Diawasi PBB, Suriah Hancurkan Senjata Kimia Era Assad

- Pemerintah baru Suriah memulai pemusnahan sisa program senjata kimia era Bashar al-Assad pada 3 September 2026, dengan pengawasan PBB dan OPCW.
- Tim OPCW memverifikasi pemusnahan 42 bom udara Kategori 3, berupa amunisi dan pelontar tanpa bahan beracun, dalam pelucutan independen pertama selama sepuluh tahun.
- Investigasi menemukan fasilitas rahasia di Al Qutayfah dan Homs; 18 tersangka terkait program kimia ditahan, sementara operasi pemusnahan terganggu serangan udara Israel.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah baru Suriah secara resmi memulai proses pemusnahan sisa-sisa program senjata kimia peninggalan rezim Bashar al-Assad pada Kamis (3/9/2026). Langkah perlucutan senjata terlarang ini menjadi momentum krusial dalam memulihkan stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Pelaksanaan agenda ini menandai keterlibatan aktif PBB dalam mengawal kepatuhan Suriah terhadap konvensi senjata kimia internasional. Komunitas diplomatik global pun menyambut positif transparansi otoritas Suriah dalam menuntaskan warisan militer kelam masa lalu secara terbuka.
1. Pemusnahan puluhan bom udara diawasi tim internasional
Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) telah mengerahkan tim teknis ke Suriah. Mereka bertugas mengawasi langsung pemusnahan senjata kimia Kategori 3, yang mencakup selongsong amunisi kosong dan alat pelontar tanpa kandungan bahan beracun.
Pemusnahan fisik tersebut menyasar puluhan selongsong peledak udara yang pada masa lalu dirancang untuk menyebarkan racun mematikan. Aksi ini menjadi pelucutan senjata pertama di Suriah yang berhasil diverifikasi secara independen dalam kurun sepuluh tahun terakhir.
"Tim pengawas telah memverifikasi secara langsung pemusnahan 42 bom udara agar amunisi tersebut tidak dapat difungsikan kembali," tegas Perwakilan Tinggi PBB untuk Urusan Perlucutan Senjata, Izumi Nakamitsu, dilansir Al Jazeera.
2. Penemuan fasilitas rahasia dan bahan pembuat racun saraf
Operasi pembersihan amunisi ini berakar dari investigasi mandiri yang dilakukan pemerintah baru Suriah pada Mei 2026. Penelusuran tersebut berhasil membongkar keberadaan sejumlah fasilitas rahasia milik rezim Assad yang sebelumnya tersembunyi dari pengawasan internasional.
Otoritas Suriah segera melaporkan temuan pabrik dan gudang penyimpanan logistik di Al Qutayfah serta Homs kepada badan pengawas dunia. Langkah pembongkaran fasilitas ini dinilai sebagai wujud nyata transparansi Suriah setelah bertahun-tahun terisolasi akibat sanksi diplomatik.
"Ini merupakan proses pemusnahan senjata kimia pertama yang kami jalankan sejak negara ini terbebas dari rezim sebelumnya," ujar Duta Besar Suriah untuk PBB, Ibrahim Olabi.
3. Penahanan pejabat rezim lama
Bersamaan dengan pemusnahan material berbahaya tersebut, aparat keamanan Suriah menangkap 18 tersangka yang diduga terlibat dalam pengembangan senjata kimia di era Assad. Para tersangka, yang terdiri atas perwira tinggi militer, tokoh politik, hingga teknisi ahli, kini tengah menanti proses peradilan.
Kendati demikian, kelancaran proses pemusnahan amunisi di lapangan masih menghadapi hambatan serius. Operasi pembersihan ini kerap terganggu oleh gempuran serangan udara militer Israel yang menyasar beberapa titik strategis di wilayah Suriah.
"Melenyapkan program senjata kimia rezim Assad dan menuntut pertanggungjawaban adalah bentuk penghormatan kita terhadap masyarakat sipil Suriah yang telah menjadi korban," tegas Utusan Amerika Serikat untuk PBB, Tammy Bruce.



















