Selain jumlah inovasi yang besar, kecepatan dan biaya yang lebih murah menjadi alasan utama investor riset memilih Asia. Ini memberi keuntungan bagi produsen karena bisa mempersingkat waktu peluncuran obat ke pasar.
Menurut De Germay, uji klinis di China bisa berjalan tiga kali lebih cepat dengan biaya sekitar setengahnya dibandingkan di Eropa.
Di sisi lain, pemangkasan anggaran kesehatan dan lambatnya negosiasi harga obat di Eropa dikritik tajam oleh pelaku industri. Direktur Jenderal Federasi Industri Farmasi Eropa (EFPIA), Nathalie Moll, menilai kebijakan itu sebagai langkah ekonomi yang keliru.
"Mengutamakan hal lain di luar anggaran kesehatan dan obat-obatan adalah keputusan ekonomi yang merugikan diri sendiri. Kita mengorbankan kesejahteraan jangka panjang demi keuntungan sesaat," kata Moll, dilansir EU News.
Untuk membalikkan keadaan, Presiden EFPIA, Stefan Oelrich, mendesak adanya reformasi aturan yang radikal di Eropa. Menurutnya, Eropa harus menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi tanpa birokrasi berbelit agar masyarakat tidak sulit mengakses pengobatan terbaru.