Netanyahu Peringatkan Turki Usai Serangan Pangkalan Udara di Suriah

- Israel mengakui menyerang pangkalan udara Abu al-Duhur di Suriah setelah mengklaim pergerakan militer Turki ke selatan mengancam keamanan nasionalnya.
- Turki dan Suriah membantah rencana pembangunan pangkalan Turki; mereka menyebut aktivitas perwira Ankara sebagai kerja sama pelatihan rutin dan mengecam serangan Israel.
- Oposisi Israel dan Amerika Serikat menilai serangan berisiko memicu eskalasi regional; Washington menyiapkan mekanisme de-eskalasi antara Israel, Turki, dan Suriah.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan peringatan keras kepada pemerintah Turki dan Suriah mengenai kehadiran militer Ankara di wilayah Suriah. Sikap tegas tersebut disampaikan setelah militer Israel melancarkan serangan udara yang menghantam pangkalan udara Abu al-Duhur di kawasan barat laut Suriah pada Selasa (18/8/20206).
Langkah militer tersebut diambil setelah Israel mengklaim mendeteksi adanya pergerakan pasukan militer Turki ke arah selatan Suriah yang dinilai dapat mengancam keamanan nasional Israel. Pemerintah Israel menegaskan tidak akan membiarkan perluasan pengaruh militer asing di kawasan perbatasan yang berpotensi membahayakan keamanan nasional mereka.
1. Israel akui lancarkan serangan udara di pangkalan militer Suriah

Pangkalan Udara Abu al-Duhur dikuasai Front al-Nosra, 11 September 2015. (Halab Today TV, CC BY 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=81035820) Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara tersirat mengakui keterlibatan pasukannya dalam serangan udara di pangkalan udara Abu al-Duhur yang terletak di dekat provinsi Idlib, Suriah. Pengakuan tersebut disampaikan ketika dia berbicara dalam sebuah podcast radio militer pada Rabu (19/8/2026). Netanyahu menjelaskan bahwa tindakan tegas terpaksa diambil karena peringatan diplomatik sebelumnya tidak dihiraukan oleh pihak terkait.
Dalam wawancara tersebut, Netanyahu menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan berdiam diri melihat pergerakan militer asing di wilayah tetangganya. "Kami tidak akan membiarkan penempatan militer Turki meluas ke arah selatan karena hal itu mengancam kami," kata Netanyahu seperti dilansir Middle East Monitor. Dia menambahkan bahwa pesan awal telah dikirimkan secara umum, tetapi pihak lawan dianggap tidak mengindahkannya sehingga pesan susulan disampaikan dengan aksi nyata.
Kantor Perdana Menteri Israel mengklaim bahwa pasukan Turki sempat melakukan inspeksi ke pangkalan udara tersebut sebelum serangan terjadi. Pemerintah Israel memandang aktivitas militer Turki di lokasi itu dapat mengubah status quo keamanan kawasan secara signifikan. Oleh sebab itu, serangan udara dilancarkan untuk merusak landasan pacu serta fasilitas penyimpanan di pangkalan udara tersebut.
Kekhawatiran Israel terhadap ekspansi Turki meningkat sejak tumbangnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024. Pemerintahan baru Suriah di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa menjadikan Ankara sebagai sekutu strategis utama yang menempatkan ribuan prajurit untuk melatih dan mendampingi pasukan Suriah. Bagi Israel, fokus potensi ancaman keamanan di perbatasan utara kini bergeser dari pengaruh Iran ke dominasi militer Turki.
2. Turki dan Suriah bantah tuduhan pembangunan pangkalan militer

potret Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Al-Shibani (THMH2011, CC0, via Wikimedia Commons) Pemerintah Turki dan Suriah memberikan respons keras terhadap tuduhan yang dilontarkan oleh pihak militer Israel. Kementerian Pertahanan Turki menegaskan bahwa tidak ada personel maupun delegasi militer mereka di lokasi pangkalan tersebut, baik sebelum maupun saat serangan udara berlangsung pada Selasa (18/8/2026). Pihak Ankara menilai serangan yang dilancarkan militer Israel merupakan tindakan gegabah yang melanggar hukum internasional.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani juga membantah tuduhan mengenai rencana pembentukan pangkalan militer tetap bagi pasukan Turki di Abu al-Duhur. Dia menjelaskan bahwa kedatangan perwira Turki beberapa hari sebelum serangan hanya bagian dari kerja sama pelatihan dan pertukaran keahlian militer rutin antar kedua negara. Menurut al-Shaibani, pangkalan udara tersebut berada dalam kondisi sebagian besar kosong dan belum beroperasi secara penuh.
Di sisi lain, komunikasi tingkat tinggi sebenarnya sempat terjadi sebelum serangan udara dilancarkan. Kepala Badan intelijen Mossad, Roman Gofman, melakukan pembicaraan telepon dengan Menlu Suriah Asaad al-Shaibani pada Jumat (14/8/2026)—empat hari sebelum serangan terjadi. Pembicaraan tersebut menjadi salah satu kontak tingkat tertinggi antara Israel dan pemerintahan baru Suriah untuk membahas kekhawatiran terkait penempatan militer Turki.
3. Amerika Serikat dan oposisi Israel soroti risiko eskalasi regional

potret Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee (U.S. Embassy Jerusalem, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Aksi militer yang disetujui pemerintah Israel ini mendapat kritik tajam dari kalangan oposisi politik di dalam negeri. Pemimpin partai Demokrat Israel, Yair Golan, menilai serangan udara tersebut sebagai langkah berbahaya. "Serangan di Suriah adalah langkah provokatif dan berbahaya yang mendekatkan kita pada konfrontasi dengan Turki serta memperdalam jurang pemisah dengan sekutu kita, terutama Amerika Serikat," tegas Golan, sebagaimana dilansir Ynetnews.
Kekhawatiran senada disampaikan oleh pemerintah Amerika Serikat melalui perwakilannya di kawasan Timur Tengah. Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah yang juga menjabat Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, menyebut serangan udara tersebut sebagai bentuk eskalasi yang tidak diperlukan di tengah proses stabilisasi kawasan. Pemerintah Amerika Serikat kini berupaya membangun mekanisme pencegahan konflik antara Israel, Turki, dan Suriah guna meredakan potensi bentrokan yang tidak disengaja.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, mengonfirmasi bahwa mekanisme de-eskalasi sedang disiapkan dan disempurnakan oleh Washington. Meski demikian, Huckabee meredam kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka antara Israel dan Turki. Menurutnya, situasi saat ini belum mengarah ke konfrontasi langsung, dan serangan Israel tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa maupun penghancuran aset militer secara signifikan.



















