Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cuaca Panas Ekstrem di Belgia Tewaskan 2.935 Orang
Cuaca panas (unsplash.com/Rajiv Bajaj)
  • Sciensano mencatat 2.935 kematian terkait cuaca panas ekstrem di Belgia sepanjang pertengahan Juni hingga Agustus, jauh melampaui rerata normal dan tertinggi di Eropa Barat.
  • Gelombang panas 18 Juni–3 Juli menjadi yang paling mematikan dengan 2.035 korban; suhu di atas 30 derajat Celsius selama 10 hari, malam hangat, dan polusi memperparah kondisi.
  • Lonjakan dehidrasi dan heatstroke membuat IGD kewalahan, sementara Wallonia mencatat fatalitas tertinggi; PBB memperingatkan pemanasan global akan membuat gelombang panas Eropa lebih sering.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Lembaga kesehatan masyarakat Belgia, Sciensano, mencatat lonjakan angka kematian akibat cuaca panas ekstrem sepanjang musim panas. Sebanyak 2.935 warga dilaporkan meninggal dunia, melonjak jauh di atas rerata statistik kematian normal.

Fenomena iklim ekstrem ini menempatkan Belgia di posisi teratas kasus fatalitas terkait faktor lingkungan di Eropa Barat. Kondisi krusial tersebut memantik perhatian global terkait kesiapan sistem kesehatan dalam menghadapi krisis pemanasan global.

1. Puncak suhu ekstrem hantam awal musim panas

Gelombang panas fase pertama yang berlangsung pada 18 Juni hingga 3 Juli menjadi periode terparah dengan mencatatkan 2.035 kematian. Angka tersebut 48,8 persen lebih tinggi dari ambang batas normal sekaligus mencatatkan rekor tertinggi sejak tahun 2000.

Kondisi ini terpicu oleh temperatur udara yang melonjak melebihi 30 derajat Celsius selama sepuluh hari berturut-turut. Suhu malam hari yang tetap hangat serta tingginya polusi udara kian memperburuk pemulihan daya tahan tubuh warga. Puncak kematian harian bahkan menembus angka 641 jiwa pada 27 Juni lalu.

"Di negara kita, dengan garis lintang seperti ini, fenomena ekstrem seperti ini tergolong sangat langka," tutur dokter Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit MontLégia, Arnaud Detroz, dilansir Free Malaysia Today.

2. Instalasi Gawat Darurat kewalahan akibat lonjakan pasien

Suhu ekstrem memicu gelombang pasien dehidrasi dan heatstroke hingga melumpuhkan kapasitas Instalasi Gawat Darurat (IGD). Pihak rumah sakit mencatat kedatangan armada ambulans melonjak tajam dari rerata 60 menjadi 110 unit per hari selama puncak cuaca panas.

Krisis fasilitas medis ini kian diperparah oleh minimnya penyejuk udara (AC) di sejumlah rumah sakit kawasan Wallonia, ditambah karakter bangunan tua warga yang menyimpan hawa panas. Korban jiwa tidak hanya menyasar kelompok lanjut usia, tetapi juga warga berusia di bawah 65 tahun yang memiliki penyakit bawaan.

"Kami menyaksikan langsung di IGD, ketika pasien tiba, kondisi kesehatan mereka sudah terlanjur memburuk hingga tak lagi bisa diselamatkan," papar Direktur Jenderal Federasi Layanan Kesehatan Unessa, Philippe Devos.

3. PBB peringatkan acaman krisis iklim global

Secara kumulatif, rentetan gelombang panas dari pertengahan Juni hingga Agustus menelan total 2.935 korban jiwa di Belgia. Meski demikian, grafik kematian dilaporkan berangsur melandai pada gelombang kedua dengan 535 korban, serta gelombang ketiga sebanyak 365 korban.

Wilayah Wallonia mencatatkan angka fatalitas tertinggi, disusul Flanders dan Brussel, akibat ketimpangan kesiapan infrastruktur dan kapabilitas adaptasi masyarakat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun memperingatkan bahwa pemanasan global akan membuat teror gelombang panas di Eropa terjadi kian sering.

"Sebagai dokter gawat darurat, kami terbiasa menghadapi kematian. Namun, rasanya berbeda ketika menyadari hal ini terjadi akibat kegagalan sistemik," tegas Kepala Unit Gawat Darurat Rumah Sakit MontLégia, Michèle Yerna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article