Pengungsi Korban Banjir Nepal Hadapi Krisis Sanitasi

- Ribuan warga Nepal mengungsi setelah banjir bandang akibat luapan sungai menenggelamkan permukiman, sementara kamp darurat menghadapi penurunan standar kebersihan yang mengancam kesehatan kelompok rentan.
- Di Distrik Nuwakot, lebih dari 400 pengungsi berbagi tiga toilet tanpa saluran air bersih, memicu antrean panjang serta kekhawatiran terhadap privasi dan kebersihan.
- Pengungsi perempuan menghadapi krisis kebersihan menstruasi dan risiko pelecehan akibat minim privasi; PBB menyalurkan sabun serta pakaian dalam, tetapi warga masih cemas kehilangan tempat tinggal saat sekolah dibuka.
Jakarta, IDN Times - Ribuan warga terpaksa mengungsi ke sejumlah posko darurat setelah banjir bandang menerjang wilayah Nepal. Bencana alam ini dipicu oleh luapan air sungai yang menenggelamkan ribuan permukiman di bawah endapan lumpur pekat.
Kondisi kamp penampungan sementara mulai memicu krisis kesehatan baru bagi kelompok rentan. Lembaga kemanusiaan menyoroti ancaman penyakit akibat merosotnya standar kebersihan diri yang dialami para penyintas di lokasi pengungsian.
1. Fasilitas sanitasi minim di posko darurat Nuwakot
Ratusan penyintas bencana di Distrik Nuwakot kini terpaksa menempati bangunan sekolah darurat untuk berteduh. Tempat penampungan sementara ini hanya menyediakan tiga bilik toilet guna melayani kebutuhan lebih dari 400 pengungsi.
Kondisi sarana sanitasi kian memprihatinkan karena seluruh bilik belum terhubung dengan saluran air bersih. Sejumlah sukarelawan dan otoritas setempat masih berupaya menyambungkan instalasi pipa air darurat. Minimnya fasilitas pembuangan ini memicu antrean panjang setiap harinya.
"Kami sangat mengkhawatirkan masalah privasi maupun kebersihan di tempat penampungan ini," ungkap seorang pengungsi, Anju Bhujel.
2. Krisis kebersihan menstruasi bagi pengungsi perempuan
Kebersihan menstruasi menjadi persoalan serius bagi kaum perempuan di ruang kelas pengungsian. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah merespons kondisi ini dengan menyalurkan pasokan pembalut. Namun, ketiadaan tempat sampah khusus membuat pembalut bekas pakai menumpuk di sekitar area kamar mandi.
Beban penyintas perempuan bertambah karena mereka kesulitan memakai pembalut tersebut lantaran seluruh pakaian dalam hanyut terbawa arus banjir. Selain itu, keluhan juga terus bermunculan terkait tidak meratanya distribusi air minum bersih di posko darurat.
"Mereka memberi kami pembalut, tetapi kami tidak punya celana dalam. Lalu, bagaimana kami bisa menggunakannya?" keluh pengungsi bernama Yogita Tamang.
3. Ketidakpastian tempat bernaung bagi pengungsi
Petugas kemanusiaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai mendistribusikan paket perlengkapan darurat berisi sabun dan pakaian dalam untuk meredakan krisis. PBB mengingatkan bahwa minimnya privasi di lokasi penampungan yang padat sangat berisiko memicu pelecehan terhadap perempuan, sehingga dukungan psikososial menjadi sangat mendesak.
Di tengah penyaluran bantuan ini, para penyintas justru makin cemas memikirkan nasib mereka ke depan. Ketidakpastian mengenai tempat bernaung terus membayangi warga yang khawatir akan tergusur saat aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut kembali diaktifkan.
"Ke mana kami akan pergi nanti jika sekolah dibuka kembali? Kami terpaksa harus tidur di jalanan," kata seorang pengungsi, Maina Nepal.




















