Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kepala BNPB Minta Maaf Usai Ucap Warga Hidup Normal di Tengah Karhutla

4 min read
Kepala BNPB Minta Maaf Usai Ucap Warga Hidup Normal di Tengah Karhutla
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto ketika memberikan keterangan pers soal karhutla. (Dokumentasi BNPB)
  • Kepala BNPB Suharyanto meminta maaf setelah menyebut kehidupan warga tetap normal di tengah karhutla Kalimantan, pernyataan yang dinilai tidak berempati.
  • Suharyanto menjelaskan “normal” merujuk pada aktivitas dasar seperti lalu lintas, perdagangan, dan layanan publik, bukan kondisi lingkungan atau penderitaan warga terdampak.
  • BNPB menegaskan karhutla belum selesai; kabut asap masih mengganggu kesehatan, pendidikan, penerbangan, dan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah serta Kalimantan Barat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto meminta maaf kepada publik lantaran mengucapkan kalimat yang dianggap nirempati terhadap warga di Pulau Kalimantan yang masih terdampak karhutla. Ucapan itu disampaikan oleh jenderal bintang tiga tersebut ketika menyampaikan laporan ke Presiden Prabowo Subianto saat rapat kerja secara virtual pada Rabu, 23 September 2026.

Saat itu, Suharyanto melapor ke Prabowo bahwa roda kehidupan masyarakat tetap berjalan normal meskipun masih terjadi karhutla. Suharyanto mengklarifikasi tidak berniat menyimpulkan kondisi lingkungan di Pulau Borneo telah normal dan mengabaikan kondisi faktual.

"Pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa kondisi lingkungan telah normal dan mengabaikan kondisi faktual terkait kesulitan dan penderitaan masyarakat yang terdampak. Bukan juga dimaksudkan untuk mereduksi fakta menurunnya kualitas hidup masyarakat terdampak karhutla dan kabut asap," ungkap Suharyanto di dalam keterangan tertulis dan diunggah ke akun media sosial pada Jumat (25/9/2026).

Ia mengatakan konteks kata 'normal' yang dimaksud adalah indikator terbatas terkait aktivitas dasar masyarakat, seperti lalu lintas darat, perdagangan, dan pelayanan masyarakat yang masih tetap berjalan. BNPB, kata Suharyanto, menyadari masyarakat di sejumlah wilayah khususnya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat masih menghadapi dampak serius kabut asap.

"Kualitas udara, kesehatan masyarakat, kegiatan pendidikan, penerbangan serta aktivitas lainnya di sejumlah lokasi masih terdampak," tutur dia.

  1. 1. Kepala BNPB meminta maaf karena kalimatnya membuat blunder

    Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, R
    Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, Rabu (23/9/2026) (dok. Sekretariat Presiden)

    Lebih lanjut, Suharyanto mengatakan di dalam laporan yang sama ke Prabowo, ia juga menyampaikan kabut asap di sejumlah wilayah di Kalteng dan Kalbar masih tetap tebal. Kondisi itu telah mengganggu penerbangan komersial maupun operasional udara untuk penanganan karhutla.

    Ia menggaris bawahi keberlangsungan layanan dasar dan aktivitas masyarakat menjadi salah satu gambaran situasi lapangan yang dilaporkan. Tetapi, aspek keselamatan, kesehatan, kualitas udara dan penanganan sumber karhutla tetap menjadi perhatian pemerintah. Namun, Suharyanto menyadari pilihan kata itu telah menimbulkan persepsi yang berbeda di ruang publik. Suharyanto pun meminta maaf.

    "Karena itu, saya memohon maaf kepada masyarakat terdampak karhutla jika pilihan kata yang saya gunakan dalam laporan tersebut dinilai menimbulkan kesan bahwa pemerintah menganggap kondisi masyarakat di tengah bencana kabut asap sebagai situasi yang biasa saja. Bukan begitu maksud saya," tutur dia.

    Ia memastikan BNPB bersama kementerian, pemerintah daerah, TNI, kepolisian, Manggala Agni, relawan dan seluruh unsur terkait terus bekerja keras untuk melakukan pemadaman, penanganan dampak kesehatan dan perlindungan masyarakat atas ancaman karhutla.

  2. 2. BNPB tepis kondisi karhutla telah dianggap selesai

    Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla.
    Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla. (IDN Times Rangga Efrizal)

    Di dalam keterangan itu, Suharyanto juga menepis lantaran pernyataan di rapat terbatas dengan presiden maka pemerintah menganggap karhutla telah selesai. Pemerintah, kata Suharyanto, masih melakukan penanganan serius terhadap karhutla.

    "Untuk itu, saya perlu meluruskan bahwa kondisi karhutla masih memerlukan penanganan serius dan pemerintah tidak menganggap persoalan ini telah selesai," kata Suharyanto.

    Ia mengatakan pihaknya terus memperbaiki dan mengintegrasikan data dari seluruh unsur di lapangan agar informasi yang disampaikan ke Prabowo dan masyarakat menggambarkan kondisi utuh dan akurat.

    "Keselamaan, kesehatan dan kualitas hidup masyarakat terdampak selalu menjadi prioritas utama kami," tutur dia.

  3. 3. Suharyanto pernah membuat pernyataan blunder soal banjir di Sumatra

    IMG_0349.jpeg
    Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Menhut Raja Juli Antoni di Kalteng (IDN Times/Irfan Fathurohman)

    Ini bukan kali pertama Suharyanto melontarkan pernyataan bernada blunder dan menimbulkan polemik di ruang publik. Sebelumnya, pada November 2025 lalu, Suharyanto juga mengucapkan banjir di Sumatra tidak separah yang digambarkan di media sosial.

    "Memang kemarin kelihatannya mencekam ya karena berseliweran di media sosial, enggak bisa ketemu, apa. Tapi, begitu sampai di sini sekarang, begitu rekan media tadi hadir di lokasi, kemudian tidak hujan," ungkap Suharyanto ketika memberikan keterangan pers pada 28 November 2025.

    "Coba di Sumatra Utara yang kemarin kelihatannya mencekam kan? Sekarang menjadi hal yang sangat serius tinggal di Tapanuli Tengah, yang lain relatif," imbuhnya.

    Setelah pernyataan itu menyebabkan polemik, Suharyanto tiga hari kemudian menyampaikan permintaan maaf ke publik dan Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan saat mengunjungi Desa Aek Garoga, Batang Toru.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More