. Oleh karena itu, tragedi nahas tersebut diperingati setiap tahunnya oleh warga AS di New York. Upacara peringatan peristiwa bersejarah tersebut sudah di gelar di New York pada Jumat (11/9/2026) pekan lalu.
3. Warga AS sudah bertahun-tahun mendesak pemerintah selidiki Arab Saudi soal tragedi 9/11

Batu nisan berisi nama-nama korban tragedi 9/11 yang terjadi pada 2001. (pexels.com/Victor Zhang) Warga AS sendiri sebetulnya sudah lama mendesak negaranya untuk menyelidiki keterlibatan Arab Saudi dalam tragedi 9/11. Sebab, mereka menduga Riyadh menjadi salah satu dalang dalam tragedi itu. Mereka menduga ada seorang pejabat muslim ekstremis dari Arab Saudi yang kala itu membantu para teroris untuk membajak empat pesawat.
Seorang warga AS yang suaminya menjadi korban dalam tragedi 9/11, Terry Strada, menuduh Trump sengaja melindungi Arab Saudi dari dugaan keterlibatan tersebut. Sebab, Riyadh merupakan salah satu sekutu dekat Washington. Oleh karena itu, ia mendesak Trump agar segera menyelidiki keterlibatan Arab Saudi dalam tragedi 9/11 dan meminta Riyadh untuk berhenti berbohong.
“Presiden AS telah memilih untuk melindungi warga (Arab) Saudi daripada berdiri bersama keluarga korban 9/11. Ini adalah pengkhianatan demi pengkhianatan. Presiden Trump masih bisa mengubah itu," ujar Strada saat diwawancara The New York Times dikutip The Guardian.





















