Bank Jakarta Akan Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Jakut

- Bank Jakarta berencana membangun biodigester komunal sampah organik di Rusunawa Rorotan dan TPS 3R Rawa Badak Utara, Jakarta Utara, melalui program TJSL.
- Teknologi biodigester akan mengolah sampah organik menjadi biogas sebagai energi terbarukan serta residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
- Dua biodigester berkapasitas total 500 kilogram per hari diproyeksikan menghasilkan 37,5 meter kubik biogas dan mengurangi 154,4 ton CO2e per tahun.
Jakarta, IDN Times – Sebagai bentuk kontribusi terhadap upaya penanganan persoalan lingkungan di Jakarta, Bank Jakarta melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), berencana membangun biodigester komunal berbasis sampah organik.
Pembangunan biodigester komunal direncanakan akan dilaksanakan di dua titik lokasi di Jakarta Utara, yakni Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara, yang ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Rusunawa Rorotan.
1. Sampah organik dapat diolah menjadi biogas

Ilustrasi warga memasak menggunakan kompor biogas dari pemanfaatan biogas melalui instalasi tangki septik komunal. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso) Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, mengatakan rencana pembangunan biodigester komunal ini merupakan salah satu langkah nyata bentuk kontribusi Bank Jakarta, dalam mendukung penanganan persoalan sampah di Jakarta, khususnya sampah organik.
"Melalui teknologi biodigester, sampah organik dapat diolah menjadi biogas sebagai energi terbarukan, serta residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik," ucapnya.
2. Jawaban tantangan pengelolaan sampah di Jakarta

Pemprov DKI perkuat RDF Rorotan untuk meningkatkan pengolahan sampah dalam kota sekaligus mengurangi dampak operasional terhadap kenyamanan warga sekitar. (Dok. Pemprov DKI Jakarta) Agus menyampaikan penanganan sampah merupakan tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi dan konsistensi dari berbagai pihak.
“Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta, untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program TJSL yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta,” ujar dia.
3. Penanganan sampah membutuhkan kolaborasi dan kesinambungan program

Drop box untuk sampah PET (IDN Times/Ayu Afria) Program ini juga merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) Bank Jakarta Tahun 2026, khususnya dalam mendukung pengelolaan limbah organik, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan pemanfaatan energi terbarukan.
Secara teknis, masing-masing biodigester dirancang untuk mengolah hingga 250 kilogram sampah organik per hari. Dengan dua unit biodigester, kapasitas pengolahan dapat mencapai 500 kilogram per hari, yang menghasilkan biogas serta residu berupa pupuk organik.
Berdasarkan kajian teknis, kedua unit biodigeser tersebut nantinya diproyeksikan akan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari, dan mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari atau 154,4 ton CO2e per tahun.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, mengatakan penanganan sampah membutuhkan kolaborasi dan kesinambungan program.
“Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian penting agar upaya penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi,” kata Arie.



















