Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Banyak Negara Ingin Gabung Uni Eropa tapi Islandia Menolak, Kenapa?

Banyak Negara Ingin Gabung Uni Eropa tapi Islandia Menolak, Kenapa?
ilustrasi bendera Uni Eropa, parlemen, pemerintah (pexels.com/Christian Wasserfallen)
  • Islandia sudah terhubung ke pasar tunggal Uni Eropa melalui EEA dan Schengen, serta mendapat jaminan keamanan NATO, sehingga manfaat tambahan keanggotaan penuh dinilai terbatas.
  • Penolakan terutama dipicu perlindungan perikanan dan kedaulatan perairan; sekitar 90 persen perusahaan perikanan menolak karena khawatir tunduk pada kebijakan perikanan Uni Eropa.
  • Isu keamanan dan dinamika Arktik belum mengubah sikap publik; Islandia memprioritaskan kepentingan domestik, sementara integrasi ekonomi tidak otomatis mendorong integrasi politik penuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyak negara Eropa saat ini berlomba-lomba untuk bergabung dengan Uni Eropa karena keanggotaan dianggap bisa membawa keuntungan ekonomi, politik, hingga keamanan. Ukraina, Moldova, Montenegro, dan Albania misalnya, sedang berusaha memenuhi berbagai persyaratan agar bisa menjadi bagian dari blok tersebut.

Namun, ada hal yang cukup menarik karena Islandia justru memilih menolak membuka kembali pembicaraan mengenai keanggotaan Uni Eropa. Padahal, negara ini termasuk salah satu negara Eropa yang kaya, stabil, dan sudah sangat terintegrasi dengan pasar Eropa.

Lalu, kalau Islandia sudah mendapatkan banyak manfaat ekonomi dan keamanan tanpa menjadi anggota Uni Eropa, kenapa negara ini tetap memilih untuk tidak bergabung? Jawabannya gak sesederhana soal ekonomi, karena ada kepentingan lain yang dianggap lebih penting oleh masyarakat Islandia. Mulai dari perlindungan sektor perikanan, kedaulatan atas wilayah perairan, sampai pertimbangan politik dalam negeri ikut memengaruhi keputusan tersebut.

  1. 1. Islandia sebenarnya sudah mendapatkan banyak keuntungan dari Eropa

    ilustrasi Islandia, Eropa
    ilustrasi Islandia, Eropa (pexels.com/Atlantic Ambience)

    Kalau kamu melihat posisi Islandia, negara ini sebenarnya gak benar-benar terpisah dari sistem ekonomi Eropa. Islandia sudah menjadi bagian dari European Economic Area atau EEA yang membuatnya terhubung dengan pasar tunggal Uni Eropa. Negara ini juga berada di kawasan Schengen, sehingga dalam banyak hal masyarakatnya sudah menikmati kemudahan integrasi dengan negara-negara Eropa tanpa harus menjadi anggota Uni Eropa.

    Kondisi tersebut membuat alasan ekonomi untuk bergabung menjadi gak terlalu kuat dibandingkan negara kandidat lainnya. Ukraina atau Montenegro, misalnya, bisa mendapatkan akses pendanaan, kerangka reformasi, dan jangkar geopolitik melalui keanggotaan Uni Eropa. Sementara itu, Islandia sudah memiliki tingkat kemakmuran dan stabilitas yang relatif tinggi serta mendapatkan jaminan keamanan melalui NATO. Jadi, bagi kamu yang melihat situasinya dari sisi Islandia, pertanyaannya bukan lagi “apa yang bisa didapatkan dari Eropa?”, tapi “apa tambahan yang benar-benar didapat kalau menjadi anggota Uni Eropa?”

  2. 2. Masalah terbesar ada di sektor perikanan

    ilustrasi Islandia, Eropa, kapal laut, perairan, perikanan
    ilustrasi Islandia, Eropa, kapal laut, perairan, perikanan (pexels.com/Jón T Jónsson)

    Salah satu alasan paling kuat yang membuat masyarakat Islandia menolak keanggotaan Uni Eropa adalah sektor perikanan. Sekitar 90 persen perusahaan perikanan di negara tersebut disebut menentang keanggotaan karena khawatir harus tunduk pada Common Fisheries Policy milik Uni Eropa. Bagi Islandia, urusan perikanan bukan sekadar masalah bisnis yang bisa dihitung berdasarkan keuntungan dan kerugian.

    Perikanan punya hubungan yang sangat dekat dengan identitas nasional Islandia. Karena itu, pengelolaan wilayah perairan dianggap sebagai bagian penting dari kedaulatan negara. Mika Aaltola, anggota Parlemen Eropa asal Finlandia dari kelompok EPP, juga menilai kondisi serupa berlaku pada sektor pertanian Islandia yang bertahan di balik perlindungan tarif tinggi. Dengan kondisi lingkungan yang keras, produksi pangan primer dianggap sangat penting sehingga masyarakat gak mau kendali atas sektor tersebut terlalu banyak dibagi dengan lembaga Uni Eropa.

  3. 3. Kekhawatiran keamanan ternyata belum cukup

    ilustrasi Ukraina dan Rusia
    ilustrasi Ukraina dan Rusia (magnific.com/wirestock)

    Isu keamanan sebenarnya sempat membuat pembicaraan soal keanggotaan Uni Eropa kembali mengemuka di Islandia. Perubahan hubungan transatlantik, perang Rusia di Ukraina, dan meningkatnya persaingan di kawasan Arktik membuat persoalan keamanan Eropa terasa semakin dekat. Bahkan, ketika Donald Trump kembali membicarakan kemungkinan mendapatkan Greenland, perhatian terhadap kawasan Arktik ikut meningkat.

    Namun, menurut Tinatin Akhvlediani dari Centre for European Policy Studies, persoalan keamanan saja ternyata gak cukup untuk mengubah pilihan masyarakat Islandia. Ada pertimbangan domestik yang jauh lebih konkret dan terasa dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, pemilih harus membandingkan risiko geopolitik dengan kepentingan yang langsung berkaitan dengan kehidupan mereka. Dalam kasus Islandia, perikanan dan isu kedaulatan ternyata jauh lebih kuat dibandingkan argumen strategis untuk memperdalam integrasi Eropa.

  4. 4. Negara kaya punya pilihan selain menjadi anggota Uni Eropa

    ilustrasi Norwegia, Eropa
    ilustrasi Norwegia, Eropa (unsplash.com/André Mašek)

    Kalau kamu melihat negara seperti Islandia, Norwegia, dan Swiss, ada pola yang cukup menarik. Ketiga negara tersebut menunjukkan bahwa sebuah negara kaya tetap bisa memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan Uni Eropa tanpa harus menjadi anggota penuh. Norwegia, misalnya, telah memasukkan sekitar tiga perempat hukum Uni Eropa ke dalam peraturan domestiknya melalui EEA, tapi tetap berada di luar keanggotaan.

    Norwegia bahkan sudah dua kali menolak keanggotaan Uni Eropa, yaitu pada 1972 dan 1994. Survei pada tahun ini juga menunjukkan dukungan untuk bergabung masih berada di bawah jumlah warga yang menentangnya. Swiss pun memilih memperdalam berbagai hubungan bilateral dengan Uni Eropa daripada mengejar kursi sebagai anggota. Jadi, bagi negara-negara kaya seperti ini, mereka punya alternatif yang memungkinkan mendapatkan sebagian besar keuntungan ekonomi tanpa harus menerima konsekuensi politik dari keanggotaan penuh.

  5. 5. Penolakan Islandia jadi pelajaran untuk Uni Eropa

    ilustrasi Islandia, Eropa, kapal laut, perairan, perikanan, pelabuhan
    ilustrasi Islandia, Eropa, kapal laut, perairan, perikanan, pelabuhan (pexels.com/ArtHouse Studio)

    Penolakan Islandia tentu menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi Brussel, terutama karena Uni Eropa ingin menunjukkan bahwa dirinya tetap menarik bagi negara-negara Eropa yang makmur dan stabil. Sebelumnya, keberhasilan menarik Islandia bisa menjadi bukti bahwa Uni Eropa bukan hanya tujuan bagi negara yang membutuhkan bantuan ekonomi atau reformasi institusi. Namun, Christine Leuchtenmüller dari Konrad-Adenauer-Stiftung mengingatkan bahwa kasus Islandia sangat spesifik karena dipengaruhi sejarah panjang mengenai perikanan dan kedaulatan.

    Akhvlediani juga melihat Islandia sebagai kasus khusus, tapi tetap ada pelajaran yang bisa diambil Uni Eropa. Menurutnya, integrasi ekonomi yang sudah dalam gak otomatis membuat masyarakat ingin masuk ke integrasi politik yang lebih jauh. Karena itu, Brussels perlu menjelaskan secara lebih jelas apa keuntungan tambahan yang akan diterima sebuah negara jika menjadi anggota, mulai dari pengaruh dalam pengambilan keputusan sampai posisi strategis dalam keamanan Eropa. Dengan kata lain, Uni Eropa gak cukup hanya menjelaskan apa yang harus dilakukan negara kandidat untuk bergabung, tapi juga harus menunjukkan apa yang akan mereka dapatkan setelah menjadi anggota.

    Pada akhirnya, keputusan Islandia memperlihatkan bahwa keanggotaan Uni Eropa gak selalu menjadi pilihan otomatis bagi negara yang sudah kaya dan stabil. Ketika sebuah negara sudah memiliki akses pasar, kerja sama keamanan, dan berbagai hubungan ekonomi dengan Uni Eropa, manfaat tambahan dari keanggotaan penuh harus benar-benar terasa.

    Bagi Islandia, menjaga kendali atas perikanan dan kedaulatan nasional ternyata lebih penting daripada mendapatkan kursi di institusi Uni Eropa. Jadi, kalau kamu melihat peta politik Eropa, persoalannya gak sesederhana negara mana yang pro atau kontra terhadap Uni Eropa, melainkan seberapa besar mereka merasa perlu memiliki pengaruh dari dalam dibandingkan mempertahankan kendali dari luar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More