Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cegah Bentrokan Perbatasan, Korsel Usulkan Dialog Militer dengan Korut
Ilustrasi bendera Korea Utara (kiri) dan bendera Korea Selatan (kanan). (pixabay.com/www_slon_pics)
  • Korsel mengusulkan dialog militer kepada Korut untuk memperjelas garis demarkasi, mencegah bentrokan tak disengaja, dan memulihkan jalur komunikasi militer.
  • Ketegangan meningkat setelah ledakan ranjau September melukai tiga tentara Korsel; Seoul menuduh Korut, sementara Pyongyang membantah dan penanda batas lama dilaporkan hilang.
  • Korsel mencatat 50 pelintasan MDL oleh Korut sepanjang 2026 di tengah pembangunan pertahanan perbatasan, sementara Pyongyang mengancam respons keras dan belum menanggapi tawaran dialog.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Korea Selatan (Korsel) resmi mengajukan proposal pembicaraan militer kepada Korea Utara pada 23 Oktober 2026. Inisiatif diplomatik tersebut bertujuan memperjelas lokasi garis demarkasi militer (MDL) dan mencegah bentrokan yang tidak disengaja di perbatasan.

Langkah tersebut dinilai penting karena kedua pihak memiliki interpretasi berbeda mengenai batas wilayah, sementara pembangunan infrastruktur pertahanan di perbatasan terus berlangsung. Upaya ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan menyusul insiden ledakan ranjau darat pada September lalu, yang melukai 3 tentara Korsel di Zona Demiliterisasi (DMZ), dilansir NHK News.

Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan dialog tersebut juga akan membahas pemulihan jalur komunikasi militer. Seoul membuka kemungkinan perundingan tiga pihak dengan melibatkan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin Amerika Serikat. Namun, belum ada kepastian apakah Pyongyang akan menerima tawaran tersebut.

1. Ledakan ranjau picu ketegangan baru

Ilustrasi wilayah perbatasan. (Unsplash.com/Utsman Media)

Militer Korsel menyebut ranjau yang meledak pada 21 September ditanam oleh Korut di selatan MDL. Seoul menuntut permintaan maaf, serta pembersihan ranjau yang masih tersisa. Namun, Pyongyang membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Wakil Menteri Kebijakan Pertahanan Korsel, Kim Hong-cheol, memperingatkan bahwa perbedaan pemahaman mengenai batas wilayah dapat meningkatkan risiko konfrontasi. Sejumlah penanda perbatasan yang ditetapkan melalui gencatan senjata Perang Korea pada 1953 dilaporkan telah hilang seiring waktu. Alhasil, memperumit penentuan lokasi garis tersebut.

2. Lonjakan aktivitas militer dan pelanggaran perbatasan

Ilustrasi pasukan tentara. (Unsplash.com/Daniel Stuben.)

Militer Korsel menyatakan bahwa Korut telah melintasi garis demarkasi sebanyak 50 kali sepanjang 2026. Aktivitas ini berkaitan langsung dengan gencarnya upaya Pyongyang memperkuat wilayah tersebut dengan pagar kawat berduri, jalan taktis, tembok anti-tank, dan benteng pertahanan lainnya.

Korsel mengaku merespons kejadian tersebut melalui tembakan peringatan dan siaran radio, sedangkan Pyongyang menolak tuduhan pelanggaran wilayah. Menurut laporan kantor berita Yonhap, militer Korsel memperkirakan Korut telah menanam sekitar 960 ribu ranjau darat di kawasan perbatasan sejak 2024.

3. Ancaman balasan dan peluang tanggapan Pyongyang

Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)

Proposal terbaru ini bukan upaya pertama Korsel untuk membuka komunikasi militer. Pada November 2025, Seoul mengajukan tawaran serupa, tetapi tidak menerima tanggapan dari Pyongyang. Sikap keras Pemimpin Korut Kim Jong Un terhadap Korsel dalam beberapa tahun terakhir turut memperkecil peluang dimulainya kembali dialog bilateral.

Ketegangan kembali meningkat setelah Kim Yo Jong, saudara perempuan Kim Jong Un, mengunjungi kawasan perbatasan. Disana, ia memperbarui ancaman pembalasan militer dan memperingatkan Korsel agar tidak mengganggu pembangunan pertahanan Korut. Ia juga menyatakan rencana mengaktifkan kembali pengeras suara propaganda anti-Korsel, serta menyiapkan langkah penanggulangan baru di sepanjang perbatasan.

Sementara itu, pejabat militer Korut Pak Jong Chon membantah pasukannya melanggar perbatasan. Pak mengancam akan memberikan respons keras terhadap tindakan yang dianggap sebagai provokasi Seoul.

"Tentara kami lebih tahu di mana garis perbatasan kami daripada siapa pun," ujar Pak saat mengunjungi kawasan perbatasan bersama Kim Yo Jong, dikutip dari Asahi Shimbun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article