ilustrasi bongkahan es Arktik (pexels.com/Pixabay)
Secara tradisional, beruang kutub sangat bergantung pada es laut untuk berburu anjing laut yang menjadi sumber makanan utama mereka. Namun, fenomena pemanasan global membuat lapisan es laut musim panas menipis dan mencair lebih cepat setiap tahunnya. Kondisi ini memaksa mamalia besar tersebut menghabiskan waktu lebih lama di daratan kering tanpa akses berburu yang memadai.
Ketika berada di daratan, koloni burung laut yang sedang bersarang menjadi sasaran alternatif yang sangat menguntungkan bagi beruang kutub yang kelaparan. Ratusan telur, anak burung, hingga burung dewasa terkonsentrasi di area yang terbilang sempit. Keadaan ini memungkinkan beruang kutub mendapatkan asupan nutrisi besar dalam waktu singkat tanpa perlu menempuh perjalanan jauh.
Temuan ekologis mengenai pergeseran perilaku pemangsaan ini dipublikasikan dalam jurnal Polar Research. Seperti dilaporkan WCS Newsroom, ekolog konservasi dari Wildlife Conservation Society, Kayla Shively, memberikan pandangannya mengenai perubahan yang terjadi di habitat Arktik tersebut. "Selama berpuluh-puluh tahun pulau-pulau penghalang ini berfungsi sebagai tempat burung laut bersarang dengan tekanan yang relatif kecil dari pemangsa darat besar," ujar Shively.
Shively menambahkan bahwa kedatangan beruang kutub ke daratan menandai perubahan hubungan antarspesies di wilayah Arktik. "Apa yang kita lihat sekarang adalah ketika beruang kutub menghabiskan lebih banyak waktu di darat, hubungan tersebut berubah," ungkap Shively. "Ini adalah pengingat lain bahwa perubahan iklim tidak memengaruhi satu spesies pada satu waktu, melainkan membentuk kembali hubungan antarspesies di seluruh Arktik," tuturnya.