Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

China Batasi Ekspor ke 10 Perusahaan AS, Sasar Sektor Strategis

China Batasi Ekspor ke 10 Perusahaan AS, Sasar Sektor Strategis
Bendera China (unsplash.com/runningchild)
Intinya Sih
  • China membatasi ekspor barang kegunaan ganda ke 10 perusahaan AS di sektor pertahanan dan mineral strategis, termasuk MP Materials dan USA Rare Earth, sebagai respons terhadap sanksi Washington.
  • Pemerintah China juga melarang pengadaan dari 46 kontraktor pertahanan AS seperti Lockheed Martin dan Boeing Defense, memperketat hubungan dagang di sektor strategis kedua negara.
  • Kebijakan ini muncul setelah AS menambah 80 entitas China ke daftar hitam militer, memicu peningkatan ketegangan ekonomi dan teknologi antara Beijing dan Washington.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China mengumumkan pembatasan ekspor terhadap 10 perusahaan Amerika Serikat yang bergerak di sektor pertahanan dan mineral strategis, pada Senin (22/6/2026). Kebijakan tersebut merupakan respons atas langkah Washington yang memasukkan sejumlah perusahaan China ke dalam daftar hitam militer.

Selain membatasi ekspor barang kegunaan ganda, Beijing juga melarang pengadaan barang dari puluhan kontraktor pertahanan AS. Langkah ini menandai babak terbaru ketegangan ekonomi dan teknologi antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

1. China larang ekspor barang kegunaan ganda ke 10 perusahaan AS

Bendera China sedang berkibar.
potret bendera China (pexels.com/Charlie Jin)

Kementerian Perdagangan China melarang eksportir domestik menjual barang kegunaan ganda kepada 10 perusahaan asal AS. Barang kegunaan ganda adalah produk yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.

Perusahaan yang terdampak mencakup produsen tanah jarang seperti MP Materials dan USA Rare Earth, serta sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan dan kedirgantaraan. China juga memperluas cakupan aturan tersebut dengan melarang pihak ketiga di negara lain menyalurkan barang asal China kepada perusahaan yang masuk daftar sanksi.

"Organisasi atau individu di negara atau wilayah mana pun dilarang mentransfer bahan kegunaan ganda yang berasal dari China," kata konsultan rantai pasok Cameron Johnson, dikutip Al Jazeera.

Selain itu, perusahaan seperti Aveox dan Oshkosh Defense tidak lagi dapat memperoleh komponen tertentu dari China. Seluruh transaksi yang sedang berlangsung diwajibkan mengikuti ketentuan baru yang telah diberlakukan pemerintah China.

2. China boikot pengadaan dari 46 kontraktor pertahanan AS

bendera China
bendera China (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)

Dalam kebijakan terpisah, Kementerian Keuangan China melarang lembaga pemerintah membeli produk dari 46 perusahaan Amerika Serikat yang terkait dengan sektor pertahanan. Daftar tersebut mencakup sejumlah kontraktor besar seperti Lockheed Martin, Raytheon, Boeing Defense, General Dynamics, dan Anduril Industries.

Meski demikian, aturan tersebut tidak mencakup perusahaan investasi AS yang saat ini beroperasi di China. Kebijakan boikot pengadaan itu berlaku segera setelah diumumkan. Sejumlah analis menilai langkah tersebut merupakan respons yang terukur terhadap pembatasan perdagangan yang lebih dahulu diterapkan Amerika Serikat.

"Kita dapat menafsirkan ini sebagai respons balas-membalas, dan itu sesuai dengan strategi China setiap kali kita melihat eskalasi dari pihak Amerika Serikat dalam hal instrumen perdagangan dan investasi," kata analis perdagangan global Economist Intelligence Unit, Nick Marro.

Karena sebagian besar kontraktor pertahanan AS tidak memiliki pasar utama di China, dampak langsung kebijakan ini diperkirakan terbatas. Namun, langkah tersebut dinilai mempersempit peluang kerja sama bisnis di sektor strategis.

3. Ketegangan kembali meningkat setelah perluasan daftar hitam AS

Rivalitas AS-China. (Pixabay.com/mohamed_hassan)
Rivalitas AS-China. (Pixabay.com/mohamed_hassan)

Langkah Beijing muncul setelah Departemen Pertahanan AS menambahkan 80 entitas China ke dalam daftar hitam militer. Beberapa perusahaan besar yang masuk daftar tersebut antara lain Alibaba, Baidu, dan BYD. Pemerintah China menilai kebijakan itu sebagai tindakan yang merugikan perusahaan domestik dan menghambat perkembangan teknologi negaranya.

Eskalasi terbaru ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, menggelar pertemuan yang bertujuan menstabilkan hubungan bilateral dan mengurangi ketegangan perdagangan. Namun, persaingan di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, dan teknologi pertahanan masih menjadi sumber utama friksi antara kedua negara.

"Tidak ada 'gencatan senjata' dalam perang dagang Amerika Serikat dan China," ujar analis geopolitik Steve Okun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More