Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Balita AS Annelise Camp Meninggal usai Sengketa Hukum Hak Hidup
ilustrasi balita (pexels.com/Rene Terp)
  • Annelise Camp, balita dua tahun asal Cypress, Texas, meninggal awal Agustus 2026 setelah mengalami cedera otak parah akibat tenggelam di kolam hotel pada 25 Mei.
  • Orang tua Annelise menolak tes kematian otak yang disarankan dokter dan memperoleh perintah pengadilan sementara, karena mereka menilai putrinya masih menunjukkan respons fisik.
  • Setelah banyak fasilitas menolak rujukan, Annelise dipindahkan ke Ochsner Children's Hospital di Louisiana pada akhir Juni dan dirawat beberapa pekan sebelum meninggal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Duka mendalam menyelimuti keluarga Camp asal Cypress, Texas, Amerika Serikat (AS). Putri kecil mereka yang berusia dua tahun, Annelise Camp, dikabarkan meninggal dunia pada awal Agustus 2026 setelah bertahan hidup dari cedera otak parah. Kepergian balita malang ini mengakhiri perjuangan panjang pihak keluarga dalam mempertahankan hak hidup sang anak di ranah hukum.

Kasus ini bermula dari insiden tenggelamnya Annelise di kolam renang hotel saat liburan Memorial Day pada akhir Mei lalu. Di sisi lain, pihak rumah sakit menegaskan bahwa tes kematian otak diperlukan sebagai panduan medis untuk menentukan langkah perawatan selanjutnya, dan mereka menyatakan tidak memiliki rencana segera untuk menghentikan alat penunjang hidup bagi Annelise. Namun, kedua orang tua Annelise menolak keras prosedur tersebut demi memberikan waktu bagi putri mereka untuk pulih secara alami.

Kronologi kecelakaan tragis di kolam renang

ilustrasi kolam renang (pexels.com/Matheus Natan)

Tragedi ini bermula ketika keluarga Camp sedang berkunjung ke rumah kerabat mereka saat liburan Memorial Day pada Senin, 25 Mei 2026. Balita aktif bernama Annelise Camp tersebut tanpa sengaja terlepas dari pengawasan dan berjalan menuju kolam renang hotel tanpa pelampung pelindung. Anggota keluarga yang menyadari hilangnya Annelise segera menariknya dari dalam air dan langsung memberikan pertolongan pertama berupa CPR.

Petugas penyelamat darurat kemudian membawa korban ke Texas Children's Hospital cabang West Houston untuk mendapatkan perawatan intensif. Ayah sang balita, Johnston Camp, mengungkapkan bahwa detak jantung putrinya baru kembali normal setelah hampir satu jam proses penyelamatan berlangsung. Dilansir Fox 26 Houston, ia menyatakan komitmennya untuk tidak menyerah demi kesembuhan putrinya. Ia menuturkan, sang putri tidak pernah menyerah saat diminta melakukan sesuatu sehingga ia pun tidak akan menyerah padanya.

Pertempuran hukum menolak tes kematian otak

ilustrasi palu hukum (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Hanya tiga hari setelah dirawat, tim dokter menyatakan telah kehabisan opsi pengobatan dan menyarankan pemeriksaan kematian otak bagi Annelise. Berdasarkan hukum di Texas, seseorang yang dinyatakan mati otak secara hukum dianggap telah meninggal dan rumah sakit berhak mencabut alat bantu hidup. Keluarga menolak usulan tersebut karena menilai sang putri masih menunjukkan reaksi fisik terhadap cahaya dan dapat mencerna makanan.

Demi melindungi putri mereka, orang tua Annelise mengajukan gugatan hukum dan berhasil mendapatkan perintah penahanan sementara dari pengadilan Harris County pada akhir Mei 2026. Dilansir AP News, langkah hukum ini sempat memicu perdebatan luas terkait etika medis dan undang-undang hak hidup di wilayah setempat. Kasus ini juga menarik perhatian Jaksa Agung Texas, Ken Paxton, yang secara terbuka mendukung perjuangan keluarga tersebut di media sosial.

Pemindahan ke rumah sakit lain hingga embusan napas terakhir

ilustrasi proses transportasi medis (pexels.com/RDNE Stock project)

Setelah memenangkan perintah pengadilan, keluarga berupaya memindahkan Annelise ke fasilitas medis lain yang bersedia memberikan terapi alternatif seperti oksigen hiperbarik. Pihak Texas Children's Hospital sempat menghubungi 36 fasilitas medis lainnya untuk rujukan. Namun, 35 di antaranya menolak, dan hanya satu rumah sakit yang sempat mempertimbangkan rujukan dengan syarat Annelise harus menjalani tes kematian otak terlebih dahulu.

Akhirnya, pada akhir Juni 2026, balita tersebut berhasil dipindahkan ke Ochsner Children's Hospital di New Orleans, Louisiana, berkat bantuan koordinasi dari Jaksa Agung Texas, Ken Paxton, beserta jajarannya. Annelise mendapatkan perawatan khusus selama beberapa pekan di Louisiana sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada awal Agustus 2026.

Meskipun berakhir dengan duka, pihak keluarga merasa bersyukur karena sempat mendapatkan waktu tambahan selama dua bulan bersama sang putri. Melalui pernyataan tertulis, kakek sang balita, Steve Camp, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas dukungan doa dari masyarakat selama masa sulit tersebut.

Kepergian Annelise Camp meninggalkan duka mendalam sekaligus catatan penting bagi perkembangan hukum etika medis di Amerika Serikat. Perjuangan keluarga ini diharapkan dapat membuka jalan bagi perlindungan hak hidup pasien anak lainnya di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article