“Benar, baru tahu kemarin,” imbuhnya.
Pengamat: Tak Etis Menteri Dicopot Hanya Lewat Pemberitahuan Telepon

- Pengamat Kunto Adi Wibowo menilai pencopotan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melalui telepon tidak etis dan seharusnya mengikuti jalur protokoler serta birokrasi.
- Menurut Kunto, pencopotan mendadak dapat membangun citra ketegasan Prabowo, tetapi juga memicu kecemasan di kalangan menteri dan spekulasi publik.
- Purbaya mengonfirmasi pemberitahuan pencopotannya disampaikan Mensesneg Prasetyo Hadi saat ia rapat dengan DPD; masa jabatannya berlangsung satu tahun enam hari.
Jakarta, IDN Times - Analis komunikasi politik dari Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo, menilai tak pantas dan tak etis pencopotan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dilakukan hanya dengan pemberitahuan melalui telepon. Sebab, pencopotan yang mendadak tersebut menunjukkan ada masalah dan tak bisa diselesaikan, maka menteri tersebut harus diganti.
Padahal, kata Kunto, pemecatan bisa dilakukan lewat jalur protokoler dan sesuai birokrasi, meski pun menteri merupakan pembantu presiden.
"Seharusnya ada rapat kabinet yang rutin dan diumumkan di situ. Atau bila itu dilakukan di luar rapat kabinet yang rutin, mungkin bisa memanggil secara khusus dan berdiskusi. Setelah itu dijelaskan juga kepada publik kenapa menteri ini harus di-reshuffle. Kemudian, harapannya apa bagi menteri yang baru," ungkap Kunto kepada IDN Times melalui telepon, Selasa (15/9/2026).
Menurut Kunto, cara tersebut dinilai lebih mulus agar dapat terjadi transisi di kementerian. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada menteri yang akan dicopot, publik pun berhak tahu peristiwa yang mendorong pergantian menteri tersebut.
Pesan pencopotan Purbaya itu disampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, Senin, 14 September 2026. Saat dihubungi Prasetyo, Purbaya sedang mengikuti rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat. Usai mengangkat telepon, Purbaya tak lagi kembali untuk mengikuti rapat.
1. Prabowo diduga ingin terlihat tegas dengan mencopot menteri lewat telepon

Presiden Prabowo Subianto ketika menyampaikan pidato kunci di Forum Ekonomi Timur ke-11 di Vladivostok pada 2026. (Dok. Biro Pers Istana) Lebih lanjut, Kunto menduga cara Prabowo yang mencopot menteri hanya lewat telepon dan secara mendadak untuk mengukuhkan kesan tegas kepada pembantunya. Meskipun, para pembantunya tersebut kini berpotensi semakin khawatir dapat dipecat sewaktu-waktu.
"Prabowo mungkin menghindari ketidaknyamanan personal ketika bertemu langsung dan menyampaikan niat bakal diganti. Kedua, lebih mudah bagi Prabowo (memecat pembantunya). Selain itu, dia bisa membangun citra atau persepsi publik bahwa dia tegas semakin kuat," ungkap Kunto.
Selain itu, kata Kunto, Prabowo ingin memberikan pesan kepada para pembantunya bahwa dia lah yang memegang kekuatan dan kekuasaan. Itu pula yang menyebabkan Prabowo cenderung menolak pengunduran diri menteri dan memilih mengganti di tengah jalan.
Menurut Kunto, pergantian yang dilakukan dengan mematuhi birokrasi dapat mengurangi spekulasi di ruang publik mengenai alasan di balik pemecatan seorang menteri, dalam hal ini Purbaya.
"Sementara kalau begini, publik jadi berspekulasi. Jangan-jangan (diberhentikan) karena gak suka terhadap hal ini atau si ini. Jadi, justru komunikasi yang tegas, dingin dan tanpa kompromi menimbulkan banyak spekulasi di ruang publik," katanya.
2. Purbaya dinilai sebagai biang kerok kondisi ekonomi memburuk

Menteri Keuangan RI (2025-2026), Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Vadhia Lidyana) Di sisi lain, kata Kunto, dengan mengganti Purbaya, Prabowo seolah mengirimkan pesan bahwa kondisi perekonomian dapat membaik. Sebab, Purbaya yang dianggap sebagai pihak yang gagal menjaga kondisi perekonomian telah diganti.
"Tetapi, ini menciptakan kecemasan bagi pembantu-pembantunya yang lain. Bisa kapan saja ditelepon oleh Seskab dan Mensesneg," tutur dia.
Prabowo, kata Kunto, dinilai kondisi perekonomian Indonesia yang anjlok lantaran kegagalan dari pengelolaan Menteri Keuangan sebelumnya. Meskipun, Purbaya hanya menjalankan perintah Prabowo.
"Pesannya adalah kalau pun perekonomian Indonesia sedang tidak baik atau mendapatkan sedikit masalah, itu bukan tanggung jawab saya (presiden). Itu tanggung jawab menteri yang saya pecat. Dari bahasa politiknya sepertinya begitu. Jadi, melimpahkan semua masalah pada menteri keuangan," tutur dia.
Padahal, kata Kunto, kondisi perekonomian Indonesia yang memburuk tidak semata-mata disumbang oleh Kementerian Keuangan semata. Seharusnya, beban itu tidak hanya ditanggung oleh menteri keuangan.
3. Purbaya mengaku pesan pencopotannya disampaikan Mensesneg

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi (dok. Sekretariat Negara) Sementara, Purbaya diketahui hanya menjabat selama 1 tahun dan 6 hari. Ia menjadi menteri keuangan dengan jabatan paling singkat sejak era Reformasi.
Purbaya pun mengakui pesan pencopotannya disampaikan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi pada Senin, 14 September 2026 lewat telepon. Saat itu, Purbaya sedang mengikuti rapat dengan DPD.
“Pak Prasetyo (yang menelepon)," kata Purbaya di Jakarta, hari ini.
Purbaya menepis pemberitahuan dirinya dipecat sudah dilakukan sejak pekan lalu, saat dirinya menemui Prabowo pada Jumat, 11 September 2026. Dia mengatakan, pertemuan saat itu membahas hal lain.
“Ada diskusi, tapi masalah lain yang didiskusikan,” ucapnya
Di sisi lain, Purbaya mengaku bersyukur telah melepaskan jabatan sebagai Menkeu. Usai tak lagi menjabat di kabinet, dia mengaku ingin menghabiskan masa pensiunnya dengan memancing di belakang rumah.
“Habis ini mau pulang, mancing ikan di belakang rumah. Mancing ikan mujair, nila. Gue punya kolam di belakang, jadi bisa mancing di belakang rumah, jadi bisa ngelamun, ‘kenapa dipecat?’ Gitu," katanya, tertawa.


















