Benarkah Trump Tawarkan Keringanan Sanksi kepada Iran?

Axios melaporkan Trump menawarkan keringanan sanksi dan pencairan dana Iran, tetapi Trump membantah laporan tersebut.
Komunikasi Washington dan Teheran tetap menjadi perhatian di tengah konflik dan persoalan Selat Hormuz.
Konflik turut berdampak pada kenaikan harga gas serta sejumlah produk di Amerika Serikat.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam laporan Axios disebutkan menawarkan keringanan sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklir.
Namun, Trump membantahnya melalui platform Truth Social. Ia menegaskan tidak pernah menawarkan konsesi apa pun kepada Iran seperti yang diberitakan Axios.
“Axios baru saja merilis berita yang menyebut ‘Trump’ menawarkan keringanan sanksi dan dana yang dibekukan kepada Iran. Ini tidak benar. Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka!” tulis Trump, dilansir dari AFP, Selasa (29/9/2026).
Trump juga menyebut laporan tersebut sebagai berita palsu dan meminta Axios menarik pemberitaannya.
Laporan itu muncul ketika perang di Timur Tengah masih berlangsung dan upaya untuk membuka kembali jalur komunikasi antara Washington dan Teheran terus menjadi perhatian. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu mediator dari Qatar di New York pada Senin.
1. Axios sebut Trump tawarkan keringanan sanksi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Axios sebelumnya melaporkan Trump bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan mencairkan dana Iran yang dibekukan. Sebagai imbalannya, Iran disebut harus mengambil langkah konkret terkait program nuklirnya.
Laporan Axios mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya. Tidak ada identitas pejabat tersebut yang diungkap dalam laporan yang kemudian dibantah langsung oleh Trump.
Trump menyebut pemberitaan Axios sebagai “HOAX” atau berita palsu. Ia juga meminta media tersebut menarik laporan yang menyebut adanya tawaran keringanan sanksi dan pencairan dana Iran.
Bantahan Trump disampaikan ketika hubungan AS-Iran masih berada dalam situasi tegang. Pejabat kedua negara sebelumnya telah bertemu di New York pada pekan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
2. Trump dan Iran masih buka peluang negosiasi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menari di acara kampanye pemilihan Presiden AS pada 23 Agustus 2024 di Glendale, Arizona. (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Pada Senin (28/9), kantor berita pemerintah Iran IRNA melaporkan Teheran tidak memiliki agenda pembicaraan langsung lanjutan dengan Washington. Namun, perkembangan komunikasi kedua negara masih menjadi perhatian di tengah konflik yang berlangsung.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada Axios dirinya memperkirakan pembicaraan dengan Iran akan kembali berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah sebelumnya Trump menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam konflik tersebut. Jalur perairan strategis itu biasanya menjadi rute sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, jalur tersebut disebut secara efektif diblokade oleh Teheran. Kondisi tersebut turut menjadi salah satu persoalan penting dalam perkembangan konflik dan upaya diplomatik yang sedang berlangsung.
Pertemuan Araghchi dengan mediator Qatar di New York menjadi salah satu perkembangan terbaru dalam jalur komunikasi terkait konflik. Namun, berdasarkan laporan IRNA, belum terdapat pembicaraan langsung baru yang dijadwalkan antara pejabat Iran dan AS.
3. Konflik berdampak ke harga energi AS

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Perang yang berlangsung juga berdampak pada harga gas dan sejumlah produk lain di Amerika Serikat. Harga disebut meningkat tajam sejak konflik dimulai.
Situasi tersebut terjadi ketika Trump menghadapi penurunan popularitas dalam sejumlah jajak pendapat nasional. Partai Republik yang dipimpinnya juga menghadapi kekhawatiran terkait posisi mayoritas mereka di Kongres dalam pemilihan paruh waktu yang akan digelar pada November.
Perkembangan konflik Iran dan persoalan Selat Hormuz menjadi isu penting karena jalur tersebut memiliki peran besar dalam distribusi energi global. Gangguan terhadap lalu lintas di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi.
Di tengah situasi tersebut, Trump tetap membantah bahwa dirinya telah menawarkan keringanan sanksi atau pencairan dana Iran. Untuk saat ini, laporan mengenai tawaran tersebut berasal dari Axios berdasarkan keterangan pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, sementara Trump secara terbuka menyatakan laporan itu tidak benar.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















