Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bulan Sabit Merah Iran Minta ICC Selidiki Serangan AS di Kuhestak
gedung Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag (Tony Webster, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Bulan Sabit Merah Iran meminta ICC menyelidiki serangan rudal AS yang menghantam acara pernikahan di Kuhestak, menewaskan sedikitnya empat orang termasuk dua anak dan melukai 67 lainnya.
  • CENTCOM menyatakan tidak pernah menyerang warga sipil, tetapi Iran membantah klaim itu dan mendesak Dewan Keamanan PBB mengecam serangan yang disebut melanggar hukum humaniter internasional.
  • Serangan AS di pesisir Iran pada Selasa dilaporkan menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai 142 lainnya, memicu balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bulan Sabit Merah Iran (IRCS) telah meminta Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk menyelidiki serangan rudal Amerika Serikat (AS) yang menghantam sebuah acara pernikahan di wilayah selatan Iran. Organisasi kemanusiaan itu mengatakan, serangan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang karena menyasar warga sipil.

Sedikitnya empat orang, termasuk dua anak berusia 4 dan 16 tahun, tewas akibat serangan AS di kota Kuhestak, wilayah Sirik, pada Selasa (1/9/2026) malam. Jumlah korban tewas kemungkinan bisa bertambah mengingat beberapa dari 67 korban luka masih dalam kondisi kritis.

“Mengingat laporan bahwa lokasi tersebut merupakan tempat berlangsungnya upacara pernikahan keluarga—serta adanya warga sipil di lokasi kejadian—peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran serius berdasarkan hukum humaniter internasional dan menuntut dilakukannya penyelidikan yang independen, imparsial, menyeluruh, dan efektif," demikian surat IRCS yang ditujukan kepada ICC pada Rabu (2/9/2026).

1. Iran bantah klaim AS yang tak pernah menyasar warga sipil

bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Robert Linder)

Dilansir BBC, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengaku mengetahui laporan mengenai serangan di Kuhestak dari media Iran. Namun, pihaknya bersikeras tidak pernah menyerang warga sipil.

Pernyataan tersebut langsung ditepis oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Dalam unggahannya di platform X, ia mengungkit serangan AS di masa lalu terhadap warga sipil di Irak dan Afghanistan.

"Kenyataannya begitu mengerikan hingga propaganda Amerika pun tidak pernah berani melontarkan klaim seperti yang dibuat (CENTCOM) hari ini. Sirik bukan sekadar cerita. Warga sipil itu nyata. Para korbannya nyata," tulis Baghaei.

2. Iran bisa minta ICC usut kejahatan di wilayahnya meski bukan pihak Statuta Roma

bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Utusan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Gholamhossein Darzi, juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengecam serangan di Kuhestak.

"Republik Islam mengutuk keras kejahatan yang mengerikan dan keji ini. Penargetan dan pembunuhan warga sipil secara sengaja, termasuk anak-anak, merupakan pelanggaran berat terhadap aturan dasar hukum humaniter internasional dan termasuk dalam kategori kejahatan perang," katanya dalam sebuah pernyataan, dikutip Al Jazeera.

Baik AS maupun Iran bukanlah pihak dalam Statuta Roma ICC. Namun, kelompok hak asasi manusia Dawn mengatakan, Iran tetap dapat menerima yurisdiksi ad hoc mahkamah tersebut untuk mengusut kejahatan yang dilakukan di wilayahnya sejak tanggal tertentu.

“Dengan mengajukan deklarasi tersebut, yang berlaku sejak awal perang, Iran dapat memberikan yurisdiksi kepada ICC atas setiap serangan di wilayah Iran,” kata organisasi tersebut.

3. 18 orang tewas di Iran akibat serangan AS pada Selasa

serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025 (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Serangan di Kuhestak terjadi saat AS melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah pesisir Iran di dekat Selat Hormuz. Washington menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan sebagai respons atas upaya serangan Teheran terhadap pasukan AS dan kapal komersial yang melintas di jalur perairan tersebut.

Otoritas Iran melaporkan sedikitnya 18 orang tewas dan 142 lainnya terluka akibat serangan pada Selasa. Teheran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai kawasan Timur Tengah, termasuk Bahrain, Irak, dan Yordania.

Pada Rabu, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran.

"Itu adalah serangan yang sangat hebat tadi malam. Dan kami siap untuk melakukan serangan lagi. Kapan pun kami mau," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Lebih dari 3 ribu orang telah tewas di Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Pada Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menyerukan penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang diblokade. Namun, MoU tersebut runtuh dalam hitungan minggu, yang berujung pada kembali pecahnya pertempuran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article